PURWOKERTO — Di tengah hiruk-pikuk persiapan festival literasi tahunan yang dinantikan, sebuah momen reflektif penuh kehangatan spiritual berlangsung khidmat di Hetero Space pada Kamis malam (11/6/2026). Sebanyak 31 relawan terpilih berkumpul bersama jajaran manajemen inti untuk menyelenggarakan prosesi “Selametan”, sebuah ritual ucapan syukur, penyatuan visi, sekaligus menandai dimulainya perjalanan panjang kerja-kerja kebudayaan BIL Fest 2026. Di balik kesederhanaan tumpeng yang tersaji, acara ini menyimpan narasi mendalam tentang keteguhan hati, rekonsiliasi masa lalu, serta transformasi sebuah mimpi literasi yang awalnya diragukan, namun kini mewujud menjadi ruang perjumpaan kolektif yang menghidupkan.
Acara yang digagas sebagai muara persiapan teknis dan spiritual ini diawali dengan agenda Briefing Akbar. Sesi ini menjadi ruang krusial bagi ke-31 volunteer untuk menyelaraskan ritme kerja, memetakan tanggung jawab, dan memantapkan komitmen kolektif demi menyukseskan gelaran BIL Fest mendatang. Suasana Hetero Space yang akrab dan dinamis seolah mempertegas energi baru yang dibawa oleh para relawan generasi teranyar ini. Dipenuhi antusiasme, tatapan mata para peserta mencerminkan kesiapan untuk mendedikasikan waktu dan gagasan mereka bagi pergerakan literasi tanah air.
Makna Filosofis Dua Selamet: Keselamatan dan Gunung Slamet
Suasana ruang pertemuan berubah menjadi begitu emosional saat pendiri BIL Fest, Rahmi, melangkah maju memberikan sambutan pembuka. Dalam untaian kalimatnya yang sarat makna, perempuan yang akrab disapa Mbak Rahmi ini membedah alasan mendasar dibalik pemilihan nama ritual “Selametan” ini. Baginya, kata “selamet” atau selamat bukan sekadar formalitas, melainkan memiliki dua dimensi filosofis yang mengakar kuat pada doa dan identitas geografis.
Makna pertama, jelas Rahmi, adalah wujud permohonan yang tulus kepada Sang Pencipta agar seluruh elemen yang terlibat dalam BIL Fest senantiasa dianugerahi keselamatan, kelancaran, dan perlindungan sepanjang rangkaian kegiatan berlangsung. Sementara makna kedua, yang sarat akan metafora lokal, merujuk pada keagungan Gunung Slamet. Melalui analogi ini, Rahmi berharap agar apa pun yang diikhtiarkan dan dijalankan oleh seluruh tim BIL Fest tidak hanya mampu berdiri kokoh dan megah layaknya gunung, tetapi juga memancarkan tuah keselamatan serta kebermanfaatan yang meluas bagi ekosistem literasi di sekitarnya.
“Terima kasih karena kalian memilih untuk tidak berputus asa bersama kami. Kehadiran kalian di ruangan ini adalah bukti bahwa kerja literasi ini adalah kerja komunal, sebuah gerakan yang dirawat oleh hati-hati yang menolak menyerah,” ungkap Rahmi dengan mata berkaca-kaca.
Melawan Titik Nadir: Kilas Balik Keputusasaan BIL Fest 2025
Suasana kian syahdu ketika Rahmi mulai membuka lembaran memoar kelam dari penyelenggaraan BIL Fest tahun lalu. Di hadapan puluhan pasang mata volunteer yang menyimak dengan takzim, ia secara jujur mengisahkan penyesalan mendalam dan momen-momen kritis di mana dirinya hampir kehilangan harapan. Pada tahun 2025, BIL Fest berada di titik nadir terendahnya yakni sebuah konsep idealis tanpa sokongan sponsor, ketiadaan dana taktis, ditambah badai internal di mana para relawan mengundurkan diri satu per satu tepat sebelum acara dimulai.
Kondisi yang serba menghimpit tersebut sempat memantik hasrat kuat di dalam benak Rahmi untuk menyudahi pergerakan ini untuk selamanya. Namun, sebuah titik balik spiritual mengubah segalanya Ketika di tengah kepungan keraguan, muncul sebuah momentum transendental di mana ia merasa dipanggil untuk terus membangun sesuatu yang bahkan di luar batas daya nalarnya sendiri. Melalui dialog batin yang intim dan perjalanan spiritual yang personal dengan Sang Pemilik Kehidupan, tekad Rahmi yang sempat pupus kembali berkobar, memicu keberanian untuk melangkah menembus ketidakmungkinan.

Aktor di Balik Layar: Perwujudan Doa yang Menjadi Nyata
Dalam kesempatan berharga ini pula, Rahmi secara khusus memperkenalkan tokoh-tokoh kunci yang menjadi pilar kokoh di balik layar berdirinya BIL Fest batch pertama. Ia mengisahkan peran sang suami, Neo, yang pada awalnya sempat didera keraguan besar. Setiap hari, Neo selalu mempertanyakan dan menguji kemantapan tekad Rahmi. Namun, proses diskusi yang panjang justru melahirkan keyakinan baru, hingga akhirnya Neo berbalik arah memberikan dukungan total 100 persen bagi perjuangan istrinya.
Tak hanya sang suami, nama Mas Fikri (kerabat dekat Mas Neo) turut disebut sebagai sosok penolong dalam sejarah perintisan awal. Fikri dengan sukarela mengulurkan tangan, mengadopsi visi BIL Fest, dan mengurasi serta menghadirkan jajaran pengisi acara (line-up) berkualitas tinggi demi memastikan kesukseskan pergelaran BIL Fest 2025 lampau. Bagi Rahmi, BIL Fest adalah perwujudan konkret dari sebuah doa yang melampaui rasa ketidakpercayadirian, di mana Sang Pengatur Skenario mengubah keterbatasan dukungan menjadi kenyataan yang megah.
Menemukan ‘Spark’ Hingga Akhir Perjalanan
Sebelum mengakhiri sambutannya, Rahmi menitipkan sebuah pesan mendalam yang membekas di hati seluruh volunteer. Ia meminta agar ke-31 relawan ini berkomitmen untuk saling menjaga dan bertahan bersama hingga garis akhir kegiatan. Ia memotivasi mereka untuk menemukan “spark” percikan api gairah dan cita-cita pribadi yang tertanam di dalam hati masing-masing, untuk kemudian menjadikannya bagian tak terpisahkan dari doa-doa baik yang diusahakan bersama.
Prosesi penuh emosi tersebut kemudian dikunci dengan khidmatnya doa bersama yang dipimpin langsung oleh salah satu panitia, Alfin. Dalam untaian doanya, Alfin memohon agar BIL Fest senantiasa dituntun sebagai penerang di jalan yang lurus, serta mampu mentransformasikan seluruh rangkaian acaranya menjadi ladang kebermanfaatan yang inklusif bagi masyarakat luas.
Sebagai penutup yang manis dari ritus kebersamaan ini, Rahmi memotong tumpeng secara simbolis, dilanjutkan dengan sesi makan bersama yang hangat, meruntuhkan sekat, dan menyatukan seluruh hati dalam satu frekuensi perjuangan literasi yang sama. Ia juga senantiasa berharap kepada para panitia semoga mendapatkan manfaat dari berjalannya Banyumas International Literasi Festival.
“Semoga para volunteer dapat menemukan apa yang diharapkan pada Banyumas International Festival 2026,” pungkas Rahmi.
Penulis: Wiwit Ayu Puspitasari




