Purbalingga (15/04). Di tengah arus modernitas yang sering kali melenakan nalar kritis mahasiswa, Biro Literasi Keilmuan PMII Rayon Dakwah Purwokerto mengambil langkah berani untuk kembali ke akar pemikiran radikal bangsa. Dengan mengusung tajuk “Meraba Nadi Revolusi Tan Malaka: Dekonstruksi Strategi dan Kedaulatan Rakyat dalam Manifesto Aksi Massa,” organisasi mahasiswa ini berupaya membedah kembali relevansi pemikiran Sang Bapak Republik dalam konteks kekinian.
Acara yang dikemas dalam bentuk kajian intelektual ini bukan sekadar rutinitas organisasi, melainkan sebuah pernyataan sikap. Bagi para kader PMII Rayon Dakwah, literasi bukan sekadar kecakapan membaca dan menulis, melainkan “senjata dan nyawa” yang harus terus diasah untuk melawan kejumudan berpikir.
Melawan Lupa pada Sosok “Bapak Republik”
Tan Malaka, atau yang bernama asli Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka, merupakan figur yang unik sekaligus misterius dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Sosoknya yang radikal membuatnya sering kali berada di luar lingkaran kekuasaan, bahkan setelah Indonesia merdeka. Ia terlalu independen untuk dijinakkan oleh partai, dan terlalu tajam untuk sekadar dirayakan secara seremonial.
Dalam kajian ini, Biro Literasi Keilmuan mencoba menyoroti pemikiran Tan Malaka dalam mahakaryanya, Aksi Massa. Melalui manifesto tersebut, Tan Malaka menegaskan bahwa revolusi harus berakar pada kesadaran kolektif rakyat. Bagi Tan, “Revolusi adalah mencipta”—sebuah proses kreatif yang lahir dari penderitaan dan kesadaran massa yang terorganisir, bukan sekadar pergantian elite kekuasaan.
“Kami memandang bahwa Aksi Massa bukanlah doktrin beku dari masa lalu,” ujar Guntur Awal satu pengurus Biro Literasi Keilmuan. “Ia adalah strategi hidup yang menuntut keberanian kita untuk menempatkan rakyat sebagai subjek revolusi, bukan sekadar objek mobilisasi politik lima tahunan.”
Dekonstruksi Strategi dan Kedaulatan Rakyat
Inti dari diskusi yang akan digelar di Gubug Progresif Purbalingga ini adalah melakukan dekonstruksi terhadap pemahaman umum mengenai strategi perjuangan. Peserta diajak untuk meraba kembali “nadi” dari setiap pergerakan: bagaimana massa disadarkan dari “tidur panjangnya”? Bagaimana kekuasaan yang selama ini melangit bisa direbut dan ditarik turun kembali ke tangan rakyat?
Diskusi ini akan menghadirkan Zahlan F. sebagai interlokutor yang akan memandu jalannya perdebatan intelektual. Format “Un Debate de Concienciación” atau debat penyadaran ini dipilih untuk memastikan bahwa setiap argumen yang muncul tidak hanya berhenti di tataran teori, tetapi meresap menjadi sebuah kesadaran baru bagi para mahasiswa.
Kajian ini berangkat dari kegelisahan melihat kondisi bangsa hari ini. Mengutip salah satu fragmen dalam Ikhtisar Tentang Riwayat Indonesia, Tan Malaka pernah menuliskan bahwa bangsa Indonesia yang sejati hingga kini masih tetap menjadi “budak belian” dari perampok-perampok asing. Kemerdekaan sejati tidak akan pernah ada kecuali jika ada niat untuk membebaskan mereka yang belum pernah merasakan arti merdeka yang sesungguhnya.
Literasi sebagai Senjata Perlawanan
Slogan “Esto Es La Da’wah” yang diusung oleh PMII Rayon Dakwah menegaskan bahwa aktivitas literasi dan diskusi keilmuan adalah bagian integral dari dakwah itu sendiri. Dakwah dalam konteks ini adalah membebaskan pikiran dari belenggu ketidaktahuan.
Guntur Awal Ramadhan, anggota Biro Literasi Keilmuan yang juga bertindak sebagai narahubung kegiatan, menekankan pentingnya kehadiran fisik dan pikiran dalam forum-forum seperti ini. Menurutnya, di era digital di mana informasi melimpah namun kedalaman berpikir berkurang, diskusi tatap muka mengenai pemikiran berat seperti Tan Malaka menjadi sangat krusial.
“Datanglah, sebab diam bukan sekadar pilihan pribadi—ia bisa menjadi bentuk persetujuan yang tidak kita sadari terhadap ketidakadilan,” tegas Guntur. Pesan ini menjadi pengingat bagi mahasiswa bahwa sikap apatis adalah musuh nyata dari kemajuan bangsa.
Pelaksanaan Kegiatan
Bagi mahasiswa, praktisi literasi, maupun masyarakat umum yang ingin bergabung dalam menyelami pemikiran Tan Malaka, berikut adalah detail agendanya:
- Acara: Kajian Biro Literasi Keilmuan – “Meraba Nadi Revolusi Tan Malaka”
- Waktu: Jumat, 17 April 2026 | Pukul 19.30 s.d. 22.00 WIB
- Tempat: Gubug Progresif Purbalingga
- Interlokutor: Zahlan F.
Kajian ini terbuka untuk siapa saja yang merasa bahwa nadi revolusi dalam dirinya belum sepenuhnya berhenti berdenyut. Di bawah langit Purbalingga, PMII Rayon Dakwah membuktikan bahwa literasi tetap menjadi senjata paling ampuh untuk merawat akal sehat dan kedaulatan rakyat.
Salam Pergerakan!
Esto Es La Da’wah!



monggo, perayaan sayonara sahrussyawal kita bersama.