Di Purbalingga Bersama Tim Peduli Lingkungan Menumbuhkan Kepedulian

Berangkat Membawa Kepedulian

Minggu pagi, 21 Desember 2025, aku berangkat sendiri dari Purwokerto menuju Purbalingga. Pukul enam pagi, jalan masih sepi dan udara terasa dingin, seolah memberi ruang bagi pikiranku untuk berjalan lebih jauh dari biasanya. Tujuanku sederhana: bertemu dengan tim peduli lingkungan dan berpartisipasi dalam menjaga lingkungan. Aku tidak membawa ekspektasi besar, hanya keinginan untuk terlibat dan berbuat sesuatu, sekecil apa pun itu.

Kami bertemu di Desa Kedungwuluh, Purbalingga. Fokus kegiatan kami bukan pada aliran sungainya, melainkan pada pinggiran sungai yang selama ini dijadikan tempat pembuangan sampah liar. Tempat yang seharusnya menjadi batas antara alam dan kehidupan manusia justru berubah menjadi titik temu antara kelalaian dan egoisme.

Pinggiran Sungai yang Dijadikan Tempat Buang

Tumpukan sampah memenuhi pinggiran sungai. Sebagian menggunung, sebagian menyebar, dan sisanya tertanam di tanah seolah menjadi bagian dari lanskap itu sendiri. Jenis sampah yang paling mendominasi adalah limbah rumah tangga, terutama popok bayi. Jumlahnya begitu banyak hingga membuatku terdiam cukup lama sebelum akhirnya ikut memungut satu per satu.

Aku merasa sedih, berharap bisa mengatakan kalau kondisi ini terjadi dengan sendirinya namun tidak bisa karena kenyataannya adalah disebabkan oleh manusia egois dan tidak bertanggung jawab. Tetapi lebih dari itu, aku merasa kecewa. Mustahil orang-orang tidak tahu bahwa membuang sampah di pinggiran sungai adalah perbuatan yang salah. Mereka tahu. Kita semua tahu. Namun, tetap saja dilakukan. Di titik itu, aku sampai pada satu kesimpulan: ini bukan soal kurangnya pengetahuan, melainkan soal egoisme, hilangnya rasa tanggung jawab dan ketidakpedulian. 

Memilih jalan pintas demi kenyamanan pribadi tanpa memikirkan dampaknya bagi lingkungan dan orang lain. Pinggiran sungai itu menjadi saksi bisu bagaimana manusia memperlakukan alam. Bukan sebagai ruang hidup yang harus dijaga, melainkan sebagai tempat menitipkan masalah, lalu pergi seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Ketika Warga Memilih Turun Tangan

Yang membuat hari itu terasa berarti adalah kehadiran warga sekitar. Mereka tidak hanya melihat dari kejauhan, tetapi ikut turun langsung membersihkan sampah bersama kami. Tanpa fasilitas khusus, tanpa imbalan, tanpa banyak kata. Hanya tenaga dan kepedulian yang nyata.

Dari salah satu perangkat desa, kami mengetahui bahwa warga sebenarnya sudah beberapa kali membersihkan area tersebut. Bahkan, mereka memasang pagar kayu agar tempat itu tidak lagi dijadikan lokasi pembuangan sampah. Namun, setelah bersih, sampah kembali muncul. Menurut beliau, besar kemungkinan pelakunya bukan warga asli desa, melainkan orang-orang dari luar yang melewati area itu dan merasa bebas membuang sampah sembarangan. Mendengarnya membuat hatiku semakin berat. Artinya, persoalan ini tidak berhenti pada satu wilayah. Ini adalah masalah mentalitas. Tentang rasa memiliki yang semakin memudar. Tentang bagaimana seseorang bisa merusak tempat yang bukan miliknya tanpa merasa bertanggung jawab sedikit pun.

Memasang Larangan, Menanam Harapan

Selain membersihkan sampah, kami juga memasang banner bertuliskan larangan membuang sampah di area tersebut. Banner itu terlihat sederhana, tetapi bagiku memiliki makna yang dalam. Ia bukan sekadar tulisan, melainkan peringatan sekaligus harapan. Peringatan bagi mereka yang masih memilih abai, dan harapan bahwa suatu hari, tulisan itu tidak lagi dibutuhkan. 

Saat banner itu terpasang, aku berpikir bahwa perubahan memang tidak selalu instan. Mungkin masih akan ada yang melanggar. Mungkin sampah akan kembali. Namun setidaknya, ada usaha untuk mengingatkan. Ada jejak kepedulian yang ditinggalkan. Dan kadang, satu pengingat kecil bisa menjadi awal dari perubahan yang lebih besar.

Ketika Data Berubah Menjadi Kenyataan

Sebelum ikut volunteer ini, aku tahu bahwa Indonesia termasuk negara dengan penghasil limbah terbesar. Fakta itu sering muncul dalam berita dan diskusi. Namun, semuanya terasa jauh dan abstrak. Angka-angka besar tidak benar-benar menyentuh perasaan. Hingga aku berdiri di pinggiran sungai itu, memungut sampah dengan tanganku sendiri. Di situlah data berubah menjadi kenyataan. Bau menyengat, tanah yang kotor, dan tumpukan limbah membuatku sadar bahwa masalah lingkungan bukan isu yang jauh di luar sana. Ia ada di sekitar kita, tumbuh dari kebiasaan kecil yang terus dibiarkan. 

Aku mulai bertanya pada diriku sendiri. Apakah orang-orang yang membuang sampah sembarangan tidak pernah memikirkan dampaknya? Apakah mereka tidak menyadari bahwa tindakan mereka bisa mencemari lingkungan, merusak ekosistem, dan membebani orang lain? Atau mungkin mereka memilih untuk tidak peduli karena merasa tidak akan terkena dampaknya secara langsung?

Titik Balik Sebuah Kesadaran

Hari itu menjadi titik balik bagiku. Aku menyadari bahwa kesadaran lingkungan tidak lahir dari teori semata, tetapi dari pengalaman nyata. Melihat sendiri bagaimana pinggiran sungai berubah menjadi tempat pembuangan, dan bagaimana sekelompok kecil orang berusaha memperbaikinya dengan keterbatasan yang ada.

Volunteer ini mungkin tidak menghapus masalah sepenuhnya. Mungkin besok atau lusa sampah akan kembali. Namun, kegiatan ini menanamkan sesuatu yang jauh lebih penting yaitu kesadaran. Kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan tugas segelintir orang, melainkan tanggung jawab kita bersama.

Kesadaran lingkungan dimulai dari tindakan sederhana, dan itu dimulai dari diri sendiri. Dari keputusan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Dari kebiasaan kecil yang sering dianggap sepele. Dari keberanian untuk peduli, bahkan ketika orang lain memilih untuk tidak. Pengalaman volunteer Desa Kedungwuluh mengajarkanku bahwa menjaga lingkungan bukan tentang siapa yang paling berkuasa, melainkan siapa yang mau mulai. Dan sejak hari itu, aku tahu satu hal dengan pasti: aku tidak ingin menjadi bagian dari orang-orang egois yang tahu itu salah, tetapi tetap melakukannya.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Hestin Nurchasanah

Hestin Nurchasanah, lahir di Banjarnegara tahun 2006. Saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Prof.K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, program studi Tadris Bahasa Inggris. Dapat dihubungi melalui Instagram @hestin.cha.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *