PURWOKERTO — Di tengah semilir sore yang menyejukkan, lebih dari 50 peserta dari berbagai latar belakang memenuhi ruang diskusi BIL Fest 2026 pada Jumat (14/6/2026). Mahasiswa, pegiat literasi, hingga masyarakat umum tampak antusias mengikuti sesi Bincang Inspiratif bertajuk Timur dalam Perspektif Penyair (yang Lahir di) Barat bersama penulis dan penerjemah asal Prancis Elisabeth Inandiak, yang dipandu oleh Nisa Roiyasa.
Alih-alih membicarakan Timur dan Barat sebagai dua kutub yang saling berhadapan, Elisabeth justru mengajak peserta melihat keduanya sebagai ruang perjumpaan yang saling memperkaya. Melalui pengalaman hidupnya yang melintasi berbagai negara, budaya, dan tradisi, ia menunjukkan bahwa identitas manusia jauh lebih luas daripada sekadar batas geografis.
“Bagi saya, Timur dan Barat bukanlah sebuah dikotomi. Bukan dua dunia yang dipisahkan oleh jurang besar,” ungkap Elisabeth di hadapan peserta.
Pernyataan itu bukan sekadar gagasan akademik, ia lahir dari perjalanan panjang seorang perempuan yang sejak kecil telah memiliki ketertarikan kuat terhadap dunia Timur, meski tumbuh dalam keluarga yang sangat Prancis di kota Lyon.
Elisabeth bercerita bahwa ketika masih kecil ia pernah bertanya kepada ibunya mengapa dirinya tidak dilahirkan sebagai orang Tiongkok. Di kesempatan lain, ia juga begitu terpesona dengan Jepang hingga sang ibu membuatkannya pakaian kimono agar ia dapat merasakan menjadi bagian dari budaya yang dikaguminya.
Ketertarikan itu terus tumbuh hingga dewasa. Saat bekerja sebagai wartawan di Paris, Elisabeth tinggal di kawasan yang dihuni banyak komunitas migran dari berbagai negara seperti Irak dan kawasan Arab. Kehidupan di tengah keberagaman tersebut membentuk cara pandangnya terhadap identitas dan kemanusiaan.
Ketika terjadi kerusuhan di lingkungan tempat tinggalnya, Elisabeth memilih menyalurkan pengalaman dan kegelisahannya melalui dongeng serta karya sastra. Baginya, sastra adalah cara untuk memahami dunia sekaligus menjembatani berbagai perbedaan.
Perjalanan hidupnya kemudian membawanya ke Indonesia pada tahun 1989. Awalnya, ia datang untuk melakukan peliputan mengenai hubungan antara tradisi Kejawen dan Islam. Dalam perjalanan itu, ia bertemu dengan banyak tokoh, termasuk Presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
“Bagiku, Jawa adalah pulau halimunan,” tuturnya, menggambarkan bagaimana Pulau Jawa menghadirkan pengalaman yang sulit dijelaskan dengan logika semata.
Dari sanalah lahir berbagai karya yang menandai kedekatannya dengan Indonesia, termasuk puisi-puisi tentang Jawa dan refleksi spiritual yang kemudian ia tuangkan dalam berbagai tulisan. Salah satu karya yang turut disinggung dalam diskusi adalah Kekasih Tersembunyi, yang menurutnya lahir dari pengalaman spiritual yang tidak pernah ia temukan di Prancis.
Menariknya, kedatangan Elisabeth ke Indonesia juga dipengaruhi oleh kisah seorang guru besar dari India yang melakukan perjalanan ke Nusantara untuk menemui gurunya di Muaro Jambi. Kisah tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa Indonesia menyimpan kekayaan budaya dan spiritual yang luar biasa.
Dalam sesi yang berlangsung hangat tersebut, Elisabeth juga berbagi cerita mengenai keterlibatannya dalam mengubah dan menerjemahkan Serat Centhini ke dalam bahasa Prancis. Namun, ia menegaskan bahwa pekerjaannya bukan sekadar menerjemahkan kata demi kata.
“Ketika saya mengerjakan Serat Centhini, saya juga menulis ulang dan menghidupkan kembali teks itu agar dapat dipahami pembaca masa kini,” jelasnya.
Menurut Elisabeth, Serat Centhini sendiri memiliki hubungan yang menarik dengan dunia Barat. Ia menyinggung peran Muhammad Rasjidi yang pernah memperkenalkan teks tersebut dalam konteks kajian hubungan antara Islam dan kebudayaan Jawa. Dalam perjalanan menelusuri naskah tersebut, ia menemukan banyak titik temu yang menunjukkan bahwa pertukaran budaya antara Timur dan Barat sebenarnya telah berlangsung sejak lama.
Salah satu contoh yang ia kemukakan adalah kemunculan syair-syair bernuansa Islam yang memiliki keterkaitan dengan karya penyair besar Prancis, Victor Hugo. Hal ini menjadi bukti bahwa gagasan, nilai, dan inspirasi budaya tidak mengenal batas negara.
Ketika seorang peserta bertanya mengenai kutipan Victor Hugo yang memuat ungkapan “Allahu Akbar”, Elisabeth menjelaskan bahwa ketertarikan terhadap Islam dan dunia Timur memang telah lama hadir di Eropa. Menurutnya, kutipan tersebut merupakan bagian asli dari karya sang penulis dan bukan hasil adaptasi budaya di kemudian hari.

Diskusi kemudian berkembang pada fenomena yang terjadi saat ini. Elisabeth menyoroti kecenderungan masyarakat Indonesia yang terkadang semakin menjauh dari akar budayanya ketika semakin dekat dengan ilmu pengetahuan modern. Sebaliknya, di Eropa, banyak orang justru berusaha menggali kembali warisan budaya yang mulai terlupakan.
Ia membandingkan bagaimana budaya di banyak negara Barat kerap berakhir sebagai benda koleksi museum atau artefak yang dibekukan. Di satu sisi, hal itu membantu pelestarian. Namun di sisi lain, budaya menjadi terpisah dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Berbeda dengan Indonesia, di mana budaya masih hidup bersama masyarakat dan menyatu dengan aktivitas sehari-hari, termasuk dalam tradisi pertanian, kesenian, hingga ritual sosial.
“Culture dan agriculture di Indonesia berjalan bersama. Budaya tidak hanya disimpan, tetapi masih hidup dalam kehidupan masyarakat,” ungkapnya.
Meski demikian, Elisabeth menegaskan bahwa pendidikan bukanlah hambatan untuk mempertahankan budaya. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang memaknai ilmu yang dipelajarinya dan menghubungkannya dengan akar budaya yang dimiliki.
Menjelang akhir sesi, Elisabeth menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda agar tidak terjebak dalam cara pandang yang mengotak-ngotakkan manusia berdasarkan ras, bangsa, ataupun budaya.
Menurutnya, salah satu cara untuk memiliki pandangan yang lebih terbuka adalah dengan berani keluar dari zona nyaman dan melihat dunia secara lebih luas. Namun keterbukaan tersebut tidak berarti meninggalkan identitas asal.
Ia sendiri tetap mencintai sastra Prancis, sekaligus merasa memiliki kedekatan yang mendalam dengan tanah Jawa. Elisabeth juga menambahkan bahwa meskipun bukan bagian dari Jawa, tetapi ia merupakan bagian dari tanah Jawa.
Sebelum sesi berakhir, Elisabeth juga membagikan kabar mengenai proyek terbarunya yang tengah ia selesaikan berjudul Gita Si Ari-Ari. Karya tersebut mengangkat makna ari-ari yang dianggap sakral dalam tradisi masyarakat Indonesia, sebuah konsep yang menurutnya hampir tidak ditemukan dalam budaya Barat.
Melalui diskusi sore itu, Elisabeth tidak hanya berbicara tentang sastra, perjalanan, atau budaya. Ia mengingatkan bahwa di balik segala perbedaan yang tampak, manusia sesungguhnya memiliki ruang perjumpaan yang sama. Timur dan Barat bukanlah dua dunia yang saling berjauhan, melainkan dua arah yang dapat bertemu ketika manusia bersedia membuka hati dan pikirannya.




