Dzikir Rindu di Balik Jubah Abu: Sebuah Catatan Kagum untuk Yohanna

Ada sebuah ketenangan yang sulit dijelaskan saat saya, seorang lelaki yang tumbuh dalam lantunan azan dan sujud di atas sajadah, duduk terdiam di depan layar laptop. Di depan sebuah layar setiap harinya saya tatap, hadir sosok Yohanna. Ia bukan sekadar karakter dalam film karya sutradara Robby Ertanto; bagi saya, ia adalah sebuah manifestasi kelembutan yang melampaui sekat-sekat dogma yang seringkali memisahkan kita.

Sebagai seorang Muslim, saya diajarkan untuk menghormati “Maryam” sebagai wanita suci. Dan saat menatap Yohanna -seorang calon biarawati di tanah Sumba yang gersang- saya seolah melihat pantulan kesucian itu dalam bentuk yang paling rapuh sekaligus paling tangguh. Menulis ulasan ini sebenarnya sulit. Namun ini adalah sebuah surat cinta spiritual dari kejauhan, sebuah penghormatan bahwa ada keindahan yang universal dalam pengabdian seorang perempuan kepada Tuhannya.

Sumba, Kemiskinan, dan Wajah Teduh yang Terluka

Film Yohanna membawa kita ke Sumba Timur, sebuah tanah yang eksotis namun menyimpan luka menganga. Di sana, kemiskinan bukan sekadar angka statistik, melainkan debu yang menempel di kaki anak-anak yang terpaksa bekerja di penambangan liar. Di tengah hiruk-pikuk eksploitasi itu, Yohanna (diperankan dengan sangat magis oleh Laura Basuki) berdiri sebagai saksi bisu.

Saya terpesona pada bagaimana kamera menangkap sorot mata Laura Basuki. Ada keraguan di sana, namun ada pula cinta yang meluap. Sebagai penonton lelaki, saya merasakan sebuah getaran yang berbeda. Bukan syahwat, melainkan kekaguman yang nyaris membuat sesak napas. Bagaimana mungkin seorang perempuan muda, yang seharusnya bisa memilih jalan hidup yang lebih mudah, justru memilih untuk membebat luka-luka dunia dengan tangannya yang halus?

Sumba dalam film ini digambarkan sangat jelas. Masalah perdagangan orang, pekerja anak, hingga kemiskinan sistemik menjadi latar belakang yang kontras dengan jubah abu yang dikenakan Yohanna. Saya melihatnya sebagai setangkai bunga melati di tengah padang kaktus yang berduri. Ia mencoba menjadi penawar di tengah lingkungan yang beracun, meski ia sendiri harus berhadapan dengan krisis iman yang hebat.

Ketika Iman Menjadi Pertanyaan, Bukan Jawaban

Salah satu hal yang paling menyentuh kalbu adalah saat Yohanna mulai meragukan panggilannya sebagai biarawati. Film ini tidak memotret kehidupan religius sebagai sesuatu yang hitam-putih atau penuh dengan mukjizat instan. Yohanna ditarik oleh kenyataan pahit di sekitarnya: kematian mendadak ibunya yang meninggalkan utang, serta nasib anak-anak Sumba yang terlunta-lunta.

Di sinilah letak romantisme spiritual yang saya temukan. Bagi saya, tidak ada yang lebih indah daripada melihat seseorang bergelut dengan imannya demi kemanusiaan. Ada satu kutipan menarik dari ulasan yang saya baca, bahwa film ini adalah tentang “ketika sebuah keyakinan diuji”. Saya, yang setiap hari bersujud menghadap Kiblat, merasa sangat terhubung dengan pergulatan itu. Bukankah iman yang sejati justru lahir dari keraguan yang berhasil dilewati?

Saya mengagumi keberanian Yohanna untuk melepas sementara atribut kesuciannya demi masuk ke dalam lumpur penderitaan rakyatnya. Ia bekerja di tempat perjudian, ia bersinggungan dengan dunia yang kelam, semuanya demi bertahan hidup dan membantu sesama. Melihatnya tidak mengenakan jubah, namun tetap membawa aura “biarawati” dalam jiwanya, membuatku sadar bahwa kesucian tidak terletak pada kain yang menutupi tubuh, melainkan pada niat yang bersemayam di lubuk hati yang paling dalam.

Laura Basuki dan Keajaiban Akting yang Menggetarkan

Saya harus jujur, separuh dari kekagumanku pada tokoh Yohanna adalah karena pesona Laura Basuki. Ia tidak perlu banyak bicara untuk menyampaikan rasa sakit. Cukup dengan gestur tubuh saat menahan tangis, atau senyum tipis yang getir saat menatap anak-anak yang bekerja di tambang. Kemenangannya sebagai Aktris Utama Terbaik di JAFF 2024 adalah bukti nyata bahwa ia telah menghidupkan roh Yohanna ke dalam daging dan darah.

Sebagai lelaki Muslim, saya melihat Yohanna bukan sebagai “yang lain”, melainkan sebagai saudara dalam kemanusiaan. Ada sebuah adegan saat ia berdoa, dan meski doa kami berbeda bahasa dan tata cara, saya merasakan frekuensi yang sama: sebuah kepasrahan total kepada Yang Maha Kuasa. Keindahan visual yang disajikan oleh sinematografer dalam menangkap lanskap Sumba yang kering namun puitis semakin mempertegas betapa kecilnya manusia di hadapan takdir, dan betapa besarnya cinta jika ia dipupuk dengan ketulusan.

Eksploitasi Anak: Luka yang Harus Kita Sembuhkan Bersama

Film ini juga merupakan tamparan keras bagi nurani kita. Isu eksploitasi anak di Sumba Timur digambarkan dengan sangat berani. Anak-anak yang seharusnya memegang buku, justru memegang palu di tambang-tambang batu. Yohanna menjadi jembatan antara keputusasaan mereka dan harapan yang tipis.

Saya teringat pada ajaran agama saya tentang memuliakan anak yatim dan kaum dhuafa. Melihat perjuangan Yohanna, saya merasa malu. Ia, seorang biarawati muda, telah melakukan lebih banyak hal nyata daripada saya yang mungkin hanya bisa berteori tentang keadilan sosial. Film ini bukan sekadar drama religi; ini adalah seruan untuk bertindak. Yohanna adalah simbol dari “perempuan tempat kita bersandar”, sosok yang memikul beban dunia di pundaknya yang terlihat rapuh namun sekuat baja.

Doa Seorang Muslim untuk Sang Biarawati

Saya masih terbayang wajah Yohanna yang menatap cakrawala Sumba dengan mata berkaca-kaca. Film ini akan tayang secara luas pada 9 April 2026, dan saya sangat menyarankan setiap jiwa yang haus akan makna untuk menontonnya.

Bagi kalian yang bertanya, mengapa seorang lelaki Muslim bisa begitu terpesona pada seorang biarawati? Jawabannya sederhana: karena dalam diri Yohanna, saya melihat wajah Tuhan yang penuh kasih. Saya melihat bahwa agama, pada puncaknya yang paling luhur, adalah tentang pelayanan dan pengorbanan.

Yohanna, kau telah mengajari kita bahwa mencintai Tuhan berarti mencintai makhluk-Nya yang paling menderita. Jubah abumu mungkin akan kotor oleh debu Sumba, tapi cahayamu akan tetap abadi dalam ingatan saya. Terima kasih, Robby Ertanto, telah menghadirkan sosok ini. Dan terima kasih, Yohanna, telah mengingatkanku bahwa di bawah langit yang sama, kita semua adalah musafir yang sedang mencari jalan pulang menuju pelukan-Nya.

Jika suatu saat saya ditanya tentang film yang paling menyentuh kalbu di tahun ini, saya akan menyebut namamu tanpa ragu. Yohanna. Sebuah nama yang kini tidak hanya berarti “Tuhan yang Maha Pengasih”, tetapi juga berarti keberanian, pengorbanan, dan cinta yang tak mengenal batas iman.

Di atas motor, di tengah keramaian kota menuju desa, saya membisikkan doa kecil untukmu, untuk anak-anak Sumba, dan untuk semua perempuan yang memilih untuk menjadi tiang penyangga bagi sesamanya. Sebab, pada perempuan seperti Yohanna-lah, kita semua akan menemukan keteladanan.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Irwan Hidayat

Penikmat Sinematografi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *