Kebasen, Banyumas – Memasuki hari kedua Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Selasa (14/7/2026), SMA Islam Andalusia Kebasen, Banyumas, Jawa Tengah, kembali menegaskan komitmennya sebagai salah satu lembaga pendidikan berbasis boarding school pilihan utama bagi para orang tua. Di tengah ketatnya persaingan penerimaan peserta didik baru antara sekolah negeri dan swasta, konsep sekolah berasrama terbukti tetap memiliki daya tarik tersendiri.
Keamanan 24 Jam dan Bebas Gawai Jadi Daya Tarik
Johan Arinda M, selaku Guru Seni Budaya sekaligus Koordinator Acara MPLS 2026, menjelaskan bahwa tren menyekolahkan anak di boarding school dipicu oleh kebutuhan orang tua akan lingkungan belajar yang aman dan terpantau secara penuh.
“Sebenarnya tren orang tua itu lebih merasa aman anaknya disekolahkan di boarding dibanding sekolah biasa. Karena di sini kami bisa memantau selama 24 jam. Selain itu, santri juga tidak diperbolehkan menggunakan gadget (gawai) pribadi. Komunikasi dijadwalkan secara berkala melalui wali kamar,” terang Johan saat memberikan pernyataan resmi pihak sekolah.
Meskipun secara akumulatif jumlah siswa baru tahun ini sedikit berkurang dibandingkan tahun lalu, antusiasme masyarakat tetap terjaga tinggi. Pada tahun ajaran 2026 ini, SMA Islam Andalusia menerima sekitar 380-an siswa baru yang terbagi ke dalam 10 rombongan belajar (rombel), mulai dari kelas 10-A hingga 10-K.
Menariknya, peminat sekolah ini tidak hanya datang dari wilayah sekitar Banyumas, Cilacap, atau Kebumen saja. Banyak santri yang datang dari wilayah jauh seperti Lampung, Palembang, bahkan hingga Toli-Toli, Sulawesi Tengah. Sebagian besar merupakan anak dari para perantau asal Banyumas raya yang ingin anaknya mendapatkan pendidikan agama yang kuat di tanah kelahiran orang tuanya.
Edukasi Anti-Bullying dan Gaya Hidup Sehat di MPLS Hari Kedua
Untuk membekali para santri baru yang kini harus hidup mandiri jauh dari orang tua, pihak sekolah mengemas program MPLS selama 7 hari dengan menggandeng berbagai instansi luar. Pada hari kedua ini, SMA Islam Andalusia menghadirkan pemateri dari Polsek Kebasen dan Puskesmas Kebasen.
Kehadiran pihak Polsek Kebasen difokuskan untuk memberikan edukasi mengenai bahaya kenakalan remaja dan penolakan keras terhadap segala bentuk perundungan (anti-bullying). Mengingat seluruh siswa SMA diwajibkan tinggal di asrama pondok pesantren, pemahaman ini dinilai sangat krusial.
Safrul Khoiron, salah satu santri asal Sumbang, Purwokerto, yang telah menempuh pendidikan di Andalusia sejak bangku SMP, membagikan kesannya mengenai materi tersebut.
“Kami diajarkan untuk benar-benar menghindari bullying, baik itu yang sifatnya fisik, verbal, maupun cyber bullying. Di pondok kan kita hidup bersama, seperti saat antre mandi, tidak boleh bikin gaduh atau saling pukul. Sebisa mungkin kami harus menjaga kerukunan dan menjauhi perundungan,” kata Safrul.
Selain materi anti-perundungan, para santri juga mendapatkan sosialisasi mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dari Puskesmas Kebasen. Edukasi ini penting mengingat pola hidup di lingkungan asrama yang padat rawan terhadap penularan penyakit jika kebersihan tidak terjaga.
Syifa Miladea, santri baru asal Pohuwato, Gorontalo, menyadari betul pentingnya menjaga kesehatan kelompok di lingkungan barunya tersebut.
“Karena kita hidup bareng-bareng sebagai santri, kita harus bisa jaga kebersihan. Kalau ada penyakit menular seperti batuk atau pilek, penularannya bisa cepat sekali. Kami diedukasi untuk memakai masker dan rajin cuci tangan dengan sabun karena tangan itu sumber bakteri. Jangan sampai kita menularkan virus ke teman lain,” ungkap Syifa.
Rencana Program Selanjutnya
Rangkaian kegiatan MPLS SMA Islam Andalusia 2026 masih akan berlanjut hingga beberapa hari ke depan. Pihak panitia telah menjadwalkan materi wawasan kebangsaan yang akan dibawakan langsung oleh Danramil Kebasen pada hari Rabu, disusul dengan latihan Peraturan Baris-Berbaris (PBB) serta berbagai permainan edukatif (games) internal pada hari Kamis untuk merekatkan kebersamaan antarsantri.


