
“Jangan takut, kamu adalah kamu, dan dia adalah dia, dan kamu bukan dia.” Begitulah cara beliau menenangkanku dengan suara khasnya. Semua orang sore itu telah pergi dari kelas untuk mempersiapkan diri mereka untuk salat; nyaris saja aku menangis.
Dalam hidup, kita pasti memiliki orang yang kita hormati. Yang pertama jelas orang tua kita, kemudian guru-guru kita, atau pelatih koor.
Dahulu aku begitu ragu dengan diriku, yang memiliki banyak energi dan kurang bisa memanfaatkannya dengan baik, sampai aku bertemu dengan beliau ini. Sosok yang lebih cocok disebut bapak ketimbang sekadar pelatih. Aku sangat terinspirasi; cara beliau mengajar dan memberi kita pengertian begitu khas dan sangat memudahkan, dengan petunjuk-petunjuknya yang menggunakan gestur tubuh.
Panjang sekali perjalananku setelah ini—lika-liku perlombaan dan serak-serak suara—hingga aku ditunjuk sebagai andalan dalam setiap acara. Kami dijejali materi-materi baru dari berbagai lagu dan event, dan itu harus “dimakan” dan “dikunyah” dengan enak, entah apa pun bentuk yang beliau sampaikan.
Bimbingan beliau begitu dahsyat menemani kita hingga terbentuklah tim paduan suara yang, jika suaranya tidak dipegang oleh keyboard beliau, bisa lepas seperti burung dan berhamburan. Tim sukses ini telah mendapat kepercayaan banyak pihak, dan selain karena kekompakan dan kedisiplinan tim, juga karena suara merdu milik anggota andalan yang paling diandalkan.
Beberapa hari setelah tim selesai melaksanakan agenda oleh pondok untuk mengiringi sebuah upacara, aku mendengar bahwa kita akan kembali hadir dalam acara besar yang akan dihadiri tak kurang dari 4.000 orang. Seharusnya ini menjadi ajang untuk menunjukkan betapa dahsyatnya paduan suara Zam-Zam, tetapi anggota yang paling diandalkan sedang diandalkan pihak lain karena agenda yang berbarengan. Dengan ini, hadirlah aku sebagai pahlawan yang diamanahkan untuk mengganti posisinya.
Tak bosan-bosan aku menggumam dan murajaah (red. mengulang) lirik yang akan kunyanyikan secara solo di acara tersebut. Aku berdoa semoga tak ada kesalahan dan bersyukur bahwa sampai gladi bersih pada hari terakhir, kita bisa mempersiapkan acara supaya lancar.
Pada hari H, kita akan mengiringi 4.000 orang menyanyikan “Indonesia Raya” dan “Mars Muhammadiyah”. Tak ada keraguan saat aku melangkah ke atas panggung bersama rekan-rekanku, ketika aku menggenggam erat mikrofon, di mana aku akan menjadi solois “Mars Muhammadiyah”.
Pergantian lagu dari “Indonesia Raya” menuju “Sang Surya”, aku akan maju pada bagian lagu dan reff. Ketika intro, tak ada masalah pada suaraku hingga kusadar bahwa mikrofonnya tidak menyala. Penanggung jawab berseru kecil kepada operator untuk menaikkan volume. Mana aku tahu mikrofonnya sudah menyala atau belum? Kepalaku diisi oleh jantungku yang sepertinya pindah ke otak. Pada bagian reff, di hadapan tak kurang dari—kini—5.000 orang, aku salah menyebutkan satu kata pada salah satu baris lirik. Aku tetap berusaha menyelesaikan lagu (red. show must go on*) dengan baik hingga akhir dan tidak berhenti, lalu menangis di atas sana.
Hingga kini, betapa takutnya aku untuk mengatakan kesalahanku pada pelatih. Namun, beliau hanya tersenyum dan tertawa kecil ketika aku mengakui kesalahanku. Ingin sekali aku memeluknya, tapi itu kan bapak kesekian bagiku?
* show must go on adalah ungkapan yang menggambarkan sikap tetap tampil dan percaya diri meski ada kesalahan.





