Ramadhan Terakhir Kami

Hai aku Reza! Sekolahku jauh sekali dari rumah. Kalau dihitung mungkin puluhan kilometer dari sini. Lebih tepatnya bersekolah di pesantren kalau kataku. Banyak orang tidak ingin pergi ke pesantren. Katanya, pesantren hanya buat anak nakal. Kenyataannya tidak begitu kok. Di sinilah aku bertemu dengan teman-teman terbaikku.

Krrriiiingggg, Krrriiiingggg, Krrriiiiiingggggg. . .

Suara bel berbunyi kencang. Terbangunku dari alam bawah sadar dalam dunia mimpi yang penuh dengan fantasi. Aku duduk melipat kedua kaki di atas tempat tidur. Berdiam sejenak mengumpulkan kesadaran dan mengerjapkan mata perlahan. Kulihat kamar redup dengan cahaya masuk dari sela-sela jendela. Aku melangkah mendekati sakelar lampu. Klek.

Masih jam segini? Gumamku dalam hati.

Jarum jam menunjukkan pukul tiga. Aku sempat heran, kenapa bel berbunyi terlalu dini? Tersadar. Ini kan sudah bulan Ramadhan, beberapa jam lalu sudah melaksanakan salat tarawih. Juga meniatkan puasa sebelum tidur semalam. Segeraku melangkah mengambil makan di dapur.

Beberapa temanku sudah terbangun. Aku letakkan wadah nasi dan lauk di lantai. Menu dari ibu dapur sudah sangat kuhafal di luar kepala. Hari ini pasti tempe dan telur, ketika kubuka benar saja. Aku tersenyum bangga dengan tebakanku. Ehmm.

Aku membangunkan temanku yang masih terlelap.

“Bangun! Sahur! Sahur!” mencokel salah satu kaki yang berkemul dengan selimutnya.

“Re! Makannya pake apa?” tanya Edi setengah tersadar.

“Tempe sama telur!”jawabku.

Sembari membangunkan aku berjalan mengambil piring di lemari. Kemudian duduk mengambil lauk dan nasi. Satu-persatu teman-teman mengambil makan dan sahur bersama. Aku menyantap lauk dengan hikmat.

“Ed! Minta kecapnya!” teriak Gery di depan lemari. Ia langsung mencomot botol kecap sebelum ada persetujuan pemiliknya. Sedangkan Edi hanya mengangguk pelan.

Sudah biasa kami meminta sesuatu seperti itu di pesantren. Memang kurang baik tapi, bagi kami itu salah satu bentuk indahnya kebersamaan.

Kami santri. Kami makan, tidur dan belajar selalu di pesantren. Selalu bertemu dengan orang yang sama setiap hari. Setiap kamar hanya terisi sekitar dua puluh anak. Di pesantren ini, aku tidak hanya membaca dan belajar Al-Qur’an dan bahasa Arab saja. Ada berbagai mata pelajaran yang diajarkan. Karena pesantrenku punya label modern. Setiap kelas dipasang televisi dan bahkan CCTV. Kami belajar ilmu sains, sosial, bahasa Inggris, dan seperti halnya sekolah umum. Ditambah lagi dengan ilmu-ilmu agama seperti, tafsir, aqidah, nahwu, dan balaghah. Setiap mata pelajaran kami lahap semuanya.

Selain itu, sebagai seorang santri. Kami juga dituntut selayaknya anggapan banyak orang dari seorang santri. Harus bisa mengumandangkan adzan, hafalan bagus sehingga bisa menjadi imam salat, dan bisa mengisi kajian di depan khalayak umum. Apalagi kami pernah menjabat sebagai satuan organisasi di sekolah.

Aneh memang. Ada istilah satu sisi sekolah dan yang lain pesantren. Sekolahku itu boarding school, sekolah berbasis asrama. Terdengar keren memang dari luar, nama lain pesantren. Oleh karena itu pula banyak tuntuntan yang kami emban.

Nampan nasiku sebentar lagi tandas. Aku mengambil botol minum di lemari, meneguknya. Beberapa teman yang sudah selesai sahur beranjak tidur kembali, ada yang menyeduh minuman dan bahkan belum bangun sama sekali. Sahur di sini memang terhitung lebih awal. Jam tiga sudah dibangunkan. Sedangkan adzan subuh berkumandang satu setengah jam lagi.

Menghabiskan sisa nasi di nampan. Kemudian aku mencucinya dengan sabun dan membilasnya dengan air. Aku minum beberapa tegukkan lagi. Melihat jam, masih ada setengah jam lagi sebelum tidak diperbolehkan makan. 

Aku menggapai sarung dan pakaian koko, mengenakkannya. Tak lupa kopiah kubawa, bisa terkena marahan ustadz nanti. 

“Ger! Ke masjid yuk!” ucapku.

“Sekarang? Nantilah nyusul” balas Gery, sibuk dengan seduhan minumannya.

Tanpa bereaksi lebih lanjut, melangkahku menuju masjid. 

***

Setiap hari kegiatan di pesantren memang melelahkan. Pasti ada kegiatan disetiap jamnya. Setelah subuh tilawah Al-Quran sampai jam setengah enam. Lalu persiapan untuk berangkat sekolah di jam tujuh dan belajar sampai tengah hari. Karena ini bulan Ramadhan, jam belajar dipotong sampai sebelum zuhur saja.

“Laper banget nihh…Gerah lagi!” keluh Gery.

Sebenarnya sudah tidak ada lagi pelajaran untuk kelas dua belas. Kami hanya tinggal mengerjakan ujian-ujian saja, atau tugas-tugas akhir khususon untuk bangku kelas akhir. Kalau dibilang melelahkan, pasti. Pikirannya. Untuk memikirkan ujian dan masa mendatang mau jadi apa. Walau terbilang waktunya lebih senggang daripada beberapa tahun lalu. Kami sudah merasakannya sebagai adik kelas, dengan banyaknya agenda kegiatan.

Biasanya, jam sekarang kami sudah mengabil makan. Karena bosan di kamar, aku, Edi dan Gery pergi ke kelas. Jarak kamar dengan kelas tidak jauh, cuma tinggal naik tangga sudah sampai tujuan. Beda lantai saja, lantai satu untuk kamar dan lantai dua untuk kelas.

“Yaelah Ger, baru jam segini dah laper!” balas Edi yang dari tadi terlentang di lantai. 

Selain menahan perut keroncongan, kami juga menahan hawa panas mencekam di siang hari. Salah satu mengatasinya dengan merebahkan tubuh di atas dinginnya lantai. Sebenarnya setiap kelas disediakan kipas angin. Tapi di kelasku rusak, belum diganti.

“Gimana kalo mokel aja?” celetuk Gery.

“Astaghfirullah! Gery!!” ucapku serempak dengan Edi.

Aku heran dengan Gery. Sudah kelas dua belas saja ada pikiran ingin membatalkan puasanya. Bukannya puasa Ramadhan itu wajib? Sudah sering belajar tentang puasa Ramadhan berulang kali, bahkan sampai mengajarkannya ke adik kelas. Tapi entahlah, dia memang suka mengeluh.

“Oh ya!” teriak Gery.

“Kenapa Ger?” tanyaku.

“Nanti ada buka bersama kan? Seluruh santri. Kata orang nggak tahu siapa, makanannya enak-enak. Mau ada es teler. Iyakan? Kata Ustadz Qodir bilangnya kaya gitu” ungkap Gery tanpa jeda.

“Lah iya yak! Denger-denger emang gitu” Edi berkomentar.

“ALLAHUAKBAR, ALLAAAAHUAKBAAR!”

“Yuk ke masjid udah adzan” ajakku.

Kami bertiga berdiri, merapikan pakaian yang kami kenakan. Walau Gery dengan langkah gontai, kami berjalan menuju masjid.

Siang itu, tak banyak yang kami lakukan. Selepas zuhur, aku memaksa Edi dan Gery untuk menetap di masjid, membaca Al-Qur’an. Di bulan Ramadhan ustadz menyerukan kepada seluruh santri membaca Al-Qur’an. Ada semacam target yang harus kami penuhi, minimal satu kali khataman selama bulan Ramadhan.

Beberapa anak kelas dua belas tidak terlalu peduli. Memilih pergi ke kamar untuk tidur. Seperti halnya dua temanku ini. Harus kupaksa terlebih dahulu untuk membaca Al-Qur’an. Walau hanya lima belas menit mereka sudah pulang duluan. 

Setelah itu tidur. Kemudian bangun untuk salat ashar. Sehabis ashar atau kisaran jam empat kurang, kebanyakan santri disibukkan dengan kesibukannya masing-masing. Seperti mencuci baju, membereskan barang, membaca buku, membersihkan badan, ataupun yang lainnya. Sayangnya, dengan alasan puasa, seluruh santri tidak diperbolehkan untuk berolahraga berat. Jadi tak sedikit santri hanya tidur-tiduran dan mengobrol, menunggu waktu berbuka. Walaupun ada juga yang sudah bersiap untuk berbuka, padahal masih beberapa jam lagi.

Ada waktu yang sangat ditunggu-tungu banyak santri. Apalagi di bulan Ramadhan. Kau pasti bisa menebaknya! Benar! Ketika menunggu buka puasa tiba.

Tapi kalau dipikir, aku akan rindu suasana pesantren ketika bulan Ramadhan. Rasa kebersamaan ketika makan sahur maupun berbuka puasa. Ingatku dulu, ketika semangat-semangatnya membaca Al-Qur’an. Waktu itu bahkan ada teman yang sampai tiga kali khataman. Nanti ketika lulus, mungkin tidak akan pernah menjumpai Ramadhan seperti di pesantren.

“Ini Ramadhan terakhir kita ya…?” celutukku.

Kami bertiga sedang menunggu suara muadzin berkumandang beberapa menit lagi. Duduk-duduk di lantai dengan teman-teman di kamar. 

“Re! Kau pikir kita mau mati APA?” kata Gery terkejut, dengan kalimat yang kulontarkan.

“Bukan! Maksudku, Ramadhan terakhir kita di sini” jelasku.

“Oh ya, benar. Tahun ini kan kita lulus” ungkap Edi berkomentar.

Gery yang paham, hanya memanggut-manggutkan kepala. 

“ALLAHUAKBAR, ALLAAAAHUAKBAAR!”

Tersadar dari lamunan, kami mengambil minuman masing-masing. Berbuka.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Tsani Kurniawan

Tsani Kurniawan, lahir di Banyumas tahun 2008. Ia merupakan pelajar SMA MBS Zamzam Cilongok. Ia aktif sebagai anggota PC IPM Karanglewas serta terlibat dalam berbagai kegiatan literasi. Sejumlah karyanya telah dipublikasikan, di antaranya penulisan buku antologi fiksi mini bersama Duta Baca Indonesia Gol A Gong yang tercatat dalam Rekor MURI, penulisan resensi buku di Majalah Kuntum, serta kontribusi dalam buku antologi pada kegiatan Bimbingan Teknik Kepenulisan oleh Arpusda Banyumas. Ia dapat diikuti melalui akun Instagram @el.syamees.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *