Di lereng Gunung Slamet, tepatnya di Dusun Kalipagu, Desa Ketenger, Banyumas, setiap tahun masyarakat menggelar upacara adat yang disebut Merti Bhumi. Di tengah rindangnya pepohonan dan udara sejuk pegunungan, warga berkumpul di kawasan Situs Lemah Wangi. Dengan pakaian hitam sederhana, mereka berjalan kaki membawa hasil bumi menuju kawasan hutan yang hijau. Bagi masyarakat Kalipagu, upacara ini merupakan wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta, sekaligus bentuk penghormatan kepada leluhur dan alam. Kata merti berarti merawat, sementara bhumi berarti tanah atau bumi. Jadi, Merti Bhumi berarti ajaran merawat bumi sebagai sumber kehidupan dan menjaga keseimbangannya agar tetap subur dan lestari. Tradisi ini dijalankan oleh kelompok masyarakat adat yang tergabung dalam Kewargian Lemah Wangi, sebuah komunitas pelestari budaya dan penjaga situs sejarah di daerah tersebut. Pelaksanaannya dilakukan setiap bulan Sura dalam kalender Jawa, karena diyakini sebagai waktu tersebut paling tepat untuk mendekatkan diri pada Tuhan dan alam.
Pelaksanaan kegiatan Merti Bhumi dimulai dengan prosesi kirab hasil bumi dari permukiman warga menuju Situs Lemah Wangi, yang terletak di kawasan hutan. Warga berjalan sejauh lebih dari satu kilometer menuju situs petilasan Lemah Wangi sambil membawa persembahan hasil sendiri sebagai simbol rasa syukur atas rezeki yang diberikan alam. Langkah-langkah mereka menyatu dengan desir angin dan gemericik air dari mata air di sekitar kawasan hutan. Kirab ini dilanjutkan dengan prosesi Werning Sareng, yaitu momen menyatukan hati dan pikiran, serta mengenang ajaran leluhur. Dalam keheningan itu, mereka berdoa agar kehidupan di bumi tetap lestari dan damai. Suasana sakral semakin terasa ketika kidung Jawa dilantunkan, diikuti pemanjatan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh adat. Tak ada pengeras suara, hanya lantunan doa yang berpadu dengan suara alam.
Setelah prosesi utama berlangsung, masyarakat melakukan prosesi Asung Sesaji Pepak Agung, yaitu mempersembahkan sesaji lengkap di pusat situs Lemah Wangi. Sesaji melambangkan kesatuan antara manusia dan alam semesta, sebuah ajaran Kejawen tentang menyatunya ciptaan dengan Sang Pencipta. Ritual ini bukan sekadar tradisi, melainkan cara masyarakat mempertahankan keseimbangan spiritual dan ekologis. Pelepasan burung dan ikan ke alam bebas juga dilakukan sebagai simbol harapan akan kelestarian dan keseimbangan kehidupan. Melalui simbol-simbol sederhana, mereka menegaskan bahwa kehidupan akan berjalan baik selama manusia mampu menjaga keseimbangan alam. Masyarakat Kalipagu percaya bahwa bumi harus dijaga dengan rasa cinta, karena alam yang rusak akan membawa penderitaan bagi manusia sendiri. Itulah sebabnya warga menjaga hutan sekitar Lemah Wangi agar tetap rimbun, tidak menebang pohon sembarangan, dan selalu menjaga sumber air. Keyakinan ini menjadi bentuk nyata dari kesadaran ekologis tradisional yang sejalan dengan prinsip keberlanjutan lingkungan modern.
Kesadaran ekologis tersebut tidak hadir begitu saja, melainkan berakar dari sejarah panjang dan warisan spiritual yang hidup di kawasan Lemah Wangi. Kawasan Lemah Wangi dipercaya merupakan bagian dari peradaban kuno yang sudah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi. Dulu, daerah ini dikenal sebagai padepokan agung galuh purba, tempat para resi dan leluhur mengajarkan budi pekerti, olah rasa, dan olah batin. Ajaran itu menekankan pentingnya hidup dengan kebijaksanaan, menjaga keseimbangan antara dunia jasmani dan rohani. Penemuan simbol-simbol seperti lingga-yoni memperkuat dugaan bahwa tempat ini menjadi lokasi penyebaran ajaran Hindu-Buddha di masa lampau. Dari situlah, tradisi spiritual yang menghormati alam dan kesatuan hidup terus diwariskan hingga kini, menjadi dasar bagi pelaksanaan Merti Bhumi setiap tahun. Melalui Merti Bhumi, ajaran tersebut tetap hidup dan dihayati oleh masyarakat masa kini. Selain sebagai ritual spiritual, Merti Bhumi juga menjadi perayaan sosial dan budaya yang melibatkan berbagai kalangan. Acara ini dihadiri oleh tokoh adat, masyarakat lintas agama, pemerintah daerah, hingga budayawan. Keragaman ini menunjukkan bahwa Merti Bhumi bukan milik satu kelompok, melainkan warisan bersama yang menyatukan banyak pihak dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Lebih jauh, Merti Bhumi dapat dipahami sebagai bentuk literasi ekologis yang hidup dalam kebudayaan lokal. Melalui tradisi ini, masyarakat belajar membaca tanda-tanda alam dengan cara mereka sendiri. Tradisi ini menjadi sistem pengetahuan yang efektif untuk meningkatkan kesadaran menjaga keseimbangan ekosistem di lereng Gunung Slamet. Dari sinilah nilai pendidikan ekologis ditanamkan secara alami, bukan melalui teori, melainkan melalui praktik hidup sehari-hari. Sehingga masyarakat memahami bahwa bumi yang rusak akan membawa bencana bagi manusia, sedangkan bumi yang dijaga akan memberi kesejahteraan. Nilai-nilai ekologis yang terkandung dalam Merti Bhumi terlihat jelas dalam cara masyarakat memperlakukan lingkungan sekitar. Mereka tidak sekadar menjaga hutan agar tetap hijau, tetapi juga memperlakukan setiap elemen alam sebagai bagian dari kehidupan yang harus dihormati. Pohon, batu, dan mata air dianggap memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam, sehingga keberadaannya tidak boleh dirusak sembarangan. Kesadaran ini membentuk pola pikir yang menekankan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan, manusia menjaga alam, dan alam memberikan kehidupan.
Melalui tradisi yang diwariskan turun-temurun ini, masyarakat Kalipagu sebenarnya telah mempraktikkan prinsip keberlanjutan jauh sebelum konsep sustainable living dikenal luas. Merti Bhumi menjadi bukti bahwa kearifan lokal mampu menjadi dasar pendidikan lingkungan yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan modern, sekaligus mengajarkan manusia untuk hidup seimbang, menghargai alam, serta menjaga harmoni antara kebutuhan dan kelestarian demi keberlangsungan kehidupan di bumi yang kita cintai.



