Pembukaan BIL Fest 2026: Upaya Dalam Menjaga Semangat Literasi di Banyumas

Alunan gendingan Jawa dari kelompok seni Sarasvati SMA Negeri 1 Purwokerto resmi membuka gelaran Banyumas Internasional Literasi Festival (BIL Fest) 2026. Suara yang dihasilkan dari dentingan bambu oleh dua siswa berpadu apik dengan lantunan tembung Jawa membuat pembukaan terasa syahdu, Jumat, (12/06/2026).

Pembukaan ini dipandu oleh Master of Ceremony (MC) Zul pada sesi kedua yang dimulai pukul 13.00 WIB. Di tengah cuaca cerah, Zul berharap semangat peserta dapat membara, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza.

Penampilan pembuka tersebut merupakan karya komposisi musik baru yang akarnya bersumber kuat dari tradisi Banyumas. Pembina Sarasvati, Uki, menjelaskan bahwa ia mengembangkan serta memadukan antara instrumen calung Banyumasan dan gamelan Jawa.

“Saya itu mengembangkan, memadukan antara calung dan gamelan Jawa. Karya ini mengusung tema pitutur kaki yang mengangkat kata-kata bijak orang zaman dahulu” ujar Uki.

Ia juga berharap kepada generasi muda untuk mau menggali nilai-nilai yang telah dituturkan oleh para pendahulu. Uki mengajak siswa asuhannya di Sarasvati yang sudah biasa berproses kreatif dengannya karena sempat mengikuti ajang perlombaan sebelumnya. Proses pengerjaan latihan intensif tersebut memakan waktu sekitar satu hingga dua minggu lamanya.

Namun, persiapan tim sempat mengalami keterbatasan karena alat musik tradisional langka bernama puncis yang ia buat sendiri belum selesai digarap. Rencana meminjam alat serupa dari pihak timpora juga batal terlaksana lantaran instrumen tersebut sedang digunakan oleh pihak lain.

Meski tanpa buncis, pementasan tetap menyajikan komposisi baru yang kaya unsur tradisi melalui penyisipan lagu pucung. Pola permainan instrumen gender, sitar, dan gambang dikolaborasikan bersama pola garapan baru serta sentuhan modern agar terdengar kekinian bagi generasi muda.

Setelah pertunjukan usai, acara dilanjutkan dengan sesi sambutan dari founder BIL Fest, Rahmi Wijaya, yang menyapa Bupati Banyumas beserta para tamu undangan. Rahmi membawa pesan penting mengenai semangat kebersamaan dan kerja komunal karena literasi tidak dapat dibangun secara mandiri.

“Terus berdoa supaya menjadikan literasi menjadi kebanggaan bagi masyarakat banyumas,” ucap Rahmi.

Ia menambahkan gerakan ini merupakan bentuk respon warga dunia dalam menjaga jalur komunikasi tetap ada karena kita semua saling terhubung. Rahmi menerangkan bahwa terdapat program unggulan pada festival ini meliputi sesi Temu Penerbit yang menghadirkan nama besar seperti Penerbit Mojok, Semut Api, Ohara, dan Mizan. Hadir pula perwakilan Ikatan Penerbit Borobudur Agensi sebagai agen literary resmi yang dinaungi langsung oleh organisasi IKAPI.

Festival yang berlokasi di Hetero Space ini menyajikan 40 bincang inspiratif selama 10 hari. Rangkaian diskusi harian tersebut dijadwalkan dari pukul 10.00 pagi hingga 21.00 malam bersamaan dengan bazar buku serta bazar UMKM.

Indikator perkembangan literasi di Banyumas diukur panitia melalui intensitas kegiatan dan jumlah pengunjung festival. Tahun lalu, festival berhasil menjaring 5.000 pengunjung dalam 7 hari, sedangkan tahun ini panitia menargetkan mampu menembus 10.000 orang.

Rahmi mengucapkan terima kasih kepada Bank Indonesia Purwokerto, OJK Purwokerto, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Terbuka Purwokerto, dan Pemkab Banyumas. Bahkan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Banyumas juga terpilih sebagai pihak yang menerima anugerah penghargaan dari BIL Fest.

Apresiasi mendalam turut disampaikan Rahmi kepada seluruh pelopor literasi di Banyumas seraya mengharapkan dukungan berupa doa, moril, maupun materi. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas, Agus Anggraito, yang hadir mewakili Bupati.

Agus membuka pidatonya dengan memekikkan slogan khas, yaitu “baca terus, terus baca, terus berkarya” di hadapan audiens. Mewakili bupati, ia mengapresiasi festival ini dan menyatakan bahwa di era modern, literasi tidak lagi dimaknai sempit sebatas membaca dan menulis.

Pemerintah Kabupaten Banyumas menyambut baik tema Selamet yang merupakan akronim mendalam dari nilai selaras, literat, dan saling menguatkan. Agus menilai BIL Fest sebagai gerakan nyata yang membuktikan bahwa kegiatan edukatif mampu dikemas menjadi ruang yang menyenangkan serta inklusif.

Ia berharap kolaborasi ini terus berlanjut karena membangun literasi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Agus menyatakan optimisme tinggi mengenai kondisi perkembangan literasi di wilayah Banyumas.

“Kalau literasi di Banyumas, kita lihat secara nyata dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan, kan sudah banyak, baik dari lembaga-lembaga pemerintah maupun komunitas-komunitas masyarakat. Pegiat literasi juga hampir sepanjang tahun kan mesti ada kegiatannya,” tutur Agus.

Berdasarkan gairah kegiatan sepanjang tahun dari berbagai lembaga dan komunitas tersebut, ia meyakini literasi di Banyumas akan semakin bagus. Mengenai pelaksanaan festival, harapan jangka panjang dari pemerintah daerah adalah terbentuknya sebuah ekosistem literasi yang melibatkan masyarakat secara aktif.

“Harapan kita terbentuknya sebuah ekosistem literasi,” jelas Agus yang menyebut unsur literasi bukan hanya menjadi tanggung jawab pihak pemerintah semata. Modal sosial Banyumas dinilai sangat kuat terbukti dengan keberhasilan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) menyabet juara di tingkat nasional.

Menghadapi tantangan era digitalisasi dan disrupsi media saat ini, Agus menitipkan pesan agar generasi muda menempatkan literasi sebagai solusi kehidupan. Seseorang baru bisa diakui memiliki tingkat literasi tinggi apabila mampu mengelola informasi dengan baik untuk menyelesaikan permasalahan sehari-hari.

Agus menjelaskan bahwa literasi merupakan sebuah solusi, esensi dasar dari kecakapan hidup masyarakat modern. Cabang literasi tersebut mencakup pengelolaan masalah dalam bidang finansial, pengelolaan urusan digital, hingga pemahaman mendalam seputar nilai urusan budaya.

“Jadi kalau kita bisa memahami bahwa literasi tidak hanya baca tulis, tapi bagaimana kita mengelola informasi untuk bisa menyelesaikan permasalahan-permasalahan dalam kehidupan sehari-hari, itu baru kita bisa mengaku orang yang punya literasi tinggi,” tambah Agus.

Ia juga mengatakan siapa yang punya literasi tinggi, dia punya solusi dalam kehidupannya. Agus mengharapkan segenap warga Banyumas memiliki kemampuan tersebut. Kemudian prosesi puncak pembukaan ditandai secara simbolis lewat pemukulan gong oleh Agus bersama Rahmi.

Acara pembukaan tersebut kemudian ditutup secara khidmat melalui pembacaan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Alvin. Ia memaknai seluruh rangkaian festival ini sebagai untaian doa literasi dan berharap diksi internasional benar-benar terwujud nyata di lapangan.

Upacara pembukaan sesi ini akhirnya selesai yang kemudian ditutup dengan agenda sesi foto bersama seluruh jajaran panitia dan tamu undangan. Penampilan musik gendingan penutup dari kelompok seni Sarasvati SMA Negeri 1 Purwokerto mengiringi akhir dari seluruh prosesi seremonial tersebut.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Redaktur Novandi Ali Akbar

Jurnalis Official Banyumas International Literacy Festival 2026. Instagram @novandiali_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *