Melawan Sepi, Mengejar Mimpi: Cerita Mahasiswa Perantauan

Jadi mahasiswa perantauan itu rasanya kayak tiba-tiba dilempar ke planet lain tanpa sempat baca panduan. Begitu sampai di kota orang, semua terasa asing. Harga makanan kadang murah, kadang mahalnya lebih tinggi dari ekspektasi, jarak kos ke kampus terasa seperti perjalanan yang hilang arah, dan rasa sepi perlahan jadi makhluk tak kasat mata yang selalu muncul tanpa diundang.

Hari pertama mungkin masih semangat: foto-foto kamar kos, bilang ke orang rumah kalau semuanya baik-baik saja, dan sok pede kalau hidup mandiri bakal gampang. Tapi masuk hari kedua, realita mulai nunjukin sisi gelapnya. Mulai dari bingung ngatur uang dan sampe bingung mau makan apa. Mahasiswa baru juga sering berhadapan dengan homesick. Kasur di rumah pun terasa berbeda dengan kasur di kos yang kerasnya kayak perjalanan hidup.

Biaya Hidup dan Rasa Sepi yang Diam-Diam Menguji

Hal paling kocak adalah ketika kita mulai sadar bahwa hidup mandiri ternyata mahal. Mau makan bakso? Mahal. Mau nongki-nongki manja? Mahal. Mau bahagia? Mahal juga kayaknya. Setiap hari harus mikir kreatif supaya gaji bulanan dari orang tua nggak habis sebelum waktunya. Sudah coba gaya hidup hemat ala anak kos, mulai dari nyari promo aplikasi, nunda-nunda jajan, sampai ngitung ulang pengeluaran sambil berharap ada keajaiban datang dari dompet dan ketiban uang segepok.

Tapi dari rasa sepi itu, mahasiswa rantau justru belajar banyak hal: belajar sabar, mandiri, bahkan berdamai sama keadaan yang kadang bikin pengen pulang hari itu juga.

 Di momen-momen kayak gitu, pernah nggak sih mikir, “Kenapa hidup di rantau bisa seribet ini?” atau “Sejak kapan bertahan hidup jadi salah satu keahlian wajib mahasiswa?” Kadang cuma bisa ketawa getir sambil mikir, “Oh, jadi begini ya hidup dewasa itu.”

Drama Sehari-Hari yang Nggak Pernah Kelar

Salah satu drama terbesar anak rantau jelas soal makan. Awal-awal mungkin excited: ayam geprek sebelah kampus enak, murah pula dengan harga sepuluh ribu udah dapet es teh. Tapi setelah dua minggu makan ayam geprek terus, otak rasanya menolak. Setelah dua bulan, tiap lihat kata “geprek” rasanya muak pengen pindah planet. Di titik itu, Indomie ditambah nasi naik pangkat jadi penyelamat segala suasana.

Belum lagi drama ngangkat galon ke meja, yang beratnya nggak kira-kira. Mau beli sendiri rasanya kayak gym gratis. Mau minta tolong tetangga kos, takut ngerepotin. Mau nunggu relawan datang, ya kelamaan. Akhirnya bener-bener ngerasain yang namanya jadi manusia kuat karena keadaan, bukan karena niat. 

Kos pun penuh cerita: ada tetangga yang suaranya kenceng kayak toa masjid, ada yang kerjaannya nyuci malam-malam, ada juga yang tiap masak sesuatu tapi baunya menggoda iman. Padahal kita cuma makan mi instan, itu pun nggak kenyang. Dan jangan lupa air keran kos yang suka tiba-tiba mati pas mau nyuci baju yang numpuk setinggi gunung.

Kampus juga nggak kalah drama. Kenyataan pahit datang kayak notifikasi mendadak dari dosen yang nggak bisa ngisi perkuliahan, padahal mahasiswanya udah rapi duduk di kelas dari sepuluh menit yang lalu. Tugas datang bertubi-tubi sampai mepet deadline semua. Tapi di antara semua itu, ada hal-hal kecil yang bikin hidup rantau tetap bertahan: ibu kos dan teman kelas yang baik, warteg murah favorit, dan jam istirahat yang selalu jadi penyelamat mental mahasiswa perantauan.

Teman baru pun lama-lama jadi keluarga kedua. Ada yang selalu ngajak cari makan murah, yang ngajak main, yang selalu ngingetin deadline, dan yang selalu ada tiap kita butuh curhat. Kehadiran mereka bikin rantau nggak seseram yang dibayangkan.

Mimpi yang Terus Pelan-Pelan Menguatkan Langkah

Pada akhirnya, meski hidup di perantauan penuh drama, rasa sepi, dan huru-hara ini, ada satu hal yang bikin semua itu tetap layak dijalani, yaitu “mimpi”. Mimpi buat bahagiain orang tua, harapan punya masa depan yang lebih baik, dan jadi versi diri yang lebih kuat daripada kemarin.

Setiap hari mungkin nggak mudah. Ada hari di mana kita optimis banget, tapi ada juga hari di mana rasanya pengen pulang, tidur, dan pura-pura hidup nggak sesulit itu. Tapi ketika ingat alasan kenapa kita berangkat, ingat harapan orang tua, ingat diri sendiri yang sudah sejauh ini bertahan, hati akhirnya bilang, “Terus lanjutkan sampai meraih mimpi itu dan percaya bahwa semuanya pasti ada jalannya.”

Hidup rantau memang melelahkan, tapi dari situlah kita belajar jadi dewasa tanpa sadar. Belajar sabar, kuat, dan menghadapi dunia yang kadang anehnya di luar nalar. Sepi memang sering datang, tapi mimpi selalu lebih besar dari itu semua.

Jadi mahasiswa perantauan bukan tentang menjauh dari rumah, tapi tentang menemukan diri sendiri. Tentang tumbuh, jatuh, bangkit lagi, dan ngejalanin hidup walau kadang kepengen menyerah. Karena meskipun sering melawan rasa sepi, mimpi tetap harus dikejar sampai suatu hari nanti kita pulang sebagai versi diri yang jauh lebih hebat dari sebelumnya. Membawa cerita-cerita yang pernah kita perjuangkan sendirian, dan bukti bahwa setiap langkah kecil yang kita ambil ternyata berarti lebih besar dari yang kita kira.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Tini Indriyani

Tini Indriyani adalah mahasiswa Tadris Bahasa Inggris, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu keguruan, UIN SaizuPurwokerto. Bisa disapa melalui Instagram @tyneindri_.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *