CILACAP. Suasana hangat dan syahdu menyelimuti Ly. Coffee, Cilacap, pada 31 Oktober 2026. Di tengah rangkaian Pekan Literasi Cilacap yang dihelat dari tanggal 30 Oktober hingga 1 November 2026, sebuah sesi “Human Library” pada hari kedua berhasil menghadirkan ruang perjumpaan yang intim, jujur, dan mengenyahkan jarak antarmanusia.
Acara yang terselenggara atas kolaborasi apik antara BIL Fest, Mula Space, Klub Literasi Cilacap, Pena CBC, Ly. Coffee, serta berbagai elemen lembaga pers mahasiswa dan komunitas lokal ini tidak sekadar merayakan buku fisik. Kemeriahan Pekan Literasi Cilacap sendiri sudah terasa sejak hari pertama melalui Bazar Buku (Book Store) yang menghadirkan deretan penerbit independen dan mayor terkemuka, di mana pengunjung dapat memilih atau membaca langsung buku di lokasi sejak pukul 09.00 hingga 22.00 WIB.
Suara dari Ruang Sunyi: Pertunjukan Puisi Lili Efriyanti
Puncak emosional malam itu bermula ketika sesi Human Library didahului oleh pementasan puisi bertajuk “Manusia yang Terbuang” karya Lili Efriyanti. Dengan suara yang bergetar namun penuh keteguhan, Lili membuka ruang batin audiens untuk menelusuri lorong-lorong sunyi kehidupan seorang penyintas Hidden-Disability atau disabilitas tak kasat mata.
Lili membagikan kisah perjalanannya sejak pertama kali didiagnosis Tourette Syndrome hingga harus menghadapi kompleksitas PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder). Yang membuat dada sesak, luka-luka batin tersebut justru hadir dari orang-orang terdekat yang seharusnya menjadi rumah perlindungan.
Tanpa disadari sejak awal acara, sesemat kecil Pin/Enamel berbentuk Bunga Matahari tampak menghiasi baju Lili. Simbol ini sekaligus mengenalkan kepada publik mengenai lambang internasional-yang biasanya berupa lanyard hijau bermotif bunga matahari- sebagai penanda khusus bagi penyandang Hidden-Disability. Kejujuran narasi yang dibawakan Lili membuat seisi ruangan terhanyut dalam keharuan yang mendalam, hingga seorang peserta tergerak untuk maju dan memberikan pelukan hangat di tengah jalannya acara.
Merawat Keresahan Lewat Kata dan Karya
Bagi Lili, panggung puisi dan proses berkarya bukanlah sekadar pelarian, melainkan medium penyembuhan untuk menyalurkan segala resah dan trauma. Kumpulan karya puisinya tersaji dalam bentuk instalasi yang bisa dinikmati dan dibaca langsung oleh para pengunjung Pekan Literasi. Tak berhenti pada aksara, ketangguhan itu juga ia tuangkan ke dalam bakat meronce, mulai dari memproduksi tas, kantong buku, pembatas buku, hingga gantungan kunci, melalui lapak kreatif miliknya yang bernama Meongddaerida.
Refleksi Ruang Hidup: Pengalaman Para Peserta
Sesi “Human Library” memberikan kesan mendalam bagi para peserta yang hadir, salah satunya datang dari Anggelyne perwakilan Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Politeknik Negeri Cilacap. “Jujur dari tadi itu rasanya terharu banget ya sama cerita dari tokoh Human Library,” ungkap Anggelyne. Ia juga berpesan kepada siapa pun yang tengah menghadapi tekanan hidup agar tidak takut untuk speak up dan terus tumbuh menjadi versi terbaik diri sendiri.
Hal senada turut dirasakan oleh rekan seorganisasinya, Galuh Indah. Menurut Galuh, konsep “Human Library” di Pekan Literasi ini memberikan pengalaman yang unik di mana manusia bertindak sebagai buku hidup yang menceritakan jatuh bangun serta rasa empati antarsesama. “Di sini aku juga mendapatkan banyak pesan di mana tidak semua orang yang pada awalnya mendukung kita akan bertahan sampai selesai. Jadi pesannya buat aku, aku lebih jaga-jaga lagi untuk mempercayai orang,” tutur Galuh. Ia juga mengaku mendapat pengetahuan baru mengenai makna di balik atribut lanyard atau simbol bunga matahari sebagai penanda bagi individu dengan disabilitas tak terlihat (invisible disability).
Sementara itu, Revian Nurfadewa menambahkan bahwa kegiatan ini membuka pemahaman kolektif mengenai esensi dari simbol bunga matahari tersebut. “Harapan saya ke depannya, terutama bagi teman-teman yang mengalami visible [hidden] disability, semoga mereka semua dapat menjalani hari-harinya dengan banyak dikelilingi oleh orang-orang baik di luar sana,” pungkas Revian.
Pekan Literasi Cilacap membuktikan bahwa literasi bukan sekadar mengeja huruf di atas kertas, melainkan upaya merawat empati, membaca luka sesama, dan belajar untuk bangkit bersama dalam dekapan komunitas. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan pada hari Minggu, 1 November 2026, dengan agenda bedah buku novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori serta Talk Show bersama Founder BIL Fest (Rahmi Wijaya) dan PIC Inkubasi Penulis Banyumas (Nur Fadhilah Rizqi) untuk bertemu dengan pegiat literasi di Cilacap.




