PURWOKERTO — Gelaran workshop menulis dengan tajuk “Seni Menulis dari Pengalaman” menyambut sesi pertama BIL Fest 2026 hari ke tujuh, Rabu, (17/06/2026). Workshop menulis bagi pemula ini dipandu oleh Nur Fadhilah Rizqi (Kiki) dengan pemateri hari ini yakni, Wisnu Suryaning Adji (Wisnu), seorang penulis dari ‘Rahasia Salinem’ serta karya-karya lainnya.
Workshop kali ini cukup unik dikarenakan, Wisnu langsung menegaskan sejak awal kalau dia sangat anti dengan format seminar satu arah.
“Belajar itu harus dua arah. Jadi berarti saya juga akan belajar ke teman-teman. Kita semua harus setara,” ujar Wisnu.
Sesi diskusi dimulai dengan pemantik pembahasan tren menulis anak muda zaman sekarang yang banyak menggunakan platform seperti Wattpad dan Alternative Universe (AU). Berbanding terbalik dengan zaman dulu atau mundur sedikit ke beberapa tahun silam. Kiki menceritakan kalau dulu dia mulai menulis tulisannya lewat Blogspot, sedangkan sekarang platformnya sudah jauh lebih modern.
Namun, ada satu masalah klasik yang dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah dialami oleh para penulis pemula. Mereka sering merasa minder karena merasa kehidupan sehari-harinya terlalu biasa dan tidak punya ide besar yang megah untuk ditulis.
Mas Wisnu kemudian langsung meluruskan anggapan keliru tersebut. Menurutnya, seorang penulis fiksi itu sebenarnya tidak pernah berkhayal dari kekosongan total tanpa berpikir. Apa yang dilakukan oleh penulis fiksi sebenarnya adalah proses dekonstruksi dan rekonstruksi ulang terhadap realitas yang ada di dunia nyata.
“Kamu tahu naga, kan? Naga itu wujudnya tidak ada di dunia nyata. Tapi struktur tubuh naga itu sebenarnya adalah jahitan dari realitas yang kita lihat sehari-hari. Sisiknya diambil dari ular, sayapnya meniru kelelawar, dan bentuk tubuhnya menyerupai kadal. Tugas penulis fiksi adalah memecah realitas itu, lalu mengawinsilangkannya menjadi satu sosok baru melalui proses kreatif,” jelas Wisnu.
Untuk meyakinkan para peserta, Wisnu kemudian membedah karya legendaris, Harry Potter. Dia menjelaskan kalau esensi utama dari cerita Harry Potter sebenarnya adalah hal-hal biasa yang dialami semua remaja di dunia nyata, seperti ketakutan menghadapi ujian sekolah, drama pertemanan, kecemasan, dan rasa tidak percaya diri. Cerita itu menjadi sangat luar biasa dan menarik perhatian dunia hanya karena sang penulis memindahkan seluruh emosi dan kejadian biasa tersebut ke dalam konteks dunia sihir. Itulah yang disebut dengan kemampuan memindahkan konteks dalam proses kreatif.
Tidak hanya memberikan contoh dari luar negeri, Mas Wisnu juga membongkar rahasia dapur penulisannya sendiri saat menggarap novel berdasarkan kisah nyata yang berjudul Salinem. Tokoh Salimun dalam novel tersebut adalah sosok yang nyata di kehidupan asli. Ketika melakukan riset sejarah mengenai kehidupan Salimun pada masa pergolakan tahun 1945–1947 di Surakarta, Mas Wisnu menemukan adanya ruang kosong di mana data riset tidak mampu menggambarkan secara utuh seberapa menderita kemiskinan ekstrem yang dialami tokoh tersebut saat itu.
Di sinilah proses kreatif bekerja, di mana Wisnu tidak memindahkan data riset itu mentah-mentah. Untuk menambal ruang kosong tersebut, dia mengambil memori personal dari keluarganya sendiri. Dia memasukkan kisah nyata ibunya yang dulu sangat miskin hingga neneknya terpaksa menjahit kain sprei putih untuk dijadikan seragam sekolah agar ibunya bisa tetap bersekolah. Pengalaman pribadi keluarganya itu kemudian dijahit dan dilebur bersama dengan kisah perjuangan tokoh Salinem.

Dalam sesi tanya jawab di sela acara Seorang peserta bernama Fauzi mengajukan pertanyaan yang menurut saya mewakili perasaan banyak orang di ruangan ini. Dia mengeluhkan masalah mood menulis yang sering naik-turun serta banyaknya distraksi ide baru yang muncul di tengah-tengah saat dia sedang berusaha menyelesaikan satu cerita.
“Menulis itu adalah tentang komitmen dan pemahaman konsep cerita secara utuh dari awal hingga akhir (ending), bukan tentang menunggu perasaan yang enak,” terang Wisnu.
Untuk mengatasi gempuran ide baru yang sering merusak fokus, Wisnu menyarankan para peserta untuk selalu menyediakan satu buku khusus ide. Selain itu, Wisnu juga membagikan trik menulis secara non-linear, di mana dia tidak harus menulis urut dari bab 1 ke bab 2, melainkan melompat menulis adegan-adegan penting yang paling menarik baginya terlebih dahulu.
“Kalau di tengah jalan muncul ide cerita kedua atau ketiga, cukup catat ide tersebut di buku ide agar tidak hilang, lalu segera kembali fokus ke konsep cerita pertama yang sedang digarap,” ujarnya.
Ada satu nasihat dari Wisnu yang benar-benar menampar ego. Dia melarang keras para penulis pemula untuk memindahkan masalah pribadi mereka secara langsung dan mentah-mentah ke dalam karya fiksi.
“Jangan pernah menulis secara langsung tentang diri kamu lewat fiksi. Kenapa? Karena fiksi kamu itu pasti akan dihakimi oleh pembaca atau kritikus di platform seperti Wattpad dan lainnya. Kalau kamu memindahkannya langsung tanpa proses kreatif, kamu akan merasa dirimu sendirilah yang sedang dihakimi. Akhirnya kamu jadi sakit hati, trauma, dan berhenti menulis karena merasa terlalu terikat dengan tulisan itu,” tegas Wisnu.
Solusinya, menurut Wisnu, segala emosi mentah, rasa marah, dan keluh kesah harus ditumpahkan terlebih dahulu ke dalam buku harian. Penulis harus berdamai dulu dengan masalah pribadinya di dunia nyata sebelum emosi tersebut siap diolah, dibelah, diubah konteksnya, dan dijahit menjadi karya fiksi yang objektif.
Dia mencontohkan kisah fiksi fantasinya yang berjudul Legenda Perompak Naga. Cerita perompak tersebut sebenarnya terinspirasi dari keributan besar antara dirinya dengan ayahnya di masa lalu perihal pilihan masa depan, di mana ayahnya memaksa dia masuk jurusan teknik padahal Wisnu ingin menjadi penulis. Wisnu baru bisa menuliskan cerita tersebut dengan sangat bagus setelah dia benar-benar berdamai dan memaafkan kejadian masa lalu bersama sang ayah.




