Aku duduk di sudut kafe, cahaya pagi menembus jendela seperti sorot lampu di panggung hidup. Di depan aku tergeletak buku catatan baru, kulitnya masih mengilap, halamannya kosong, menunggu jejak. “Ganti halaman, bro,” gumamku sambil menyeruput kopi.
Tiba-tiba, suara dentingan piano dari pojok sana mengingatkan kenangan lama: pertama kali jatuh cinta, pertama kali gagal, pertama kali bernyanyi di karaoke sambil bergoyang-goyang. Semua itu sudah jadi tinta di buku lama yang telah kusobek.
Aku menarik napas dalam, membuka halaman pertama, dan menulis. Hari ini aku menulis ulang diri. Bukan karena yang lama buruk, tetapi karena aku sudah siap menjadi versi yang lebih berani. Kata-kata itu mengalir seperti aliran sungai yang sudah lama terkurung. Setiap kalimat mengingatkan satu langkah yang sudah kuambil, setiap spasi mengingatkan ruang kosong yang masih bisa diisi harapan.
Di luar, matahari mulai naik, sinarnya menyorot lewat jendela, menyapu bersih debu-debu keraguan. Aku tersenyum, karena tahu tiap halaman baru itu hanya pintu masuk ke petualangan yang belum pernah kuceritakan. Dan begitulah, “Fresh Page” bukan hanya judul, tetapi janji bahwa setiap akhir selalu melahirkan awal yang lebih seru…. Usia delapan belas sudah selesai, bro.
Aku menutup buku itu dengan klik pensil yang masih bergetar. Di luar, hujan gerimis mulai menari di kaca, seperti musik latar nostalgia yang pas sekali. Aku menarik napas, membuka halaman baru lagi, sekarang giliran sembilan belas.
Tulisanku kali ini bukan hanya soal “aku” yang sudah lewat, tetapi soal “kita” yang akan datang. Kata-kata mulai mengalir lebih rileks, seperti kopi susu di pagi hari: manis, sedikit pahit, tetapi membuat mata terbuka. Usia sembilan belas, aku belajar bahwa tiap jejak lama itu peta, bukan penjara. Aku melangkah lebih jauh, membawa semua pelajaran, tetapi tetap membuka pintu untuk kejutan baru. Suara piano masih berdengung pelan, tetapi kali ini ada alunan gitar yang ikut menyumbang. Seperti hidup, kadang butuh instrumen yang berbeda agar lagunya makin lengkap. Aku menutup buku catatan, berdiri, dan melangkah keluar. Jalanan basah, lampu jalan berkilau, dan di kejauhan ada cahaya neon yang mengundang. Usia sembilan belas tahun, masih banyak halaman kosong yang menanti.
Dan satu hal yang pasti, setiap langkah adalah fresh page baru.





