PURWOKERTO – Gelaran Banyumas International Literacy Festival atau BIL Fest 2026 menghadirkan ruang kreativitas baru berupa sesi kelas praktik merangkai bunga ramah lingkungan bagi para pengunjung. Agenda interaktif tersebut diselenggarakan di area Hetero Space atau bagian amphitheater, Sabtu, (20/06/2026).
Kelas praktik atau workshop merangkai bunga tersebut dipandu langsung oleh Bekti Nur Hidayah yang akrab disapa dengan panggilan Welas selaku sosok perajin bunga melalui Karuna Flora. Sesi pembuatan karya seni ini diikuti secara antusias oleh puluhan pengunjung dari berbagai latar belakang pendidikan tinggi.
Welas menjelaskan bahwa dirinya memiliki latar belakang profesi sebagai seorang florist profesional yang secara khusus bergerak dalam pelaksanaan berbagai kegiatan workshop. Ia secara konsisten mengusung konsep pembuatan karangan bunga yang berfokus pada penggunaan material ramah lingkungan di masyarakat.
Menurut Welas, kesadaran ini muncul karena kondisi bumi saat ini dinilai sedang berada dalam keadaan yang kurang baik. Melalui kelas kreatif di festival ini, ia ingin mengajak publik secara luas untuk mulai menggunakan bahan-bahan alternatif.
“Jadi aku mengajak orang lain buat kita merangkai bunga dengan bahan-bahan atau material yang ramah lingkungan seperti itu,” kata Welas.
Welas mengaku cukup kesulitan jika harus menjelaskan secara detail mengenai alasan mendasar awal mula dirinya menyukai dunia flora dan merangkai bunga. Ia menyatakan bahwa kepribadian dirinya pada dasarnya bukanlah tipikal orang yang romantis dalam urusan asmara atau bidang romansa.
Namun, Welas memandang bunga memiliki fungsi sosial yang sangat universal sebagai media untuk mengekspresikan emosi positif kepada sesama manusia. Bunga dinilai menjadi salah satu instrumen terbaik bagi seseorang untuk mengungkapkan perasaan atau memberikan apresiasi tinggi kepada orang lain.
Apresiasi tersebut bisa ditujukan kepada figur ibu, ayah, teman terdekat, hingga kepada siapa saja yang dinilai layak menerima penghormatan.
“Apresiasi bisa kita ungkapkan lewat bunga gitu,” tutur Welas.
Welas menceritakan awal mula ketertarikannya mendalami seni merangkai bunga berawal dari hobi melihat visual tanaman yang indah. Momentum ketertarikan tersebut mulai tumbuh secara serius saat dirinya menghadapi masa pandemi Covid-19 beberapa tahun yang lalu, ia secara mandiri belajar melalui tayangan video di platform Youtube.
Welas menjelaskan bahwa program pelatihan publik yang diampunya selalu memberikan kesan dan pengalaman yang berbeda di setiap kota. Ia tercatat pernah menyelenggarakan kegiatan serupa di wilayah Yogyakarta, Surakarta, Salatiga, hingga akhirnya berkesempatan tampil di Purwokerto.
“Entah itu hanya lingkungan-lingkungan kecil, hanya 10 orang, setidaknya aku pernah membuat karya disini,” ujar Welas.
Dalam sesi pengajaran, Welas memperkenalkan teknik merangkai bunga dengan metode spiral sebagai dasar pembuatan susunan tanaman agar seimbang. Bahan-bahan yang disiapkan meliputi media kertas samson, tali pengikat, kain perca sebagai pelengkap, serta dua jenis bunga.
Welas menggunakan paduan bunga aster berukuran besar sebagai komponen utama dan beberapa jenis bunga berukuran kecil sebagai pemanis. Penggunaan media kertas samson sengaja dipilih menggantikan bahan plastik sebagai komitmen nyata untuk menekan jumlah sampah plastik.
Welas mengawali sesi dengan melemparkan pertanyaan interaktif kepada para pengunjung mengenai pengalaman awal mereka dalam merangkai tanaman. Setelah itu, ia membagikan seluruh perlengkapan serta bahan baku bunga kepada peserta yang duduk di depan panggung.
“Awali dengan merapikan batang dari daun atau dapat juga dipotong,” jelasnya.
Welas mengajak seluruh pengunjung untuk bersama-sama memotong batang dan mencabut bagian daun tanaman agar tampilan dekorasi terlihat lebih rapi. Ia kemudian mencontohkan teknik spiral dengan cara menyilangkan batang tanaman secara konsisten di titik tengah pegangan tangan.

Proses penyusunan dimulai dengan menempatkan bunga aster berukuran besar pada posisi paling belakang sebagai latar belakang utama rangkaian. Setelah komponen utama terpasang, barulah bunga pemanis berukuran kecil disisipkan secara cermat untuk mengisi ruang-ruang yang kosong.
“Bunga-bunga yang kecil ini ditaruh pada bagian depannya untuk mengisi ruang kosongnya,” kata Welas memandu.
Ia menyarankan agar pengaturan posisi bunga kecil dibuat secara tidak beraturan namun tetap memperhatikan keseimbangan titik tengah rangkaian. Pengaturan yang natural akan memunculkan nilai estetika yang tinggi pada hasil akhir karya seni kerajinan tangan tersebut.
“Biasanya kan diselotip, tapi kali ini menggunakan tali,” tutur Welas.
Welas menegaskan peserta tidak perlu terlalu mengkhawatirkan keserasian jenis simpul tali yang digunakan untuk mengikat batang tersebut. Hal paling krusial yang wajib diperhatikan oleh peserta adalah kekuatan ikatan agar susunan bunga tidak bergeser.
“Tidak perlu memperhatikan tali untuk mengikatnya boleh tali mati yang ter terpenting kencang,” ucapnya.
Setelah ikatan dipastikan kuat, langkah berikutnya adalah melakukan proses pembungkusan atau wrapping menggunakan media kertas yang sudah disiapkan. Peserta diminta menyiapkan dua lembar kertas samson untuk menutup seluruh bagian bawah rangkaian bunga.
“Fase selanjutnya adalah menyiapkan kertas samson untuk menutup rangkaian bunga tadi,” tambah welas.
Setelah bagian depan rangkaian tertutup kertas samson, peserta diminta menggunakan kain perca untuk menutup lekukan kertas agar terlihat estetis. Sesi pembuatan kerajinan tangan ini diakhiri dengan mengikat bagian luar samson menggunakan pita warna-warni secara rapi.
Pada akhir sesi, Welas meminta seluruh peserta untuk melakukan pembersihan dan merapikan kembali sisa potongan batang di sekitar meja kerja. Langkah pembersihan ini menjadi bagian tidak terpisahkan dari prinsip menjaga kelestarian lingkungan yang diusung sejak awal.
Kelas praktek ini mendapatkan apresiasi tinggi dari salah satu audiens bernama Umi yang merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Ia mengaku tidak menyangka bahwa festival literasi ini akan menyediakan fasilitas workshop pembuatan karya seni secara gratis.
“Of course, seru banget ya. Aku jujur nggak expect kalau ada workshop bikin bunga dan gratis, karena itu jarang banget menurut aku,” puji Umi.
Umi merasa sangat terbantu karena seluruh kebutuhan peralatan, bahan wrapping, hingga bunga aster telah disediakan secara lengkap. Ia menilai proses pendampingan dilakukan secara telaten karena diajarkan satu per satu dari dasar.
Umi menjelaskan bahwa aktivitas merangkai bunga ini merupakan pengalaman pertamanya. Ia menambahkan bahwa bekerja di sebuah toko bunga, namun Umi belum pernah merangkai bunga.
“Jadi untuk pengalaman merangkai bunga ini seru banget sih. Dan jadi satu experience baru gitu,” ucapnya.
Umi menambahkan bahwa kesempatan praktik langsung ini menjadi sebuah memori yang sangat berkesan bagi perjalanan hidupnya di masa kuliah. Ia menilai pelaksanaan BIL Fest tahun ini telah mengalami peningkatan kualitas yang sangat pesat dibanding penyelenggaraan tahun sebelumnya.
“Semoga di tahun depan diadakan lagi workshop-workshop kayak gini. Karena seru banget dan jadi core memory gitu loh,” harapannya.
Pernyataan tersebut selaras dengan harapan dari Welas selaku pemateri yang menginginkan agar ruang berkarya bagi masyarakat terus dibuka lebar. Welas mengenang masa-masa dahulunya saat menjadi mahasiswa di Purwokerto di mana tingkat ketertarikan publik terhadap dunia literasi dinilai masih sangat minim.
Welas merasa bersyukur karena kehadiran BIL Fest 2026 mampu mematahkan kondisi tersebut dengan menyediakan ruang inklusif bagi siapa saja yang ingin melahirkan karya seni. Pertunjukan merangkai bunga ramah lingkungan ini ditutup dengan sesi dokumentasi bersama antara pengajar, panitia, dan seluruh peserta kelas praktik.



