Tahun Baru

Aroma kopi Kapal Api menggelitik hidungku. Aroma khas yang membangkitkan sebuah memori masa lalu. Sore ini, hanya aku yang berdiam diri di saat teman-temanku sibuk dengan rencana bahagia mereka.

Hari ini persis seperti empat tahun lalu. Penghujung tahun yang mendung. Teman-temanku sejak pagi sudah bersiap diri. Mereka mengambil jatah untuk pulang, mengajukan kasbon karena gaji yang dibawa pulang kurang. Dengan wajah berseri, mereka membalas pesan WhatsApp anaknya, menerima telepon dari orang tuanya, dan ada yang di pojok menata baju sambil video call dengan pacarnya.

Kami adalah sekelompok orang kampung yang merantau di kampung orang lain. Berkawan dengan ibu-ibu rumah tangga dan para pedagang warung makan. Sebagian ada yang berkawan dengan pekerja industri rumahan pengrajin sapu. Ada juga yang berkawan dengan ibu-ibu yang bekerja sejak pagi buta di pabrik mi soun.

Setiap hari kami membawa keranjang berisi perabotan rumah tangga menggunakan sepeda motor. Wajan, panci, gayung dan perkakas lainnya diikat bergelantungan supaya menarik perhatian. Menembus jalanan desa yang terjal meskipun sudah diaspal. Menawarkan dengan senyuman, dibalas dengan peremehan—entah karena harga yang terlalu tinggi atau kualitas barang yang tidak memadai.

Awal masuk dalam kelompok ini, aku mendapatkan warisan sekitar 50 nasabah. Mereka bukan sekadar pembeli; mereka adalah pengaju kredit perlengkapan sehari-hari dengan angsuran harian yang secara angka terlihat remeh. Namun, saat penarikan, harus ada drama. Setidaknya, sehari aku harus menjalani lakon sebagai tukang kredit sebanyak 50 kali. Masih untung ada lawan mainnya; lebih sering aku monolog di depan pintu. Atau, kedatanganku yang belum sempat berdialog sudah dibalas dengan lambaian tangan pertanda libur dulu.

“Lagi akeh sumbangan. Bojoku rung ngekeki. Sapuku rung dibayar. Dodolan lagi sepi Mas Boy. Bar wae tak nggo lebon.”

Dialog-dialog seperti itu lebih sering terdengar olehku daripada lebon yang secara angka terlihat remeh. Sampai aku hafal. Bahkan saat aku memerankan diri tanpa dialog pun, sudah mereka jawab. Bagi mereka, kedatanganku adalah sebuah kesialan, dan ketika aku tidak datang, itu adalah sebuah anugerah. Seakan ada rasa lega di dada, meskipun tidak lama. Mana mungkin aku tega; berhadapan dengan mereka, yang terlukis adalah wajah ibuku sendiri.

Sebagai aktor yang memainkan peran sebagai tukang kredit, aku dipaksa memahami dapur orang lain setiap hari. Padahal aku sendiri dapur saja tidak punya. Pernah suatu kali aku tidak datang sendiri. Aku berdiri di depan pintu dengan dua orang yang tidak aku kenal. Mereka juga tidak saling kenal. Berpakaian gelap dengan masker dan masih memakai helm. Kami tahu di balik pintu tidak ada siapa-siapa. Kami hanya menjalankan tugas. Mengetuk pintu diiringi salam tak terjawab adalah penanda bahwa kami masih manusia.

Menutup tahun 2021, kujalani profesi sebagai seorang tukang kredit. Orang kampung menyebutnya mindring. Bos menyebutnya jual beli berjangka. Aku malu menyebut diriku ini apa.

Aku tidak pulang libur tahun baru. Satu, karena malu. Dua, karena belum siap menerima kenyataan. Apalagi jika ada yang tahu siapa aku yang sebenarnya: seorang Sarjana Agama.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Fikri Kuncen

Editor in Chief bilfest.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *