Founder BIL Fest Juguran Sore Bersama Peserta Belajar Bersama Maestro

JATILAWANG. Selasa sore (21/07/2026), di ruang terbuka Perpustakaan dan Rumah Sastra Ahmad Tohari, para founder BIL Fest juguran (diskusi santai) bersama 10 peserta program Belajar Bersama Maestro. Para peserta yang mengikuti program tersebut berasal dari berbagai kampus dan daerah di Indonesia. Ada yang berasal dari Pekalongan, Mojokerto, Padang, Balikpapan, Jakarta, dan Banyumas. Mereka adalah peserta yang lolos program Belajar Bersama Maestro yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Selama satu bulan, mereka belajar bersama Sastrawan Ahmad Tohari dengan fasilitator pendamping Abdul Aziz Rasjid. Selain belajar langsung dengan Maestro bidang Sastra, Ahmad Tohari, para peserta juga belajar kebudayaan lokal yang ada di Banyumas.

“Tidak hanya belajar dengan Pak Tohari secara langsung, mereka juga belajar tentang kebudayaan lokal yang ada di Banyumas. Karena kebudayaan lokal sinilah yang menjadi bagian yang tak terpisah dari proses awal kekaryaan Pak Ahmad Tohari. Mereka juga perlu tahu. Contohnya kemarin kami berkunjung ke Maestro Lengger, Bu Narsih. Tujuannya supaya mereka bisa mendapatkan referensi langsung tentang penokohan dalam membuat karya sastra. Karena sudah berinteraksi langsung,” ucap Aziz saat memberikan prolog saat juguran sore itu.

Aziz melanjutkan bahwa peserta juga perlu belajar dengan pegiat literasi, dalam hal ini BIL Fest, karena tidak hanya menyelenggarakan festival, namun berlanjut sampai menjadi bagian ekosistem literasi yang berkelanjutan. Harapannya, peserta tidak hanya menulis dan berproses sendiri sepulangnya ke daerah masing-masing, namun dapat berjejaring dan membuat aktivasi literasi sesuai dengan daerah masing-masing.

Rahmi Wijaya hadir bersama Neo Amroni yang merupakan founder BIL Fest. Pasangan suami istri ini banyak bercerita tentang membangun BIL Fest secara perlahan hingga menjadi bagian dari ekosistem literasi di Banyumas Raya.

Ia menyampaikan bahwa BIL Fest tidak hanya menyelenggarakan festival dengan target kunjungan ramai lalu selesai, namun ada kerja-kerja literasi yang terus-menerus dilakukan. Seperti berjejaring, mendampingi penulis pemula sampai terbit buku, belajar bersama sesama pembaca buku, dan banyak program lain setelah festival.

Hadir juga Nur Fadhilah Rizqi, yang akrab disapa Kiki. Ia adalah PIC dari salah satu program di BIL Fest, yaitu Inkubasi Penulis Banyumas. Bersama para peserta, ia berbagi pengalamannya membuat silabus penulisan, merancang kelas kepenulisan, hingga bercerita tentang proses kreatif di balik program yang diselenggarakan oleh BIL Fest.

Selain dari BIL Fest, para peserta juga saling menceritakan aktivitas literasi dan kepenulisan di daerah masing-masing. Mereka menceritakan tentang program sastra maupun literasi secara umum, baik yang dari Balikpapan, Padang, Pekalongan, maupun Jakarta. Mereka menceritakan tentang festival literasi dan seni, serta gaya baru para Gen Z di tahap awal berkenalan dengan buku. Dari aktivitas membaca buku bersama, sampai menceritakan hasil bacaan, seperti yang dilakukan Irhamna, salah satu peserta dari Jakarta yang tergabung dalam Indonesia Book Party.

“Aktivitas literasi tidak dapat berjalan sendiri. Harus berjejaring dan berkolaborasi lintas komunitas. Termasuk dengan pegiat seni, budaya, maupun pendidikan formal. Itulah yang dilakukan BIL Fest,” ungkap Rahmi Wijaya, menanggapi cerita dari para peserta.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Redaksi Temenan

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu seni. Kalau ada yang tersinggung, anggap aja efek samping membaca kebenaran dengan bumbu cabe rawit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *