Di tengah gegap gempita perayaan literasi di era digital—di mana keberhasilan diukur dari kecepatan kita mengolah data dan “melek” informasi global—kita seringkali lupa menengok ke belakang. Kita terobsesi mengejar literasi aksara, namun ironisnya, kita menjadi “buta huruf” dalam membaca tanda-tanda alam. Krisis ekologi yang kita hadapi saat ini, dari pencemaran sungai hingga alih fungsi lahan, adalah bukti nyata dari kebutaan tersebut.
Di jantung Banyumas, tepatnya di Desa Pekuncen, Jatilawang, hidup sebuah komunitas yang mungkin oleh standar modern dianggap “tertinggal” atau bahkan “tidak melek huruf”. Mereka adalah komunitas Adat Bonokeling. Namun, di balik kesederhanaan hidup mereka, tersimpan sebuah sistem pengetahuan yang justru berhasil menjawab tantangan terbesar zaman ini: bagaimana hidup harmoni dengan alam.
Komunitas Bonokeling memiliki bentuk literasi yang jauh lebih tua dan mendalam daripada sekadar aksara di atas kertas. Mereka memiliki “Literasi Ekologis Adat”—sebuah kemampuan untuk “membaca” alam, yang diwariskan bukan melalui buku, melainkan melalui laku (praktik), pitutur (tradisi lisan), dan ritual. Tulisan ini adalah sebuah upaya untuk “membaca” sistem literasi mereka, yang ironisnya sering kita abaikan dalam festival-festival literasi modern.
Budaya Adat sebagai Teks yang Hidup
Bagi komunitas Adat Bonokeling, budaya bukanlah sekadar folklore atau tontonan seremonial. Budaya adalah sebuah “teks” yang hidup; sebuah kurikulum yang mengikat setiap individu dalam sistem kosmos yang lebih besar. Identitas mereka tidak terikat pada kepemilikan materi, melainkan pada ketaatan mereka dalam menjalankan laku dan menjaga amanat leluhur.
Ambil contoh ritual terbesar mereka, Unggahan dan Udunan. Unggahan (ziarah menjelang bulan puasa) adalah sebuah laku spiritual yang menuntut ribuan anggota komunitas berjalan kaki puluhan kilometer ke makam leluhur mereka. Ini bukan sekadar “tradisi”. Jika kita “membacanya” lebih dalam, ini adalah sebuah literasi laku.
Berjalan kaki adalah cara paling intim untuk membaca bentang alam (lanskap). Mereka membaca batas-batas desa, kontur tanah, kondisi mata air, dan perubahan musim. Mereka secara fisik diingatkan kembali akan wilayah jelajah mereka, memperkuat ikatan kolektif, dan menegaskan posisi mereka sebagai bagian kecil dari alam semesta yang diatur oleh Sang Pencipta dan aturan leluhur. Ini adalah literasi fisik dan spiritual yang tidak bisa diajarkan di ruang kelas.
Literasi Lisan: Pitutur sebagai Paku Bumi Ekologis
Jika literasi modern bertumpu pada teks tertulis, literasi Adat Bonokeling bertumpu pada pitutur luhur (nasihat bijak) dan tradisi lisan. Pengetahuan ekologis mereka tidak dikodifikasi dalam jurnal ilmiah, tetapi diawetkan dalam dongeng, larangan (pantangan), dan tata krama.
Komunitas ini memiliki aturan ketat tentang bagaimana alam harus diperlakukan. Ada konsep tata ruang yang jelas: di mana area untuk pemukiman (perkampungan), di mana area untuk bertani (lahan garapan), dan mana area yang absolut tidak boleh disentuh (hutan larangan atau area sakral).
Larangan untuk tidak menebang pohon di sekitar mata air atau di hutan tertentu mungkin di telinga modern terdengar “mistis” atau “takhayul”. Namun, jika kita “membaca” larangan ini dengan kacamata ekologi, ini adalah bentuk literasi yang jenius. Itu adalah cara paling efektif untuk mengajarkan konservasi. Pitutur “jangan merusak hutan, nanti penunggunya marah” secara fungsional jauh lebih ditaati dan lebih berhasil menjaga kelestarian mata air daripada spanduk “Save Our Water” yang dicetak di atas plastik.
Ini adalah “literasi ekologis” yang sesungguhnya: pengetahuan yang teruji oleh waktu, diwariskan secara lisan, dan berfungsi sebagai “paku bumi” yang menjaga keseimbangan alam agar tidak dieksploitasi atas nama keserakahan.
Wujud Nyata Literasi yang Menjaga Kehidupan
Bukti paling sahih dari keberhasilan “Literasi Ekologis Adat” ini adalah hasilnya. Di saat banyak wilayah di sekitar kita berjuang melawan kekeringan, krisis air bersih, dan bencana longsor, komunitas Bonokeling relatif aman. Hutan adat mereka terjaga. Mata air mereka lestari.
Mereka mempraktikkan apa yang kini oleh ilmuwan modern disebut sebagai “pertanian berkelanjutan” (sustainable agriculture) atau “agroforestri”. Mereka bertani secukupnya untuk kebutuhan komunal (subsisten), bukan untuk surplus komersial yang eksploitatif. Mereka “membaca” kalender alam (pranata mangsa) untuk menentukan kapan harus menanam, bukan kalender pasar komoditas.
Sistem pengetahuan mereka—yang lahir dari “literasi lisan” dan “literasi laku”—telah terbukti secara empiris berhasil menciptakan resiliensi atau ketahanan ekologis. Mereka mungkin tidak bisa membaca tulisan ini, tetapi mereka bisa membaca tanda-tanda alam yang kita sendiri sudah buta terhadapnya. Mereka tahu kapan hujan akan turun dari arah angin, mereka tahu kesehatan tanah dari cacing, mereka tahu kesuburan air dari jenis ikan. Ini adalah literasi tingkat tinggi.
Redefinisi Literasi untuk Banyumas (dan Indonesia)
Di sinilah letak relevansinya untuk bilfest.id. Sebuah Festival Literasi Internasional di Banyumas tidak boleh hanya merayakan literasi aksara. Ia harus memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa di wilayahnya sendiri, tersimpan bentuk literasi lain yang jauh lebih tua dan mungkin lebih bijak.
Mengabaikan kearifan Bonokeling atas nama “modernitas” atau menganggap mereka “buta huruf” adalah sebuah kesombongan intelektual. Tantangan kita bukanlah “mengajari” mereka membaca dan menulis agar “setara” dengan kita. Tantangan kita adalah sebaliknya: kita harus belajar “membaca” kearifan mereka.
Kita perlu mendokumentasikan pitutur mereka (literasi lisan), memahami filosofi di balik laku mereka (literasi ritual), dan mengapresiasi bagaimana sistem itu terbukti menjaga alam (literasi ekologi). Inilah esensi sejati dari Kapita Selekta: menyeleksi kearifan masa lalu untuk menjawab krisis masa kini.
Sudah saatnya kita meredefinisi “literasi”. Literasi bukan hanya tentang apa yang ada di kepala kita, tapi juga tentang bagaimana kita berpijak di bumi. Komunitas Adat Bonokeling telah membuktikan bahwa literasi tertinggi adalah kemampuan untuk hidup selaras dengan alam, sebuah pelajaran yang sangat kita butuhkan hari ini.




