PURWOKERTO – Bagaimana jika seorang perempuan yang lahir tanpa identitas yang jelas, tumbuh dalam bayang-bayang kekerasan, lalu memilih meninggalkan seluruh warisan yang melekat pada dirinya demi menemukan makna hidup yang baru? Pembahasan tersebut hadir pada sesi terakhir BIL Fest pada hari keempat, Minggu, (14/06/2026).
Pertanyaan itu menjadi salah satu pintu masuk dalam Bincang Inspiratif bertajuk “Novel Nyi Sadikem: Perempuan, Trauma, dan Perlawanan dalam Narasi Sejarah dan Sastra” bersama penulis novel Nyi Sadikem, Arti Ahmad, dan Hatindriya Hangganararas. Diskusi yang berlangsung hangat tersebut mengajak peserta menelusuri lapisan sejarah, trauma, serta perjuangan perempuan yang kerap luput dari catatan resmi sejarah.
Arti Ahmad, penulis yang telah menerbitkan sembilan buku dan konsisten mengangkat tema perempuan dalam karya-karyanya, menjelaskan bahwa Nyi Sadikem lahir dari ketertarikannya pada sosok-sosok perempuan yang berada di ruang abu-abu sejarah. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah profesi gowok, sebuah profesi yang pernah hidup dalam budaya Jawa namun kini nyaris hilang dari ingatan publik.
“Yang pertama saya tekankan bahwa novel ini adalah novel fiksi. Kemudian juga bukan Kamasutra,” ujar Arti.
Menurutnya, banyak pembaca yang keliru memahami cerita tentang gowok sebagai kisah yang berpusat pada seksualitas. Padahal, yang ingin ia angkat justru adalah semesta sosial dan sejarah yang melingkupi profesi tersebut.
Dalam tradisi Jawa, khususnya yang pernah berkembang di wilayah Banyumas, gowok merupakan perempuan yang bertugas mempersiapkan laki-laki muda dari kalangan priyayi sebelum memasuki kehidupan pernikahan. Profesi ini memiliki posisi sosial yang unik. Bahkan, jasa seorang gowok dapat dibayar dengan kerbau, tanah, atau bentuk kekayaan lain yang nilainya tinggi.
“Dulu yang bisa menggunakan profesi ini hanya kalangan elit,” jelas Arti.
Ketertarikan Arti terhadap dunia gowok bermula sejak masa SMP ketika ia membaca karya-karya sastrawan Ahmad Tohari. Dari bacaan itulah ia pertama kali mengenal istilah gowok dan mulai mempertanyakan keberadaan profesi yang pernah begitu penting namun kini nyaris tidak memiliki dokumentasi yang memadai.
“Saya lebih penasaran bagaimana dulu ada satu profesi yang pernah ada, tetapi literaturnya sekarang sangat tipis sekali,” ungkapnya.
Dari rasa penasaran tersebut lahirlah tokoh utama bernama Nyi Sadikem. Namun, Sadikem bukanlah nama yang ia miliki sejak lahir. Nama aslinya adalah Elisabeth Pankrem, seorang perempuan Indo-Belanda yang lahir dari hubungan pergundikan pada era kolonial.
Pada masa itu, praktik pergundikan bukanlah hal asing. Laki-laki Belanda dapat memiliki satu atau bahkan beberapa gundik. Namun, anak-anak yang lahir dari hubungan tersebut seringkali hidup dalam ketidakjelasan status sosial. Mereka tidak sepenuhnya diterima sebagai orang Eropa, tetapi juga tidak sepenuhnya menjadi bagian dari masyarakat pribumi.
Arti melihat kelompok inilah sebagai salah satu korban sunyi kolonialisme.
“Kalau dipandang sekarang, noni Belanda itu seolah hidup enak. Padahal untuk kelas mereka tidak sesederhana itu. Mereka terombang-ambing oleh sistem rasial yang sangat kuat saat itu,” jelasnya.
Trauma menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Elisabeth. Ia tumbuh dengan identitas yang kabur, menyaksikan ibunya mengalami kekerasan, dan hidup dalam lingkungan yang tidak memberinya ruang aman untuk berkembang. Hingga akhirnya ia mengambil keputusan besar: meninggalkan identitas keberadaannya dan memilih menjadi perempuan Jawa bernama Sadikem.

Nama “Nyi” yang melekat di depan namanya bukan sekadar gelar. Dalam cerita, nama itu diberikan oleh Mak Mprit, sosok yang menjadi bagian penting dalam proses transformasi dirinya.
Namun perjalanan Sadikem tidak berhenti di sana. Setelah menjadi gowok, ia kembali menghadapi luka yang mendalam ketika kehilangan anak yang dikandungnya. Peristiwa itu semakin memperkuat kebenciannya terhadap laki-laki dan struktur sosial yang selama ini menempatkan perempuan sebagai pihak yang selalu dirugikan.
Melalui kisah tersebut, Arti tidak hanya berbicara tentang seorang perempuan, tetapi juga tentang pertemuan antara patriarki dan kolonialisme.
“Patriarki pada masa kolonial adalah ketika laki-laki memegang tonggak kekuasaan,” terang Arti.
Dalam kondisi seperti itu, perempuan sering kali kehilangan hak untuk menentukan hidupnya sendiri. Karena itulah, bentuk perlawanan yang dilakukan Nyi Sadikem tidak hadir melalui peperangan atau tindakan heroik yang besar. Perlawanannya justru muncul dalam tindakan-tindakan sederhana yang merawat kehidupan.
Salah satu bagian penting dalam novel adalah ketika rumah Sadikem menjadi tempat perlindungan bagi perempuan-perempuan yang membutuhkan pertolongan. Ia juga membebaskan murid-murid perempuannya untuk menentukan jalan hidup mereka sendiri.
“Spirit yang ingin saya hadirkan adalah merawat kehidupan, terutama perempuan,” kata Arti.
Pesan itulah yang membuat kisah Nyi Sadikem terasa relevan hingga hari ini. Di tengah berbagai bentuk ketidakadilan yang masih dialami perempuan, keberanian untuk bangkit dari trauma dan membantu sesama menjadi bentuk perlawanan yang tidak kalah penting.
Dalam proses penulisannya, Arti mengaku menghadapi berbagai tantangan. Selain minimnya referensi mengenai gowok, ia juga harus menghidupkan karakter seorang noni Belanda yang kemudian memilih menjadi perempuan Jawa.
Meski demikian, riset mengenai latar sosial tahun 1930-an relatif lebih mudah ditemukan dibandingkan data mengenai profesi gowok itu sendiri.
Bagi Arti, alasan menulis sesungguhnya sederhana. Berawal dari kegemarannya membaca sejak kecil, ia kemudian mulai menulis berbagai cerita hingga akhirnya memutuskan menekuni dunia kepenulisan setelah lulus SMA.
“Karena saya perempuan, maka saya menulis tentang perempuan,” ujarnya.
Kalimat sederhana itu seolah merangkum keseluruhan semangat novel Nyi Sadikem. Sebuah cerita tentang perempuan yang terluka, tetapi tidak berhenti pada lukanya. Sebuah kisah tentang identitas yang tercerabut, tetapi menemukan akar baru. Dan yang paling penting, sebuah pengingat bahwa sejarah tidak hanya dibentuk oleh mereka yang memegang kekuasaan, melainkan juga oleh perempuan-perempuan yang memilih bertahan, bangkit, dan merawat kehidupan di sekitarnya.
Melalui sosok Nyi Sadikem, Arti Ahmad menghadirkan kembali suara-suara yang selama ini nyaris hilang dari sejarah. Suara perempuan yang mungkin tidak tercatat dalam buku pelajaran, tetapi jejak perjuangannya tetap hidup dalam sastra dan ingatan kolektif masyarakat.




