Pada saat perjalanan pulangku, aku tertarik pada sebuah acara yang diadakan oleh Logawa.id yang berjudul “Panggung Indonesia Baru” yang sudah aku lihat-lihat informasinya ketika di kelas. Ketika tiba di sana yaitu Pendopo Wakil Bupati Banyumas, saya merasa heran acara ini melibatkan berbagai lapisan masyarakat, mulai dari dosen, mahasiswa, komunitas, hingga masyarakat umum. Acara ini merupakan launching dari Logawa.id, sekaligus pementasan sastra & talkshow media-budaya.
Ketika saya datang, di sana sedang ada pertunjukan kesenian, seperti deklamasi puisi, sulap, penampilan dari Pawon Pantomim, serta akustikan. Mulai dari peserta, tamu undangan, maupun panitia dari acara ini menikmati berbagai pertunjukan tersebut. Lalu, acara dibuka oleh Direktur dari Logawa.id yaitu Bayu Suta Wardianto dengan pembukaan berupa cerita singkat mengenai filosofi nama Logawa.id. Logawa berarti tidak besar tapi terus bergerak. Memiliki cita-cita yang sederhana, namun pergerakan yang sederhana inilah yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat yang bingung mencari wadah untuk menuangkan karyanya.
Lalu dilanjutkan oleh moderator yang membimbing jalannya forum diskusi ini. Beliau menunjukkan rangkaian acara yang akan dilakukan, lalu dilanjutkan dengan menyampaikan hal-hal sederhana dari permasalahan yang akan dijelaskan oleh pemateri, serta menyinggung mengenai isu-isu yang sedang panas di negara tercinta kita ini. Sebagai contoh, beliau tadi menyinggung mengenai berita banjir yang saat ini sedang ramai menjadi bahan diskusi, sebenarnya ini siapa yang perlu bertanggung jawab atas terjadinya banjir.
“Pembangunan di Indonesia tidak pernah merata,” ujar Farid Gaban seorang penulis boomer. Hal itu menunjukkan bahwa pembangunan yang dilakukan terjadi sangat brutal tanpa memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. Melalui ekspedisi yang dilakukan oleh beberapa penulis dan akademisi lintas generasi ini, yang di mana mereka menggunakan motor Supra X 125 sebagai kendaraan untuk mengelilingi bumi Indonesia tercinta kita. Dalam perjalanannya mereka menelisik ke dalam sudut-sudut yang jarang terjamah namun sangat terjamah oleh pemerintah yang arogan dengan melakukan pengerukan sumber dayanya tanpa memperhatikan risiko jangka panjang yang akan dihadapi oleh masyarakat sekitar.
Kekayaan adat dan budaya menjadi simbol betapa mewahnya bumi Ibu Pertiwi kita. Namun memudarnya nilai-nilai adat dan budaya menyebabkan generasi sekarang lupa akan ajaran moyangnya. Sebagai contoh hilirisasi nikel di Maluku menghasilkan kekayaan yang luar biasa. Namun, ketika mereka sudah meninggalkan nilai adat, mereka dengan semena-mena menyakiti tanah Maluku, bahkan menyakiti masyarakat sekitar, itu menjadi malapetaka yang tidak bisa dihindari. Berbagai bencana menanti jika alam diambil sumber dayanya dengan membabi buta.
Berawal dari air keran yang sekarang tidak bisa langsung diminum, para akademisi dan penulis melakukan ekspedisi guna melihat apa yang sebenarnya terjadi terhadap negara kita ini. “Berbeda halnya dengan zaman dulu nenek moyang kita bahkan tanpa rasa ragu berani meminum dari sungai,” ungkap Benaya seorang akademisi muda sekaligus penulis Gen Z. Hasil dari ekspedisi yang telah Benaya dan rekan-rekannya lakukan menunjukkan bahwa sudah terlalu banyak pembangunan-pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah sudah melebihi batas normal yang mengakibatkan kondisi mulai dari air, iklim cuaca, hingga terjadinya konflik sosial karena krisis yang terjadi.
Kondisi saat ini sangat memprihatinkan namun kurang disadari. Contohnya pada logo di burung Garuda ada gambar padi dan kapas, namun mirisnya dua sumber daya tersebut kita impor dari negara lain. Prediksi pemerintah pada tahun 2063 petani sudah punah. Dikarenakan anak muda sekarang merasa gengsi karena menjadi petani dianggap profesi rendahan. Padahal, pada saat Indonesia terdampak Covid-19 secara masif, orang-orang yang dulunya merantau di Ibu Kota memilih untuk pulang ke kampung dikarenakan makanan olahan sendiri lebih sehat dibanding makanan siap saji. Hal ini mengkhawatirkan jika profesi petani tidak lagi ada peminatnya. Karena negara kita merupakan negara yang sangat kaya, kalau kata pepatah Jawa, tanah Indonesia merupakan tanah yang “Gemah Ripah Loh Jinawi.”
Melalui praktik budaya masyarakat adat, cerita rakyat atau sastra lisan, hal ini dapat menjadi terobosan untuk mengintegrasikan mengenai bagaimana kita menghormati alam, bagaimana kita memperlakukan alam. Sebagai contoh cerita rakyat “Kali Taun”, cerita rakyat yang bercerita tentang masyarakat yang menangkap ikan secara membabi buta, lalu hal itu menyebabkan kemarau yang berkepanjangan karena hujan tak kunjung turun. Cerita rakyat seperti ini memiliki nilai yang baik perihal selanjutnya yaitu kitalah yang selanjutnya menarasikan sebuah cerita rakyat, agar kita mengesampingkan apakah cerita itu mitos atau bukan. Namun berfokus terhadap apa hikmah yang dapat kita ambil lalu kita sampaikan terhadap anak keturunan kita kelak.
Banjir yang terjadi bukanlah sebuah bencana, melainkan itu adalah sebuah kejahatan para kapitalisme yang tidak punya moral dan tidak punya etika. Mereka hanya berfokus terhadap keuntungan yang berlebihan. Rasa kepemilikan menjadikan mereka merasa memiliki sepenuhnya sumber daya tersebut. Alam kita sudah seperti menstruasi perempuan yang tidak teratur. Mulai dari curah hujan yang tidak jelas, dan yang kita rasakan saat ini adalah antara musim hujan dengan musim kemarau sudah seperti kisah masa lalu belaka, dalam artian hanya ada pada zaman dulu.
Kesimpulan yang diambil dari ekspedisi tersebut adalah “kembali ke adat”. Acara ini menambah wawasan keilmuan saya. Menjadikan saya lebih memahami bahwasanya adat dan budaya lah yang lahir lebih dahulu daripada sains, adat dan budaya telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Yang harus kita lakukan sebagai anak muda adalah membuat narasi tentang nilai-nilai yang terkandung pada adat dan budaya itu.




