Mengenali Diri Lewat Kantisae, Yudistira Saptoaji Ajak Peserta BIL Fest 2026 Belajar Terapi Pikiran

PURWOKERTO – Suasana Sabtu sore di BIL Fest dipenuhi diskusi hangat tentang cara manusia memahami dan mengelola pikirannya. Melalui sesi bedah buku Kantisae, Yudistira Saptoaji mengajak peserta menyelami pentingnya mengenali diri sendiri sebagai langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan pikiran, Sabtu, (13/06/2026).

Acara yang dimoderatori oleh Uswatun Khasanah, dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), tersebut menghadirkan Yudistira Saptoaji, seorang praktisi Human Resources Development (HRD) di Jakarta sekaligus penulis buku Kantisae. Dalam sesi tersebut, peserta diajak memahami bagaimana cara berpikir dapat mempengaruhi respons seseorang terhadap berbagai situasi dalam kehidupan sehari-hari.

Mengawali diskusi, Yudistira mengingatkan bahwa setiap individu memiliki otoritas atas pikirannya sendiri. Menurutnya, cara seseorang merespons sebuah peristiwa sangat bergantung pada bagaimana ia memaknai kejadian tersebut.

“Ketika ada seseorang yang berkata kasar kepada kita, respons yang muncul sebenarnya bisa kita pilih. Kita memiliki kuasa untuk menentukan bagaimana cara berpikir dan menanggapinya,” ujarnya.

Melalui buku Kantisae, Yudistira berupaya mengajarkan pentingnya mengenali diri sendiri. Ia menggambarkan proses tersebut seperti menghitung luka yang ada dalam diri, baik yang tampak maupun yang tersimpan dalam perasaan.

Untuk menggambarkan hal tersebut, ia memberikan contoh sederhana. Ketika kaki seseorang tidak sengaja diinjak orang lain, respons yang muncul bisa berbeda-beda. Ada yang marah, ada pula yang menganggapnya hal biasa. Menurut Yudistira, perbedaan respons itu muncul karena setiap orang memiliki pengalaman dan cara pandang yang berbeda terhadap dirinya sendiri.

Selain mengenali diri, Yudistira juga menekankan pentingnya menghadirkan kesadaran melalui pancaindra. Dengan lebih sadar terhadap apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dipikirkan, seseorang dapat memahami pola pikirnya dengan lebih baik.

Ia juga menyoroti kekuatan kata-kata dalam membentuk persepsi. Menurutnya, pilihan bahasa yang digunakan seseorang dapat memengaruhi cara memandang suatu keadaan.

“Kalau kita menyebut sesuatu sebagai masalah, biasanya yang muncul adalah rasa pusing. Tetapi ketika kita menyebutnya tantangan, yang muncul justru semangat untuk menyelesaikannya. Kata-kata bisa mengubah persepsi kita,” jelasnya.

Pembahasan mengenai kekuatan kata menjadi salah satu bagian penting dalam buku Kantisae. Yudhistira mencontohkan bagaimana label negatif yang terus-menerus diberikan kepada seseorang dapat mempengaruhi cara individu tersebut melihat dirinya.

“Misalnya seorang anak terus-menerus disebut bodoh. Awalnya mungkin tidak berpengaruh, tetapi ketika banyak orang mengatakannya, lama-kelamaan ia bisa mempercayai bahwa dirinya memang bodoh. Itulah ajaibnya kata-kata,” tuturnya.

Karena itu, ia mengajak peserta untuk mulai menggunakan kata-kata yang baik kepada diri sendiri. Menurutnya, cara seseorang berbicara kepada dirinya sendiri akan mempengaruhi kepercayaan diri dan cara memandang kehidupan.

Dalam kesempatan tersebut, Yudistira juga menjelaskan bagaimana pikiran sering kali dipengaruhi oleh pendapat orang lain. Ia mengibaratkannya dengan pengalaman mencicipi makanan yang sebelumnya telah dinilai enak oleh seseorang.

“Ketika seseorang mengatakan makanan itu enak, kita cenderung mencari letak enaknya. Begitu juga dalam hidup. Saat kita berusaha menemukan sisi baik dari sebuah pengalaman, kita lebih mudah menemukan maknanya,” katanya.

Menjawab pertanyaan mengenai judul bukunya, Yudistira menjelaskan bahwa Kantisae memiliki filosofi “menjadi baik”. Melalui buku tersebut, ia berharap pembaca memiliki semangat untuk terus bertumbuh dan menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Diskusi kemudian berlanjut pada topik kenangan dan proses move on. Menurut Yudistira, move on bukan berarti menghapus kenangan, melainkan mengelola perasaan yang melekat pada kenangan tersebut hingga menjadi lebih netral.

“Kenangan tidak akan hilang. Yang bisa kita lakukan adalah mengolah perasaan yang menyertainya sampai akhirnya menjadi netral,” jelasnya.

Sementara itu, Uswatun Khasanah menambahkan bahwa salah satu pesan penting yang ia tangkap dari buku Kantisae adalah bahwa pikiran dapat menjadi sahabat sekaligus penjara bagi manusia.

“Dari buku ini saya menangkap satu pesan bahwa pikiran itu bisa menjadi sahabat, tetapi juga bisa menjadi penjara bagi diri kita sendiri,” terangnya.

Ia juga menyoroti pentingnya mengelola ekspektasi. Menurutnya, stres sering muncul ketika harapan tidak sejalan dengan kenyataan. Oleh karena itu, kegagalan perlu dipandang sebagai peluang untuk belajar dan berkembang.

Pembahasan turut mengarah pada hubungan antara pikiran dan spiritualitas. Uswatun menjelaskan bahwa ibadah tidak selalu menghilangkan masalah, tetapi dapat menjadi fondasi dalam membangun cara pandang seseorang terhadap kehidupan.

“Ibadah membantu kita membentuk persepsi dan pemaknaan terhadap masalah yang sedang dihadapi. Dari sana, kita belajar melihat persoalan dengan lebih tenang,” ujar Uswatun.

Menjelang akhir acara, Yudistira membagikan cara menghadapi rumination atau kondisi ketika pikiran terus mengulang cerita yang sama. Menurutnya, seseorang tidak dapat mengendalikan orang lain, tetapi dapat belajar mengendalikan dirinya sendiri.

Ia menyarankan untuk memberi ruang bagi diri sendiri untuk berpikir, menuliskan isi pikiran melalui journaling, atau melakukan aktivitas yang menyenangkan sebagai bentuk pelepasan emosi.

Menutup sesi diskusi, Yudhistira menyampaikan harapannya agar BIL Fest terus berkembang sebagai ruang literasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

“Saya berharap BIL Fest bisa terus berlanjut dan tumbuh menjadi festival literasi yang besar sehingga semakin banyak orang yang mendapatkan manfaat dari ruang-ruang literasi seperti ini,” pungkasnya.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Redaktur Wiwit Ayu Puspitasari

Jurnalis Official Banyumas International Literacy Festival 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *