PURWOKERTO — Perhelatan Banyumas International Festival (BIL Fest) kini telah resmi memasuki tahun kedua penyelenggaraannya. Festival tahunan berskala internasional ini digelar sebagai langkah konkret pemerintah daerah bersama komunitas literasi untuk menggairahkan kembali iklim membaca, kepenulisan, serta kebudayaan di wilayah Banyumas Raya. Diselenggarakan di jantung Kota Purwokerto, festival ini berhasil menyedot perhatian ribuan pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, akademisi, hingga masyarakat umum yang memadati area stan pameran sejak hari pertama dibuka, Kamis, (11/06/2026).
Dalam salah satu agenda utamanya yang berlangsung pada sore hari, panitia penyelenggara menggelar sesi bincang publik eksklusif. Agenda ini menghadirkan seorang penulis regional asal Majenang, Cimanggu, yang rekam jejak karyanya telah berhasil menembus pasar internasional, Mas Koko Ganteng, sebagai narasumber utama. Sesi tersebut dipadati oleh audiens yang antusias untuk mendengarkan langsung pemaparan mengenai dinamika industri buku fisik di tengah gempuran teknologi modern.
Kehadiran penulis yang mengawali ketertarikannya di dunia pustaka saat menjadi staf di perpustakaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Komputama Majenang ini memberikan sudut pandang sosiologis yang sangat kaya mengenai perkembangan budaya baca masa kini. Berangkat dari pengalamannya mengelola literasi di tingkat sekolah hingga sukses menerbitkan buku best-seller di tingkat regional, ia memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi pelaksanaan festival ini. Menurutnya, Banyumas International Festival telah berhasil menyediakan wadah yang inklusif untuk membangun ekosistem literasi yang sehat di tingkat daerah, sekaligus menjembatani para penulis lokal untuk mengenalkan karya mereka ke panggung yang lebih luas.
Dalam pemaparannya di panggung utama BIL Fest, Mas Koko Ganteng secara khusus memberikan analisis mendalam mengenai karakteristik dan atmosfer literasi yang berkembang di Kota Purwokerto. Sebagai seorang penulis yang saat ini berdomisili dan berkarya di Yogyakarta, ia melihat adanya kesamaan linier yang sangat kuat antara kedua wilayah tersebut dalam hal penerimaan dan penyerapan produk-produk kebudayaan. Karakteristik masyarakat Purwokerto yang terbuka, kritis, dan apresiatif terhadap karya seni dinilai menjadi modal utama mengapa iklim literasi di kota ini tumbuh dengan sangat subur.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa Purwokerto memiliki daya tarik magis tersendiri yang membuat para pekerja kreatif merasa betah untuk bertukar pikiran. Ruang-ruang diskusi tumbuh secara organik di berbagai sudut kota, didukung oleh populasi mahasiswa yang besar dari berbagai perguruan tinggi setempat. Faktor geobudaya inilah yang dinilai memperkuat posisi Purwokerto sebagai pusat peradaban baru di jalur selatan Jawa Tengah.
“Katanya Purwokerto itu Jogjanya kedua. Karakteristiknya hampir sama, 11-12. Jadi sangat menyenangkan bagi saya untuk bisa datang kembali ke Purwokerto dan terlibat langsung dalam kemeriahan acara BIL Fest tahun ini,” ujarnya.

Di samping membahas mengenai perkembangan iklim literasi di tingkat daerah, jalannya diskusi interaktif di panggung BIL Fest juga menyoroti anomali interaksi sosial pada generasi masa kini akibat gempuran teknologi digital yang masif. Media sosial dinilai kerap mendistorsi realitas objektif kehidupan, yang pada akhirnya menyebabkan banyak individu, terutama remaja, rentan mengalami tekanan psikologis berat. Tekanan tersebut umumnya bermanifestasi dalam bentuk kecemasan sosial akut akibat kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan pencapaian semu yang ditampilkan orang lain di dunia maya.
Pengaruh opini publik digital yang diadopsi secara mentah-mentah tanpa adanya filterisasi logika yang kuat disinyalir menjadi salah satu pemicu utama tingginya tingkat stres, overthinking, hingga gejala depresi di kalangan generasi muda saat ini. Banyak pengguna internet yang menghabiskan waktu berjam-jam di dalam kamar hanya untuk mengonsumsi informasi yang belum tentu valid kebenarannya, sementara kehidupan sosial mereka di dunia nyata terabaikan secara perlahan.
Menyikapi fenomena yang memprihatinkan tersebut, Mas Koko Ganteng menegaskan urgensi untuk mengoptimalkan kembali fungsi dan keberadaan buku fisik di tengah maraknya konsumsi konten digital berdurasi pendek (short-form content). Kebiasaan melakukan scrolling gawai secara terus-menerus tanpa jeda terbukti secara ilmiah menurunkan rentang perhatian (attention span) masyarakat secara drastis, sehingga membuat seseorang menjadi gampang terdistraksi dan sulit fokus pada pekerjaan jangka panjang.
Sebaliknya, aktivitas membaca buku fisik dinilai menjadi ruang jeda atau katarsis yang sangat efektif bagi kesehatan mental. Melalui lembaran-lembaran kertas, otak manusia dilatih kembali untuk fokus secara mendalam, mencerna narasi secara runut, serta membangun daya kritis yang tidak bisa didapatkan dari potongan video singkat berdurasi beberapa detik di media sosial. Buku fisik memberikan batasan yang sehat agar manusia tidak terus-menerus terpapar stimulasi visual gawai yang melelahkan saraf.
Melalui momentum penyelenggaraan BIL Fest ini, masyarakat luas khususnya generasi z dan milenial diajak untuk mulai mereduksi ketergantungan pada dunia maya dan kembali mengutamakan interaksi nyata secara interpersonal di lingkungan sosial. Mas Koko Ganteng menyayangkan tren masa kini di mana esensi interaksi langsung mulai memudar, bahkan saat masyarakat sedang berkumpul bersama di ruang publik seperti kafe atau tempat nongkrong. Fenomena di mana setiap individu sibuk menatap layar ponsel masing-masing mencerminkan adanya jarak emosional yang lebar di antara manusia yang sebenarnya sedang duduk berdampingan.
Sebagai penutup teknis pada sesi bincang inspiratif tersebut, penulis yang buku terbarunya berjudul “Kamu Enggak Apa-Apa” dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu untuk pasar Malaysia ini mendorong pihak panitia penyelenggara untuk tidak lekas puas. Ia meminta agar nilai inovasi program BIL Fest terus ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang. Langkah konkret yang disarankannya meliputi pengadaan variasi genre buku yang lebih komplet, penyediaan ruang membaca ramah anak, hingga pelibatan tokoh-tokoh literasi serta penulis nasional secara masif agar gaung Banyumas International Festival dapat terdengar semakin kuat di kancah nasional maupun global. “Semoga ke depan makin banyak inovasi untuk meningkatkan minat orang datang ke sini. Dan mungkin bisa mendatengin penulis-penulis hebat seperti Raditya Dika atau Dea Lestari,” pungkasnya.




