Mahasantri Ma’had Aly Andalusia Sukses Dobrak Stigma Tafsir Rumit: Mujib Ajak Milenial Meniti Jembatan Makna Al-Qur’an Di BIL Fest 2026

PURWOKERTO – Mahasantri Ma’had Aly Andalusia Banyumas sukses mendobrak stigma publik bahwa mengkaji kitab tafsir klasik ratusan tahun lalu terkesan kaku, rumit, dan membosankan. Melalui peluncuran buku bertajuk “Meniti Jembatan Tafsir” dalam sesi Bincang Inspiratif Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest) 2026, khazanah keilmuan pesantren dipaparkan secara kontekstual bagi kalangan generasi Z serta milenial, Selasa, (16/06/2026).

Acara bedah buku yang berlangsung dinamis ini diselenggarakan di panggung utama BIL Fest 2026, Hetero Space. Diskusi interaktif tersebut dipandu langsung oleh Ismail, M.Ag., dosen Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto yang bertindak sebagai moderator.

Penulis buku, Mujiburahman, mengungkapkan bahwa karya ini lahir dari kegelisahan mendalam dirinya saat melihat fenomena maraknya cocoklogi ayat Al-Qur’an di internet. Mahasantri berusia 21 tahun tersebut kemudian berinisiatif merangkum puluhan artikel ilmiahnya menjadi sebuah buku populer yang segar, namun tetap disiplin dalam menjaga kaidah keilmuan turats (kitab klasik).

“Al-Qur’an itu tidak boleh berhenti hanya sampai di teks terjemahan saja, karena di balik itu ada samudera kedalaman makna yang perlu dijembatani,” tegas pemuda kelahiran tahun 2005 tersebut.

Dalam pemaparannya, Mujiburahman membedah tiga domain besar dari bukunya yang dikemas relevan dengan problematika modern. Pertama, terkait Rahasia Balagah dan Sastra Al-Fatihah. Ia menjelaskan keunikan struktur ayat Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin yang mendahului objeknya daripada kata kerjanya. Dalam sastra Arab klasik, formula ini disebut Taqdiim maa haqqahu at-ta’khiir yang berfungsi sebagai penekanan mutlak (al-ihtimam) dan pengkhususan (al-qashr) bahwa ibadah dan pertolongan murni hanya milik Allah SWT.

Kedua, buku tersebut mengedukasi masyarakat mengenai perbedaan antara astronomi dan astrologi klasik. Mujiburahman meluruskan bahwa Kitab Tafsir Jalalain yang ditulis ratusan tahun lalu sebenarnya telah mencatat nama-nama rasi bintang atau zodiak, mulai dari Al-Hamal (Aries) hingga Al-Hut (Pisces). Namun, para ulama terdahulu menggunakannya sebagai sistem penanggalan alami serta alat navigasi arah mata angin, serupa dengan fungsi aplikasi peta digital masa kini, bukan untuk ramalan nasib atau kecocokan jodoh yang ramai di media sosial modern.

Ketiga, Mujiburahman berani mengupas akar sejarah teologis kaum Bani Israil hingga dinamika konflik Palestina-Israel modern melalui kacamata Tafsir Al-Qurthubi. Ia menyaring secara ketat kisah-kisah Israiliyat, yang secara jenaka ia istilahkan sebagai cerita dari “server sebelah”. Filter ketat ini dinilai krusial agar pembaca dapat memilah riwayat yang boleh diterima, didiamkan, atau wajib ditolak demi menjaga kemurnian akidah.

Salah satu pertanyaan kritis dari peserta menyoroti korelasi antara trauma sejarah Holocaust di Eropa dengan klaim teologis kaum Israel atas tanah Palestina saat ini. Menanggapi hal itu, Mujiburahman memaparkan bahwa rekam jejak geopolitik entitas yang menduduki Palestina hari ini memiliki benang merah genealogis dengan kaum Bani Israil masa lalu. Diaspora mereka ke berbagai belahan dunia hingga kembali melakukan kolonisasi pasca-1948 dipandang sebagai bentuk pemenuhan siklus sejarah teologis yang telah lama terekam dalam Al-Qur’an.

Diskusi keagamaan pun meluas hingga membahas istilah “Agama Ibrahimiyah” (Abrahamic Religions). Mujiburahman menegaskan secara akidah bahwa para nabi terdahulu, mulai dari Nabi Ibrahim, Nabi Musa, hingga Nabi Isa AS, tidak pernah mendeklarasikan agama bernama Yahudi atau Kristen, melainkan membawa satu ajaran tauhid yang sama, yaitu Islam.

Mendukung argumen tersebut, Ismail selaku moderator mempertegas dengan mengutip hadis riwayat Imam Bukhari yang menyatakan bahwa para nabi adalah saudara seayah dengan ibu yang berbeda, namun agamanya satu.

“Secara filosofis, ‘ayah yang satu’ melambangkan kesatuan fondasi akidah tauhid, sedangkan ‘ibu yang berbeda’ melambangkan syariat praktis yang berevolusi dan disempurnakan hingga puncaknya pada syariat Nabi Muhammad SAW,” jelas dosen UIN Saizu tersebut.

Salah satu audiens, Raden Rahmat Hidayat Ahmad atau yang biasa disapa Doni, melontarkan seloroh sekaligus pertanyaan mengenai tantangan menjadi mufassir di “zaman edan” yang penuh disrupsi moral dan informasi.

Menjawab tantangan tersebut, Ismail meluruskan bahwa standarisasi mufassir di era kontemporer telah mengalami pergeseran metodologis. Jika ulama klasik dituntut menguasai puluhan cabang ilmu secara ensiklopedis untuk menghasilkan tafsir universal, mufassir modern kini lebih bergerak pada aspek spesifikasi corak (Al-Laun). Buku karya Mujiburahman ini dinilai hadir sebagai respons konkret santri terhadap disrupsi zaman dengan menggunakan pisau analisis kebahasaan (Adabi) untuk menjembatani metodologi tafsir yang ketat agar bisa dikonsumsi secara sehat dan rasional oleh generasi muda.

Ismail juga memetakan tiga harapan besar dari lahirnya buku “Meniti Jembatan Tafsir” ini. Bagi masyarakat umum, buku ini diharapkan menjadi panduan agar tidak mudah memotong ayat Al-Qur’an secara instan hanya bermodal teks terjemahan di internet. Bagi mahasiswa Ma’had Aly dan pesantren, karya ini menjadi pecutan agar penguasaan kitab kuning tidak mandek di dalam bilik santri, melainkan berani didobrak menjadi tulisan populer yang renyah. Sementara bagi mahasiswa umum di kampus lain, buku ini berfungsi sebagai jembatan epistemologi untuk mengakses pemikiran otentik para imam tafsir terdahulu tanpa terkendala keterbatasan aksara gundul.

“Sangat jarang di era sekarang ada anak muda berusia 21 tahun yang berani menyelami kitab gundul ratusan tahun lalu, lalu menerjemahkannya menjadi corak tafsir yang relevan dengan problematika kemasyarakatan modern,” puji Ismail.

Bagi Mujiburahman sendiri, peluncuran karya pertamanya ini bukanlah akhir dari sebuah pencapaian, melainkan langkah awal pengabdian panjangnya terhadap ilmu agama. Dengan penuh ketawaduan, ia mengakui bahwa bukunya masih terus membutuhkan penyempurnaan.

“Harapan terbesar saya tentu saja ini menjadi amal jariyah dan bentuk khidmah (pengabdian) saya kepada para kiai, guru-guru, hingga bermuara kepada Baginda Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan ilmu tafsir klasik agar bisa diterima secara umum,” pungkasnya.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Rdedaktur Dwi Puspitasari

Jurnalis Official BIL Fest 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *