Apa yang dapat dilakukan sastra ketika masyarakat semakin jauh dari buku?
Apa yang dapat dilakukan puisi ketika kehidupan sehari-hari dipenuhi oleh pekerjaan, kekhawatiran sosial, dan hiruk-pikuk dunia digital?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terasa menggantung ketika masyarakat berkumpul dalam acara “Tadarus Sastra Ramadhan 2026” di Balai Desa Tipar Kidul, Ajibarang, Banyumas.
Acara yang diadakan pada tanggal 7 Maret 2026 itu diinisiasi oleh Kawantra The Collective Aura yang bekerja sama dengan GP Ansor dan Karang Taruna Desa Tipar Kidul, dengan dukungan penuh oleh Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB) dan Pabarayan Banyumas Dwipareka. Acara ini lahir dari sebuah kesadaran sederhana, bahwa sastra perlu kembali dipertemukan dengan masyarakat lokal pedesaan, khususnya untuk generasi muda desa.
Selama ini, karya sastra sering kali hanya di asosiasikan dengan ruang akademik ataupun pusat kebudayaan di perkotaan. Desa sering kali hanya diposisikan sebagai objek narasi hingga konsumen pasif dari adanya produk kebudayaan urban.
Ketua panitia sekaligus ketua Karang Taruna Desa Tipar Kidul, Algar Mahesa, menegaskan bahwa kegiatan ini lahir untuk merespons minimnya ruang kreativitas di wilayah pinggiran kota, khususnya di Banyumas. Dengan memilih lokasi di Desa Tipar Kidul, penyelenggara secara sadar telah memulangkan sastra ke rahim sosialnya melalui misi ganda yang fundamental, yaitu memperkenalkan sastra secara langsung kepada masyarakat desa khususnya generasi muda sekaligus memberikan penghormatan serta wadah apresiasi bagi para sastrawan di wilayah Banyumas bagian barat. Di sini, batas-batas antara “seni tinggi” dan “budaya rakyat” dilebur dalam satu frekuensi yang sama.
Pemilihan nomenklatur “Tadarus” memberikan lapisan makna pada acara ini. Dalam tradisi keagamaan Islam, tadarus merupakan proses membaca, mempelajari, dan mendalami ayat suci Al-Quran secara saksama dan berkelanjutan. Dengan menautkan bersama “Sastra” justru menimbulkan kerangka baru bahwa sastra juga bisa menjadi media tafakur diri masyarakat. Jika tadarus Al-Quran (yang menjadi pembuka dalam rangkaian acara ini) merupakan upaya guna memahami petunjuk ilahiah, maka Tadarus Sastra menjadi ikhtiar untuk memahami persoalan kemanusian melalui bahasa yang jujur.

Kehadiran sastra di desa menawarkan sesuatu yang mulai langka di era modern. Dengan karakter masyarakat Banyumas yang dikenal dengan semangat blakasuta (lugas dan apa adanya) selaras dengan esensi puisi itu sendiri yang pada dasarnya berusaha untuk menanggalkan topeng dan kepalsuan sosial. Sifat blakasuta ini memberikan landasan bagi puisi untuk menjadi ornamen saksi atas realitas hidup yang otentik. Melalui pembacaan bait-bait puisi di tengah heningnya malam, masyarakat diajak untuk masuk ke dalam ruang tafakur untuk mengenali kembali keresahan, harapan, dan kemanusiaan mereka yang paling dalam.
Salah satu fungsi strategis dalam acara “Tadarus Sastra 2026” adalah sebagai ruang apresiasi bagi para sastrawan Banyumas khususnya di wilayah bagian barat. Acara ini telah memecah pola pengakuan terhadap capaian estetik seorang penulis yang terbatas dalam lingkaran kota dengan menghadirkan para sastrawan senior langsung ke hadapan masyarakat desa.
Nama-nama besar dalam kancah sastra Banyumas turut memberikan resonansi pada malam itu. Tokoh-tokoh seperti Wanto Tirta, Edi Romadhon, Hamidin Krazan, Riswo Mulyadi, hingga Jarot Gunaidi hadir untuk memberikan legitimasi bahwa literasi di pinggiran kota juga bisa tetap menyala. Selain itu, kehadiran dari tokoh Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas seperti Jarot C. Setyoko dan perwakilan dari MGMP Bahasa Indonesia Sub Rayon 3, telah menunjukkan adanya pengakuan formal terhadap gerakan kultural berbasis desa ini.

Melalui berbagai bentuk pertunjukkan seperti pembacaan puisi, musikalisasi puisi, pantomisasi puisi, hingga eksplorasi kreatif seperti “sulap puisi” acara ini menghadirkan sastra dalam format yang lebih inklusif dan eksploratif. Dinamika ini tampak jelas melalui pembacaan puisi yang khidmat oleh para sastrawan senior seperti Wanto Tirta, Edy Pranata, Riswo, Edi Romadhon, Hamidin Krazan, Jarot Gunaidi, Sutomo, Trisnatun Abuyafi, Dewandaru Ibrahim, hingga Yanwi Mudrikah. Kehadiran para begawan sastra ini memberikan kedalaman makna pada setiap bait yang dirapalkan, mengubah kata menjadi getaran yang merasuk ke relung batin masyarakat.
Kedalaman kata tersebut kemudian diperkaya dengan adanya eksplorasi visual melalui pantomisasi puisi yang teatrikal dan kontemplatif oleh Mr. Pawons. Penampilan kinetik ini merupakan hasil kolaborasi dengan pembacaan puisi yang tajam dan khidmat oleh Yudi Bawor. Hal ini mampu menciptakan dialog antara gerak dan diksi yang memukau. Tak hanya itu, inovasi eksperimental hadir melalui sulap puisi oleh Tempolong Van Belg, sebuah metode eksploratif yang unik membuktikan bahwa sastra juga mampu tampil menghibur dan jenaka tanpa harus kehilangan estetika dan pesan reflektifnya.

Seluruh rangkaian pertunjukkan ini dibalut dalam suasana religius yang teduh berkat resonansi audio dari penampilan musik religi Wirid Ngajikustik. Alunan musik berhasil menyelaraskan frekuensi batin dengan atmosfer malam Ramadhan yang syahdu. Menciptakan harmoni antara seni pertunjukkan dengan ritus spiritual.
Di era di mana interaksi manusia semakin dimediasi oleh teknologi yang artifisial, “Tadarus Sastra 2026” hadir sebagai pengingat akan pentingnya menjaga kepekaan sosial. Dengan menghidupkan kembali tradisi membaca dan merenung di tingkat desa, kegiatan ini secara langsung ikut merawat akar peradaban kehidupan bangsa. Masyarakat desa, melalui keterlibatan Karang Taruna dan GP Ansor didorong menjadi subjek kebudayaan yang berdaulat dan mampu menarasikan nasib dan harapannya sendiri melalui bahasa yang bermartabat.
“Tadarus Sastra Ramadhan 2026” di Desa Tipar Kidul merupakan sebuah model gerakan kebudayaan yang berhasil mempertemukan idealisme estetik para sastrawan dengan kebutuhan spiritual dan sosial masyarakat desa.
Malam itu di ruang kecil aula, refleksi lahir.
Dan dari refleksi itulah, manusia perlahan belajar memahami dunia yang dijalani.
Di balai Desa Tipar Kidul, pada malam 18 bulan Ramadhan itu, puisi kembali menemukan rumahnya.




