YOGYAKARTA. Sore itu, kawasan Prambanan dipadati pengunjung. Kemacetan mengular menuju pintu masuk, sementara kerumunan terbentuk di sekitar area verifikasi tiket. Ada yang datang bersama keluarga, bergerombol dengan teman, atau memilih menikmati festival seorang diri.
Memasuki tahun kelimanya, Cherry Pop 2026 digelar pada 22–23 Agustus di kawasan Prambanan, Yogyakarta. Festival ini mengusung tema “Repelita Musik” dan menghadirkan empat panggung dalam satu kawasan dengan rangkaian penampilan dari sejumlah musisi.
Pada hari pertama, sejumlah nama seperti Maliq & D’Essentials, FSTVLST, ALI, Dongker, The Panturas, hingga proyek kolaborasi Never Mind “THE” X Future Laundry mengisi panggung-panggung yang tersedia.
Empat panggung dengan karakter yang berbeda membuat pengunjung memiliki pengalaman yang beragam selama berpindah dari satu area ke area lainnya. Dengan jadwal penampilan yang berdekatan, penonton juga harus memperhitungkan waktu ketika dua musisi yang ingin mereka saksikan tampil hampir bersamaan.
Salah satu pengunjung, Shafa, mengaku datang karena tertarik dengan deretan penampil pada hari pertama. The Panturas, Dongker, ALI, hingga FSTVLST menjadi beberapa nama yang membuatnya antusias datang untuk pertama kalinya ke Cherry Pop.
Keinginannya menyaksikan sejumlah penampil membuat Shafa harus berpindah-pindah panggung. Saat FSTVLST tampil, ia memilih berlari menuju panggung The Panturas. Akibatnya, ia hanya sempat menikmati penampilan “Jefferson” dari FSTVLST sebelum kembali berpindah panggung. Ketika proyek kolaborasi Never Mind “THE” mulai tampil, ia masih berada di panggung The Panturas dan baru berpindah pada lagu terakhir.
“Venuenya unik si. Belum pernah nonton konser di sini, ya. Walaupun udah tahu kalau jalan kakinya lebih jauh. Terus yang paling menarik mungkin first time nonton ALI ya, dapet depan lagi”, ujar Shafa.
Jika hari pertama bagi Shafa diwarnai perpindahan antarpanggung untuk mengejar penampilan yang diinginkan, hari kedua menghadirkan pengalaman yang berbeda. Kepadatan pengunjung menjadi salah satu hal yang paling terasa, terutama ketika sejumlah musisi dengan basis pendengar besar tampil berdekatan.
Menurut Tika, perbedaan kepadatan tersebut dipengaruhi oleh persebaran penampil. Pada hari pertama, musisi dengan jumlah pendengar besar tersebar di beberapa panggung sehingga kerumunan tidak terpusat pada satu area. Sementara pada hari kedua, sejumlah penampil dengan basis penggemar besar memiliki jadwal yang berdekatan sehingga kepadatan lebih mudah terjadi.
Kondisi tersebut juga dirasakan Amar, salah satu pengunjung pada hari kedua. Menurutnya, kepadatan pengunjung bahkan mulai terasa sebelum memasuki area festival. Meski demikian, keramaian tersebut tidak mengurangi keseruan suasana festival baginya.
Penutupan hari kedua menjadi salah satu bagian yang paling berkesan bagi Amar. Penampilan Objek Vital Nasional (OVN) di panggung Cherry menurutnya menjadi salah satu momen paling pecah malam itu.
Di luar pengalaman menikmati pertunjukan, Amar juga menaruh harapan pada keberlanjutan Cherry Pop. Ia berharap festival tersebut tidak hanya menghadirkan gebrakan baru setiap tahunnya, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi band-band yang sedang merintis untuk menemukan pendengarnya.
“Harapan buat Cherypop semoga tiap tahun selalu ngadain dan ada gebrakan baru lagi yang tak terduga seperti tahun ini. Semoga Cherypop bisa buat wadah untuk band-band baru yang lagi merintis agar bisa maju dan terkenal untuk kedepannya,” ujar Amar.
Pada akhirnya, empat panggung di Cherry Pop menawarkan pilihan yang berbeda bagi setiap pengunjung, dan setiap pilihan berarti ada penampilan lain yang harus dilewatkan.


