PURWOKERTO — Gelaran Banyumas International Literacy Festival atau BIL Fest 2026 menyajikan diskusi sastra yang mendalam pada salah satu sesi acaranya. Diskusi publik tersebut dilaksanakan untuk membedah sebuah buku kumpulan reportase seni budaya yang bertajuk “Berkesenian di Tengah Segala Cuaca”, Sabtu, (20/06/2026).
Acara bedah buku yang menghadirkan penulisnya secara langsung ini diselenggarakan di panggung utama festival. Sesi pada sore hari tersebut diikuti secara antusias oleh puluhan audiens yang tersebar memadati seluruh area panggung utama BIL Fest 2026.
Jalannya sesi Bincang Inspiratif ini dipandu oleh Bayu Suta yang bertindak sebagai moderator sepanjang acara. Ia membuka sesi dengan mengulas sedikit mengenai isi buku karya Selvi Agnesia, misalnya biodata singkat sang penulis.
Selvi selaku penulis buku menyampaikan apresiasi besarnya kepada para penggagas festival di awal pemaparan materi. Ia mengucapkan terima kasih karena telah diberikan ruang untuk mengenalkan hasil karya tulisannya kepada masyarakat Banyumas.
“Terima kasih sebelumnya kepada Mba Rahmi dan Mas Neo. Sekaligus Mas Bayu sudah berkenan sebagai moderator,” ujar Selvi.
Selvi memaparkan bahwa keputusan untuk membukukan karya-karya jurnalistiknya dilandasi oleh sebuah alasan personal yang sangat kuat. Ia mengaku memiliki perasaan sentimentil yang mendalam ketika menyadari bahwa beberapa tokoh yang pernah diwawancarainya kini telah tiada.
Salah satu narasumber penting dalam reportasenya yang baru saja meninggal dunia adalah sosok pemuka agama bernama Romo Mudji. Faktor kehilangan tersebut membuat dirinya tergerak untuk mengabadikan catatan-catatan lama agar tidak hilang ditelan waktu.
“Saya juga tidak banyak mengetahui tulisan reportase yang dibukukan. Sebenarnya itu alasan saya membuat kumpulan hasil reportase saya untuk dibukukan,” tuturnya.
Mendengar pemaparan tersebut, Bayu selaku moderator memberikan tanggapannya setelah membaca lembar demi lembar isi buku. Bayu mengaku sangat tertarik pada bahasan bab pertama yang ia nilai mampu memvisualisasikan sebuah realitas yang unik.
“Saya menandai bahasan pertama, seperti memvisualkan dan membayangkan ada satu grup teater yang berlatih di kuburan pemukiman Jakarta untuk berlatih teater,” ujar Bayu.
Keunikan tempat latihan kelompok dramatik tersebut yang menjadi alasan mengapa bab itu diberi judul Teater Kubur. Bayu kemudian melemparkan pertanyaan mengenai alasan mengapa porsi pembahasan mengenai seni teater mendominasi isi buku tersebut.
Selvi menjawab bahwa dominasi tersebut tidak terlepas dari latar belakang sejarah kehidupan personalnya selama ini. Perempuan ini mengaku telah aktif menggeluti dunia seni teater sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Bagi Selvi, seni teater merupakan sebuah media ilmiah yang sangat efektif untuk membedah karakter manusia secara mendalam. Seni pertunjukan ini dinilai memiliki keunikan tersendalah jika dibandingkan dengan cabang kesenian yang lain.
“Menurutku teater itu laboratorium untuk melihat manusia melihat tubuhnya secara real, kita bisa melihat secara nyata atau mengambil secara realitas di panggung,” ucap Selvi.
Selvi menambahkan bahwa karakteristik seni teater sangat cocok dengan judul utama yang ia sematkan pada bukunya. Karakteristik pejuang panggung tersebut selvi nilai mencerminkan esensi dari frasa berkesenian di tengah segala cuaca.
“Saya menulis dalam pengantar saya bahwa apresiasi dengan segala hal kesenian,” tutur Selvi.
Selvi menegaskan bahwa seluruh pengalaman reportase menguatkan kesimpulannya mengenai kegigihan para seniman panggung. Menurutnya kenapa kebanyakan teater yakni, berdasar pada beberapa pengalaman ini, berkesenian di tengah segala cuaca.
Bayu kemudian mengutip poin menarik lain dari pembahasan mengenai Teater Kubur di dalam buku tersebut. Menurut moderator, kelompok tersebut mengusung filosofi kuat bahwa rumah adalah wujud dari keluarga sekaligus cerminan dari bangsa.
Filosofi tersebut menegaskan bahwa rumah sebagai identitas pertahanan tidak boleh direnggut atau dirusak oleh siapapun. Menanggapi ulasan Bayu, Selvi menjelaskan bahwa tulisan tersebut sebetulnya dibuat menggunakan gaya jurnalisme feature.
Selvi memaparkan bahwa kalimat-kalimat filosofis tersebut merupakan hasil kutipan dari pernyataan asli tokoh teater bernama Dindon. Kelompok Teater Kubur dinilai sukses karena berani menjadikan masyarakat biasa sebagai aktor atau pemain teater itu sendiri.
“Bagaimana Dindon ingin anak-anak dapat beraktivitas dengan positif. Itulah Dindon melatih mereka dan membuat teater kubur hingga mendapatkan juara,” kata Selvi menerangkan.
Selvi menyebutkan bahwa seluruh pernyataan lisan dari Dindon tersebut kemudian ia refleksikan kembali ke dalam narasi buku. Ia menambahkan bahwa jangan sampai lupa dengan rumah kita sendiri, sebagai identitas rumah bangsa kita.
Selain Teater Kubur, Selvi membedah bagian lain di bukunya yang mengulas tentang pementasan legendaris berjudul Sampek Engtay. Pada bab pertunjukan tersebut, terdapat kutipan dari tokoh teater nasional bernama Mas Nano yang bernaung di Teater Koma.
Mas Nano menjelaskan bahwa ia sengaja menggunakan media teater sebagai alat untuk mengungkapkan berbagai bentuk keresahan sosial. Ungkapan kritis tersebut diselipkan secara cerdas ke dalam dialog pementasan, khususnya yang menyoroti isu etnis Tionghoa.
“Para aktivis teater ya mereka menggunakan teater sebagai wadah untuk menuangkan keresahannya,” kata Selvi.

Bayu Suta kemudian mengalihkan pembahasan dengan menyoroti fenomena sosial mengenai aktivitas melukis yang dilakukan mantan Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bayu menyinggung realitas di mana hasil karya lukisan mantan kepala negara tersebut dihargai dengan nilai yang sangat mahal.
“Pendapat saya SBY itu seniman anak kemarin sore, tapi dia mantan presiden,” ujarnya.
Menurut Selvi, jika dilihat dari aspek teknis murni, kualitas lukisan yang dihasilkan sebetulnya tergolong biasa saja. Ia menilai tingginya harga jual lukisan tersebut bukan disebabkan oleh faktor keindahan teknik, melainkan karena aspek non-teknis.
Lebih lanjut, Selvi membagikan kriteria dan indikator mengenai prasyarat untuk menjadi seorang seniman yang sukses. Menurutnya, seorang seniman yang berhasil wajib memiliki kepekaan atau sifat aware yang tinggi terhadap isu-isu di masyarakat.
Selain kepekaan sosial, seniman juga dituntut memiliki pengetahuan seni yang luas serta kemampuan berbahasa Inggris yang baik. Modal krusial terakhir yang tidak boleh dilupakan adalah kepemilikan jaringan atau kenalan dengan kurator seni internasional.
Bayu kemudian menyitir pemikiran dari tokoh seni Alif Ambara yang selalu menekankan bahwa seni tidak boleh berjarak dengan kemanusiaan. Ia mempertanyakan apakah setiap karya seni yang lahir memang wajib memuat nilai-nilai kemanusiaan di dalamnya.
Selvi membenarkan bahwa perkara tersebut hingga kini masih menjadi sumber kegelisahan utama bagi banyak seniman. Hal itu terjadi karena karya seni yang tidak memiliki muatan kemanusiaan sering kali terasa hampa atau kosong begitu saja.
Selvi kemudian mengutip pandangan dari maestro lukis Sudjojono yang melarang seniman hanya melukis objek yang indah-indah saja. Menurut Sudjojono, para seniman memiliki kewajiban moral untuk melukis objek yang sesuai dengan realitas kehidupan nyata.
“Seni menurut saya yakni sebagai senjata,” tegas Selvi.
Bayu Suta membenarkan hal itu dan mengutip salah satu halaman buku yang menyebut seniman harus menguasai kemampuan manajemen. Jika seorang seniman tidak memiliki kemampuan manajemen organisasi yang baik, hal tersebut lambat laun akan membunuh dirinya sendiri.
Bayu juga menemukan satu poin inti yang merangkum seluruh filosofi kehidupan berkesenian di dalam buku tersebut. Poin tersebut menerangkan bahwa dalam dunia seni, proses perjuangan merupakan hal yang paling penting dibandingkan hasil akhir.
“Ya proses itu yang paling penting, proses yang akan menghasilkan hasil itu bagus atau tidak,” jawab Selvi.
Selvi menegaskan bahwa pencapaian tertinggi dari sebuah dedikasi kesenian terletak pada prosesnya, bukan dari hasil akhir. Prinsip ini dapat menjadi bahan refleksi bersama bahwa apapun yang ingin dicapai dalam hidup memang menuntut kegigihan.
Terkait tingkat kesejahteraan finansial atau value hidup para seniman saat ini, Selvi mengaku merasa cukup sedih. Ia tidak menampik bahwa jumlah seniman yang mampu meraih kekayaan materi yang berlimpah hanyalah sebagian kecil saja.
Meskipun demikian, para seniman sejati dinilai memiliki kekayaan batin yang luar biasa melalui karya-karya yang mereka lahirkan. Melalui media seni itulah mereka dapat melampiaskan segala bentuk kegelisahan hidup yang berkecamuk di dalam pikiran.
Menurut Selvi, realitas kehidupan seniman memang sangat sulit jika harus dijelaskan dalam kerangka berpikir pragmatisme modern. Tokoh-tokoh seniman yang ia tulis di dalam bukunya merupakan individu pilihan yang sabar melewati proses panjang.
Para seniman tersebut teguh meyakini nilai kemanusiaan dengan memiliki tujuan hidup yang jelas serta memberikan kebermanfaatan terhadap sesama. Bayu kemudian menanyakan seberapa dekat hubungan personal antara Selvi dengan tokoh-tokoh pemuka agama yang ditulisnya.
Selvi menjelaskan bahwa di dalam bukunya ia mengulas profil Romo Mudji, Romo Magnis, dan Romo Sandi. Kemudian ia menegaskan bahwa dirinya mengenal baik para tokoh tersebut dalam kapasitasnya sebagai seorang jurnalis profesional.
Selvi menceritakan bahwa para pemuka agama tersebut selalu menyambutnya dengan tangan terbuka selama maksud pertanyaan yang diajukan jelas. Namun, ia mengaku sering dibuat terkejut dan kagum ketika mendengar jawaban langsung yang keluar dari mulut mereka.
Menurut Selvi, para romo tersebut merupakan figur yang sangat cerdas, tidak hanya dalam urusan akademis tetapi juga perihal iman. Mereka dinilai memiliki komitmen iman yang kuat untuk mengabdikan hidupnya melayani kepentingan masyarakat luas.
“Mereka tidak hanya melalui altar tetapi juga melayani ilmu dan seni. Saya menghasilkan beberapa jawaban dan ditulis dalam buku ini,” tutur Selvi.
Selvi kemudian melemparkan pertanyaan retoris kepada audiens mengenai siapa musuh terbesar masyarakat di era modern sekarang. Menurutnya, kehadiran teknologi digital saat ini telah berubah menjadi fenomena pisau bermata dua bagi peradaban manusia.
Di satu sisi teknologi bisa menjadi sangat toxic, namun disisi lain tetap memberikan banyak manfaat jika dikelola benar. Oleh karena itu, diperlukan adanya edukasi yang masif dan berkelanjutan untuk memperbaiki dampak buruk teknologi tersebut.
Sebagai penutup, Selvi membagikan tips mengenai cara menjaga kemandirian berkarya di bawah bayang-bayang modernisasi. Ia meminta generasi muda untuk tidak takut melahirkan karya-karya baru yang didasari atas kejujuran berpikir.
“Ya berkarya dengan jujur dan berkarya dengan hal-hal yang sesuai dengan kegelisahanmu,” pungkasnya.



