Hikayat Puspa Bulan

Di wilayah bagian barat daya Pulau Borneo Nusantara, terdapat sebuah bukit bernama Tombak Bulan. Istilah tersebut diambil dari fenomena alam yang terjadi di tiap bulan purnama di sana, saat secercah cahaya bulan tampak menyinari puncak bukit itu.

Terdapat dua suku yang mendiami lereng bukit Tombak Bulan, yakni Suku Langit dan Suku Bumi. Dua suku yang terdiferensiasi lantaran menyembah dewa yang berbeda. Suku Langit adalah pengikut asli Dewa Langit, sementara Suku Bumi adalah pengikut asli Dewi Bumi.

Menurut cerita yang ada di kedua suku tersebut, puncak bukit Tombak Bulan adalah tempat pertemuan antara Dewa Langit dan Dewi Bumi memadu kasih. Tepatnya, pada purnama ketiga belas, menjadi waktu istirahat mereka dari belenggu tanggung jawab kedewaan yang mengharuskan mereka jadi penjaga keseimbangan alam semesta.

Purnama ketiga belas di Tombak Bulan dianggap jadi waktu yang sakral bagi Suku Langit dan Suku Bumi. Pasalnya, di malam itu, saat sinar bulan begitu terang menerangi puncak bukit Tombak Bulan, sekuntum bunga Puspa Bulan akan mekar sepanjang cercah cahaya candra di malam itu ada.

Puspa Bulan adalah bunga yang muncul sebagai bentuk cenderamata Dewa Langit untuk Dewi Bumi sebagai bentuk pertalian kasih antara keduanya. Dua kelompok suku itu percaya bila Puspa Bulan adalah bunga keramat yang bisa mendatangkan berkat dewa bila dimasukkan ke dalam sajian persembahan mereka.

Sebab Puspa Bulan hanya muncul sekuntum saja dalam kurun waktu tiga belas bulan tersebut, untuk menghindari konflik antar suku, ataupemimpin masing-masing suku memiliki perjanjian, bahwa, mereka hanya diperbolehkan memanen Puspa Bulan per dua siklus sekali. Di mana waktu ini adalah giliran memanen bunga untuk Suku Bumi.

***

Angin yang berhembus pada siang hari di Bukit Tombak Bulan terasa segar. Amiru, bocah kecil bertopi kerucut berlari-lari di sekitar pematang bukit sambil menggembalakan Bona, anak kambing hitam putih, satu-satunya sahabat yang ia miliki.

Binar matahari yang semula tertutup awan kini menembus celah mega, membentuk sebuah sorot cahaya yang terfokus pada satu titik. Amiru menyipitkan mata melihat ke arah sorotan cahaya tersebut, lalu mendapati sekuntum bunga berwarna biru yang tengah mekar di bawah rindang semak belukar.

Amiru mendekati kuncup bunga itu. Ia memperhatikan proses pemekaran bunga biru itu hingga penuh sempurna. Tangannya menyentuh kelopak bunga. Tak sengaja, sekuntum bunga itu terpetik.

Amiru berlari menghampiri Bona.

“Bona! Lihat apa yang kutemukan!” hati-hati ia membuka telungkupan tangan, memperlihatkan sekuntum bunga biru yang masih segar habis mekar.

Bona menyorongkan moncongnya ke telapak tangan Amiru, membaui bunga itu, sebelum akhirnya ia membuka mulut dan dalam sekali hap langsung mengunyah sekuntum bunga itu sekaligus.

“Bona!” seru Amiru terlambat.

Bona tidak peduli, tetap mengunyah-kunyah bunga itu.

Amiru tidak tahu bila selama proses mengunyah, pupil mata Bona membesar. Disusul dua telinga dan ekor Bona, berdiri. Secara tiba-tiba Bona melompat-lompat kegirangan. Lincah, Bona berlari-larian mengitari ladang rerumputan.

Ia menjadi tak terkendali, sebelum akhirnya menghilang pergi.

“Bona! Tunggu aku!” Amiru berteriak sambil mengikuti Bona yang berlari menuruni bukit Tombak Bulan.

***

Di sisi lain, para tetua Suku Bumi sedang berkumpul mengitari api unggun sambil menekuk muka, berpikir. Baru kali ini terjadi selama puluhan tahun persekutuan suci terjalin antara Suku Bumi dan Suku Langit, bilamana Puspa Bulan yang harusnya mekar di puncak bukit Tombak Bulan pada purnama malam ini, hilang tak bersisa.

“Suku Langit pasti mencurinya!” seru Tobi, salah satu anggota dalam perkumpulan.

“Kita masih belum tahu pasti.” Sergah Matua Lana, satu-satunya perempuan dalam lingkaran tetua Suku Bumi, seorang penyembuh yang disegani.

Sedari tadi, ia melihat arah kegelapan hutan dengan gelisah. Sekelompok utusan Suku Bumi telah dititahkan untuk menghadap Kepala Suku Langit, menanyakan perihal hilangnya Puspa Bulan dari puncak bukit Tombak Bulan. Secara implisit menanyakan tentang kesetiaan mereka akan perjanjian yang telah berpuluh tahun dihormati.

Baik ‘iya’ atau pun ‘tidak’ jawaban yang keluar dari mulut Suku Langit, kedua hal itu mengarah ke putusan yang sama; perang antarsuku. Hal yang sama-sama dipahami oleh kedua belah pihak saat mereka mempertanyakan tentang perjanjian.

“Kita semua tahu, alam sedang tidak baik pada kita. Terjadi banyak perubahan cuaca, musim. Saat hujan, air terlalu meluap. Jadi banjir, banyak longsor, beberapa tanah kita ambrol. Saat kemarau, air pun kita tak sedia. Gagal panen. Makanan kita kurang. Puspa Bulan itu adalah cara kita bisa keluar dari masa paceklik ini. Itu cara agar persembahan kita diterima oleh Dewa Bumi. Tapi sekarang hilang, itu pasti dicuri!” argumen Tobi yang berapi-api disambut sorak sorai dari mayoritas anggota perkumpulan.

Ronan, sang Alfa, Kepala Suku Bumi, berdehem nyaring.

“Kita tunggu informasi dari kawanan kita!” sergahnya, membungkam seluruh mulut manusia yang turut mengitari api unggun di malam itu.

Sementara malam makin larut, dan sinar bulan perlahan mulai mendekati purnama. Terdengar suara keresak semak belukar dari dalam hutan.

Satu per satu, tiga pemuda muncul dari dalam gelapnya siluet hutan lereng bukit Tombak Bulan.

“Kami menghadap para tetua Suku Bumi kita.” Leri membungkuk kepada para tetua, diikuti oleh dua rekannya.

Orang-orang yang melihat ketiga pemuda tersebut menampakkan ekspresi harap-harap cemas.

“Bagaimana?” Matua Lana bertanya tanpa menutupi kekhawatiran yang sejak tadi membelenggu batinnya.

Leri terdiam, pandangannya terkunci pada Kepala Suku Ronan yang menatap mereka penuh khidmat seolah tengah memikirkan sesuatu hal yang lain.

“Jadi betul mereka mengambilnya?” Tobi menyalak.

Leri menggeleng tegas.

“Mereka tidak mengambil kuncup Puspa Bulan.”

Jawaban Leri menyisakan napas yang tertahan dari para tetua Suku Bumi, disusul seruan riuh dari kerumunan orang-orang yang mendengar. Bukan itu jawaban yang ingin mereka dengar keluar dari mulut pemuda yang jadi representasi kelompok mereka di wilayah suku lain.

“Hilangnya Puspa Bulan adalah fakta. Tentu kita tidak bisa membiarkan hinaan ini terjadi! Mereka terlalu congkak dan memandang rendah kita, yang mereka pikir tidak bisa menjaga dan menghormati perjanjian suci.” Leri bercerita dengan mata berapi-api, kembali disambut dengan soraian anggota yang lain.

Ronan manggut-manggut, kembali ia mengangkat tangan menyuruh anggotanya untuk diam.

“Bila begitu adanya, kita tidak ada cara lain selain melawan.” Katanya tenang, tapi serupa ketenangan sebelum badai.

Selepas ultimatum yang katakan Kepala Suku Ronan terucap. Seketika itu pula sorak-sorai dari para tetua itu pecah.

“KITA LAWAN MEREKA! SERANG MEREKA!” Tobi berteriak heboh, disahuti dengan hentakan kaki dan tangan para anggota perkumpulan.

Mereka sangat bersemangat dengan keputusan yang dipilihkan oleh Kepala Suku Ronan. Terkecuali Matua Lana, yang berjalan gontai sambil diam-diam masuk ke dalam kegelapan hutan lereng bukit Tombak Bulan.

***

Amiru menepuk-nepuk punggung Bona sambil berjalan menuju gubuk tua yang jadi rumahnya. Lama ia mengejar Bona yang jadi tak terkendali setelah makan bunga biru dari puncak bukit Tombak Bulan itu.

Purnama ketiga belas akan segera terjadi, pasti saat ini orang-orang kampungnya sedang sibuk mempersiapkan sajian untuk acara persembahan kepada Dewa Bumi besok, termasuk neneknya.

Terdengar suara kresek-kresek dari dalam kegelapan hutan, saat Amiru hendak membuka pintu rumah. Amiru memperhatikan siluet kegelapan hutan yang pelan-pelan menampakkan Matua Lana berjalan gontai menuju rumahnya.

“Nenek!” seru Amiru langsung memapah Matua Lana.

“Sebuah perang akan terjadi antara Suku Bumi dan Suku Langit!” Matua Lana berkata dengan lemas.

Amiru tercengang.

“Puspa Bulan tiba-tiba menghilang.”

“Puspa Bulan hilang? Kenapa?” tanya Amiru tak meragukan.

Matua Lana mengamati cucu laki-lakinya dengan putus asa.

“Kami tak tahu. Tapi, para tetua yang ditugaskan menjaga kuncup Puspa Bulan itu bilang jika kuncup bunga itu tak ada. Tampaknya bunga itu muncul dan mekar di waktu yang tidak seharusnya.”

Amiru coba menyatukan kepingan-kepingan informasi di dalam kepalanya. Bocah itu terbelalak saat menemukan jalur benang merah kejadian hari ini. Refleks, Amiru langsung menarik tali kekang Bona. Mengajaknya berlari sekencang mungkin untuk sampai di hadapan Kepala Suku Ronan. Tak mendengar seruan Matua Lana yang menghendaki agar cucu satu-satunya itu tetap aman di rumah dengan pintu terkunci.

***

Amiru gelisah, purnama telah berlalu dan saat ini fajar mulai menyingsing. Biar bagaimana pun, ia harus bisa berkomunikasi dengan Kepala Suku Ronan sebelum peperangan itu terjadi. Bersama Bona, Amiru berlari menyusuri jejak tapal kuda yang ditinggalkan rombongan Kepala Suku Ronan.

Hingga ia melihat siluet rombongan kuda milik Kepala Suku Ronan, kemudian mempercepat laju larinya.

Sosok siluet Amiru dan Bona tertangkap mata Kepala Suku Ronan. Ia pun melambatkan laju kudanya.

“Amiru? Ada apa?” tanya Ronan sambil memperhatikan bocah laki-laki di depannya dengan napas yang tinggal satu-satu dan anak kambing yang tak jauh berbeda keadaannya dengan bocah itu.

“Kepala Suku, mereka tidak bersalah! Kita harus menghentikan rencana peperangan ini!”

“Menghentikan peperangan ini katamu? Dengan pasukan batalion mereka yang sudah siap menyerang kita?” katanya sambil menunjuk tempat di seberang sungai bukit Tombak Bulan, yang notabene merupakan perbatasan wilayah antar suku mereka.

Amiru menelan ludah. Ia tidak bisa berkata-kata begitu melihat ratusan orang dari Suku Langit telah bersiap siaga membentuk benteng pertahanan yang mengular di dataran seberang sungai yang ada di hadapan mereka.

“Tapi sungguh, bukan mereka pelakunya!”

“Baiklah. Lantas siapa?” suara Ronan meninggi, mengultimatum bocah itu untuk terdiam.

Amiru kembali menelan ludah,

“Makhluk lain.”

“SERANG!” terdengar seruan provokatif dari pasukan Suku Langit yang langsung membuat pasukan Suku Bumi siaga.

Amiru menutup mata. Pasrah. Namun, tak lama terdengar bunyi nguuooong yang kencang datang entah dari mana. Disusul dengan angin yang sangat kencang datang membuyarkan barisan.

Sebuah benda berbentuk piring raksasa terbang di atas mereka. Memperlihatkan sekelompok makhluk mirip manusia tapi memiliki bentuk kepala segitiga. Secercah sinar cahaya muncul dari piring terbang raksasa itu. Membuat mereka semua terdiam. Lalu terdengar suara yang sangat familier di telinga mereka terucap oleh makhluk asing itu.

“Puspa Bulan!”

-selesai-

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Etika Filosofia

Seorang penulis yang sedang mengasah “taring” karyanya untuk bisa menyaingi Pak Ahmad Tohari. Kini bertempat tinggal di Semarang. Dapat dihubungi via Instagram @pilosopikopio.

One thought on “Hikayat Puspa Bulan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *