Pencerahan

“Satu kata untuk hari ini?” Inilah pertanyaan yang kerap berseliweran dalam candaan anak-anak muda menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Jawaban-jawabannya beragam: dari yang serius seperti “merdeka”, “tirakatan”, “bersyukur”, hingga yang santai seperti “nasi tumpeng”, “17-an”, atau “bonus libur”. Namun, jika pertanyaan ini dialamatkan pada Muhammadiyah—”Satu kata bagi kemerdekaan RI dari Muhammadiyah?”—maka jawabannya mengandung makna yang lebih dalam dan historis: Pencerahan.

Pencerahan adalah kata kunci yang menggambarkan kontribusi Muhammadiyah dalam proses panjang menuju kemerdekaan bangsa ini. Muhammadiyah tidak hadir di medan perang dengan senjata, tetapi menanamkan fondasi kokoh bagi lahirnya bangsa merdeka: melalui pendidikan yang mencerahkan, nilai-nilai keislaman yang membebaskan, dan keteladanan moral yang melampaui sekat-sekat feodalisme. Dalam perspektif ini, kemerdekaan tidak sekadar dimaknai sebagai lepas dari penjajahan fisik, tetapi juga sebagai pembebasan dari kebodohan, keterbelakangan, takhayul, dan struktur sosial yang menindas.

Sebagaimana tersirat dalam puisi Taufiq Ismail yang menggugah, “Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini” (1966), kemerdekaan sejati bukanlah seremoni tahunan atau deretan slogan kosong, tetapi perjuangan konkret dan spiritual rakyat kecil yang terus berlangsung dari waktu ke waktu:

…..
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara,
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama,
Dan bertanya-tanya: inikah yang namanya merdeka?
…..
(Ismail, 1993:113)

Baris-baris ini menggambarkan realitas pahit sebagian besar rakyat Indonesia yang hidup dalam tekanan. Maka, semangat kemerdekaan menurut Taufiq bukanlah sekadar memproklamasikan, tetapi memastikan bahwa setiap manusia merasakan keadilan dan martabatnya. Di titik inilah kontribusi Muhammadiyah menjadi relevan: membebaskan manusia dari belenggu struktural maupun kultural, lewat jalan pendidikan, pelayanan sosial, dan dakwah yang tercerahkan.

Pendidikan sebagai Pilar Kemerdekaan

Kontribusi terbesar Muhammadiyah terhadap kemerdekaan Republik Indonesia dapat dilihat melalui perjuangannya dalam bidang pendidikan. Sejak awal abad ke-20, Kiai Ahmad Dahlan sudah menyadari bahwa pembebasan umat hanya bisa dicapai melalui ilmu pengetahuan. Maka, didirikanlah sekolah-sekolah Muhammadiyah dengan kurikulum modern yang menggabungkan ilmu agama dan pengetahuan umum. Pendidikan menjadi jalan utama Muhammadiyah untuk membangun manusia merdeka: cerdas, berakhlak, dan mandiri.

Pada tahun 1925 Muhammadiyah telah mengelola 55 sekolah dan dua klinik kesehatan di kota Yogyakarta dan Surabaya, dengan jumlah anggota mencapai 4.000 orang (Wikipedia). Jumlah ini terus bertambah signifikan. Bahkan, tahun 1932, Muhammadiyah tercatat mengelola lebih dari 200 lembaga pendidikan, termasuk 103 Volksschool, 47 Standard School, 69 HIS (Hollandsch-Inlandsche School), dan 25 Schakelschool, yang sebagian besar menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Ini adalah capaian luar biasa di tengah masa kolonial, ketika akses pendidikan adalah barang mewah dan sangat terbatas bagi pribumi.

Sistem pendidikan Muhammadiyah tidak hanya membentuk elite terpelajar, tetapi juga menciptakan kader bangsa yang mampu memikul tugas-tugas kebangsaan. Banyak tokoh nasional lahir dari rahim pendidikan Muhammadiyah: dari Ki Bagus Hadikusumo, Abdul Kahar Muzakkir, hingga Kasman Singodimedjo. Mereka inilah yang kemudian memainkan peran penting dalam perumusan dasar negara dan struktur pemerintahan Indonesia merdeka.

Perumusan Dasar Negara dan Keteladanan Moral

Muhammadiyah bukan organisasi politik, tetapi kader-kadernya aktif dalam kancah politik kebangsaan. Salah satu contoh paling nyata adalah kiprah Ki Bagus Hadikusumo, Ketua Umum PP Muhammadiyah masa revolusi. Ia menjadi anggota BPUPKI dan PPKI, dan ikut serta dalam perumusan Pembukaan UUD 1945. Ketika terjadi perdebatan soal rumusan sila pertama Pancasila, Ki Bagus-lah yang dengan bijak menerima perubahan dari “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” demi menjaga persatuan nasional (Abdul Munir Mulkhan, Ensiklopedi Pemikiran Muhammadiyah, 2010).

Sikap Ki Bagus bukanlah kompromi terhadap prinsip, melainkan bentuk ijtihad kebangsaan yang menjadikan agama sebagai sumber pencerahan, bukan alat eksklusivitas. Dalam konteks ini, nilai-nilai Islam dimaknai sebagai fondasi etik yang inklusif, mampu mengayomi semua golongan dalam negara baru yang majemuk.

Sejarah juga mencatat bahwa Ki Bagus Hadikusumo menolak diberi gaji oleh pemerintah Jepang saat menjadi anggota badan pemerintahan, karena menurutnya, “Saya tidak ingin menjadi alat kekuasaan penjajah” (Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900–1942, Jakarta: LP3ES, 1980:277). Ini bukan hanya keteguhan ideologis, tetapi juga teladan moral.

Dakwah Sosial dan Kemandirian Umat

Selain bidang pendidikan dan perumusan ideologi negara, Muhammadiyah juga aktif membangun jaringan sosial: rumah sakit, panti asuhan, klinik kesehatan, koperasi, dan majelis taklim. Lembaga-lembaga ini tidak hanya memberikan pelayanan kepada umat Islam, tetapi juga kepada masyarakat luas tanpa memandang latar belakang agama.

Model dakwah Muhammadiyah ini mengedepankan kemandirian dan amal nyata, yang menjadi bentuk perlawanan terhadap struktur ketergantungan masyarakat pada kolonialisme. Dalam istilah Syafiq Mughni, Muhammadiyah meletakkan dakwah sebagai praksis pencerahan sosial, bukan sekadar ritual simbolik (Mughni, Muhammadiyah dan Politik, Jakarta: LP3ES, 1994: 45).

Dengan pendekatan ini, Muhammadiyah menjadi kekuatan masyarakat sipil yang memperkuat ketahanan bangsa menjelang dan sesudah proklamasi. Ketika negara baru terbentuk, umat yang tercerahkan oleh amal Muhammadiyah sudah siap mengambil peran.

Peran Tokoh Perempuan dan Gerakan Kultural

Satu aspek penting yang sering terabaikan dalam sejarah perjuangan Muhammadiyah adalah peran perempuan, khususnya melalui organisasi Aisyiyah. Nyai Siti Walidah Dahlan memulai pengajian Sopo Tresno pada 1914, yang kemudian berkembang menjadi Aisyiyah secara resmi pada 22 April 1917. Di bawah kepemimpinannya, Aisyiyah mendirikan sekolah putri, kursus keaksaraan, dan asrama perempuan. Pada Kongres Muhammadiyah 1926, ia menjadi perempuan pertama yang memimpin kongres tersebut, menegaskan pentingnya peran perempuan dalam ruang publik sejak masa kolonial.

Lebih dari sekadar pendidikan formal, Muhammadiyah juga menumbuhkan kesadaran budaya baru. Melalui majalah Suara Muhammadiyah, teater dakwah, dan pengajian modern, Muhammadiyah memperkenalkan gaya hidup Islami yang rasional, bersih, dan berkemajuan. Ini adalah bentuk revolusi kultural yang tak kalah penting dibandingkan perjuangan bersenjata.

Tokoh Ikonik: Ki Bagus Hadikusumo

Jika harus memilih satu tokoh yang paling ikonik dari Muhammadiyah dalam perjuangan kemerdekaan, maka nama yang layak disebut adalah Ki Bagus Hadikusumo. Beliau tidak hanya berperan dalam organisasi, tetapi juga dalam struktur pembentukan negara.

Sebagai Ketua PP Muhammadiyah, ia memimpin organisasi ini dalam masa-masa sulit pendudukan Jepang dan revolusi kemerdekaan. Sebagai tokoh BPUPKI dan PPKI, ia ikut merumuskan dasar negara dan pembukaan UUD 1945. Keteguhannya dalam memegang prinsip Islam, dikombinasikan dengan kelapangan hati dalam menjaga kebersamaan nasional, menjadikan beliau teladan yang layak dikenang oleh bangsa ini.

Dalam catatan sejarah, Ki Bagus dikenal pula sebagai sosok yang hidup sederhana dan penuh integritas. Ia menolak upah besar dari Jepang karena ingin menjaga martabat perjuangan. Ia wafat dalam keadaan bersahaja, tetapi meninggalkan warisan besar berupa jejak moral dan pemikiran yang menjadi pijakan negeri ini.

Merdeka dalam Pencerahan

Kemerdekaan Indonesia bukanlah hasil dari satu peristiwa, melainkan akumulasi dari berbagai proses pembebasan: mulai dari kesadaran, pendidikan, dakwah sosial, hingga politik kebangsaan. Dalam seluruh proses itu, Muhammadiyah telah hadir sebagai pelopor.

Karena itu, jika anak-anak muda menjawab “merdeka” atau “semangat” sebagai satu kata untuk hari ulang tahun kemerdekaan RI, maka Muhammadiyah akan menjawab dengan satu kata yang lebih dalam: Pencerahan.

Dan jika pertanyaannya adalah, “Siapa tokoh paling ikonik dari Muhammadiyah untuk kemerdekaan?” Jawabannya: Siapa lagi kalau bukan Ki Bagus Hadikusumo! ***

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Abdul Wachid B.S.

Abdul Wachid B.S. adalah penyair, Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *