Purwokerto – Belajar bahasa Inggris sering kali identik dengan buku teks, daftar kosakata, atau latihan tata bahasa yang berulang. Namun, suasana berbeda justru hadir di area depan panggung bazar buku dan Amphitheater Banyumas International Literacy Festival (BILFest) 2026 pada Jumat malam (12/6/2026). Sebanyak 29 peserta mengikuti English Masquerade Night, sebuah workshop kolaboratif antara LitSprout.id, HMSI Unsoed, Waltz HMSI, dan BILFest yang menggabungkan pembelajaran bahasa, sastra, budaya, seni pertunjukan, hingga interaksi sosial dalam satu pengalaman yang menyenangkan.
Dimulai pukul 19.00 WIB, para peserta berkumpul dalam nuansa pesta topeng yang terinspirasi dari kisah legendaris ‘Romeo and Juliet’ karya William Shakespeare. Tidak hanya menjadi ruang belajar bahasa Inggris, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mengenalkan unsur budaya dan sastra Inggris melalui pendekatan yang lebih kreatif dan tidak mengintimidasi peserta dengan berbagai tingkat kemampuan bahasa.
Sesi dibuka dengan kegiatan perkenalan sederhana. Setiap peserta diminta menyebutkan nama dan hal yang mereka sukai dalam bahasa Inggris. Ada yang menyukai membaca novel, menonton film, mendengarkan musik, hingga bepergian ke tempat-tempat baru. Aktivitas ringan tersebut berhasil mencairkan suasana sekaligus membangun rasa percaya diri peserta sebelum memasuki sesi utama.
Berbeda dengan pembelajaran bahasa Inggris konvensional, English Masquerade Night dirancang menggunakan berbagai pendekatan yang saling melengkapi. Peserta diajak belajar melalui story-based learning yang dikemas dalam media visual, aktivitas kreatif, komunikasi aktif dalam bahasa Inggris, serta gerakan kinestetik melalui sesi dansa.
Pendekatan tersebut membuat peserta tidak merasa sedang berada di dalam kelas. Sebaliknya, mereka memperoleh pengalaman belajar yang alami dan menyenangkan. Bahkan bagi peserta yang masih berada pada level pemula, suasana yang santai membuat mereka lebih berani untuk mencoba berbicara dan berinteraksi menggunakan bahasa Inggris.
“Peserta dari level beginner sampai advanced bisa menikmati kegiatan ini. Mereka belajar banyak hal dalam satu sesi tanpa merasa terbebani. Justru yang terasa adalah pengalaman dan keseruannya,” ungkap vise president, hesti azroq.
Setelah sesi perkenalan, peserta diajak menonton bersama video yang mengisahkan perjalanan cinta Romeo dan Juliet. Melalui media visual tersebut, peserta dapat memahami alur cerita sekaligus mengenal karakter, konflik, dan emosi yang menjadi inti dari karya sastra klasik tersebut.
Usai pemutaran video, fasilitator dari LitSprout.id mengajak peserta mengulas berbagai kosakata yang muncul dalam cerita. Kata dan ungkapan yang berkaitan dengan perasaan, hubungan antartokoh, serta situasi dalam cerita dibahas secara interaktif sehingga peserta dapat memahami makna sekaligus konteks penggunaannya dalam percakapan sehari-hari.
Pembelajaran kosakata kemudian dilanjutkan dengan aktivitas yang lebih komunikatif. Setiap peserta mendapatkan cue card berisi potongan dialog antara Romeo dan Juliet. Melalui kartu tersebut, peserta diminta berlatih percakapan dengan pasangan masing-masing.
Suasana belajar menjadi semakin hidup ketika peserta mulai mencoba memerankan karakter Romeo dan Juliet. Dengan bantuan fasilitator, mereka berlatih pelafalan, intonasi, serta ekspresi yang sesuai dengan dialog yang dimainkan. Tawa dan tepuk tangan sesekali terdengar ketika peserta mencoba menampilkan dialog mereka dengan penuh penghayatan.
Setelah sesi latihan selesai, satu per satu pasangan peserta maju ke depan untuk memperagakan percakapan yang telah mereka pelajari. Penampilan mereka menunjukkan bahwa belajar bahasa tidak harus selalu dilakukan melalui metode formal. Dengan menggabungkan unsur sastra dan permainan peran, peserta dapat membangun kepercayaan diri sekaligus melatih kemampuan berbicara secara lebih natural.

Puncak kegiatan malam itu hadir melalui sesi dansa bersama yang menjadi ciri khas English Masquerade Night. Sebelum peserta tampil berpasangan, tim LitSprout.id bersama Waltz HMSI terlebih dahulu memberikan demonstrasi gerakan dasar dansa yang terinspirasi dari suasana pesta topeng dalam kisah Romeo dan Juliet.
Selama kurang lebih 30 menit, peserta didampingi untuk berlatih berbagai gerakan sederhana. Mulai dari posisi berdiri, langkah dasar, hingga koordinasi dengan pasangan dipelajari secara bertahap. Meski awalnya terlihat canggung, suasana perlahan berubah menjadi lebih cair ketika peserta mulai memahami ritme gerakan.
Ketika sesi dansa dimulai, peserta berpasangan dan mempraktikkan gerakan yang telah dipelajari bersama. Cahaya malam di area Amphitheater berpadu dengan suasana romantis khas pesta topeng menciptakan pengalaman yang jarang ditemui dalam kegiatan pembelajaran bahasa Inggris.
Menariknya, konsep dansa dalam workshop ini lahir dari perpaduan berbagai unsur kolaborasi yang bertemu pada momentum yang tepat. Menurut LitSprout.id, kegiatan ini merupakan hasil pengembangan ide workshop dari pengaju proposal yang kemudian dipadukan dengan semangat literasi BIL Fest serta dukungan kolaboratif dari Waltz HMSI.
English Masquerade Night sendiri menjadi salah satu contoh bagaimana LitSprout.id mengembangkan program-programnya. Selain memiliki program yang bersifat tetap, LitSprout.id juga membuka ruang bagi berbagai program kolaboratif yang disesuaikan dengan kebutuhan acara dan kesiapan mitra kerja sama.
Karena baru pertama kali diselenggarakan dalam format ini, pihak penyelenggara tidak menutup kemungkinan untuk menghidupkannya kembali pada kesempatan mendatang apabila mendapatkan respons positif dari masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Vice President LitSprout.id, Hesti Azroq, yang mewakili founder karena berhalangan hadir, turut menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi yang terjalin bersama BIL Fest.
Menurutnya, BIL Fest memberikan ruang yang luas bagi komunitas untuk berekspresi dan menyebarkan kecintaan terhadap literasi melalui berbagai bentuk kegiatan yang kreatif. Ia juga mengaku senang dengan proses kolaborasi yang berjalan cepat, terbuka, dan suportif sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan acara.
“BIL Fest memberikan kebebasan bagi kami untuk mengembangkan konsep kegiatan yang kami bawa. Proses koordinasinya juga sangat cepat dan membantu. Kami merasa senang dan bahagia bisa berkolaborasi dalam acara ini,” ujarnya.
Lebih dari sekadar workshop bahasa Inggris, English Masquerade Night menjadi bukti bahwa literasi dapat hadir dalam berbagai bentuk. Sastra klasik, komunikasi, kreativitas, seni gerak, hingga interaksi sosial dapat dipadukan menjadi pengalaman belajar yang berkesan dan menyenangkan.
Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga merasakan bahwa belajar bahasa Inggris dapat dilakukan dengan cara yang lebih hidup, ekspresif, dan dekat dengan pengalaman nyata. Di tengah semarak BIL Fest 2026, English Masquerade Night berhasil menghadirkan satu pesan penting: literasi akan selalu menemukan jalannya untuk tumbuh ketika diberikan ruang untuk berekspresi.



