Tak semua demonstrasi dimulai dengan pekikan orasi. Sore itu Jumat (26/6/2026), di depan Rita SuperMall Purwokerto, bunyi klakson justru lebih dulu memecah hiruk pikuk jalanan. Satu per satu pengendara membalas ajakan yang tertulis pada selembar karton, “Kalau capek jadi WNI, bunyikan klakson,” sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Di atas aspal, musik dimainkan bergantian dengan pembacaan puisi, penampilan teater dan orasi. Tak jauh dari sana, buku-buku dibentangkan di atas tikar dengan sampul menghadap ke langit, sementara pakaian layak pakai yang baru dikeluarkan dari karung terhampar di atas karpet sebagai pasar gratis.
Pemandangan seperti itu tidak lazim ditemui dalam sebuah aksi mahasiswa. Orasi tetap menjadi bagian utama, tetapi sore itu ia berbagi ruang dengan musik, teater, puisi, lapak baca, dan pasar gratis. Di tengah lalu lintas yang tetap ramai, sebagian pengendara hanya sempat membunyikan klakson sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Aksi berlangsung damai, tetapi menyisakan satu pertanyaan: mengapa demonstrasi ini memilih cara yang berbeda?
Jawabannya muncul dari penyelenggara aksi. Mimbar Bebas memang dirancang berbeda dari aksi-aksi sebelumnya. Jika sebelumnya demonstrasi lebih berfokus pada penyampaian tuntutan, kali ini penyelenggara berupaya menghadirkan ruang yang lebih terbuka bagi masyarakat. Penampilan musik, lapak baca, dan pasar gratis menjadi bagian dari konsep tersebut sebagai cara untuk mengajak masyarakat memberi perhatian terhadap gerakan mahasiswa.
Bagi penyelenggara, tujuan aksi ini bukan sekadar menyampaikan tuntutan, tetapi juga membangun keterlibatan publik. Karena itu, aksi tidak hanya diisi orasi, melainkan menghadirkan ruang yang memungkinkan masyarakat datang, melihat, mendengar, atau sekadar berhenti sejenak di tengah aktivitas mereka.
Konsep yang dijelaskan penyelenggara tidak berhenti sebagai rencana. Selama aksi berlangsung, ruang-ruang yang disiapkan benar-benar menjadi bagian dari jalannya kegiatan. Musik, pembacaan puisi, penampilan teater dan orasi berlangsung bergantian di atas aspal.
Di tengah padatnya arus kendaraan di depan Rita SuperMall Purwokerto, bunyi klakson beberapa kali terdengar dari pengendara yang melintas. Respons itu hanya berlangsung sesaat sebelum kendaraan kembali bergerak mengikuti lalu lintas. Pada waktu yang sama, jurnalis dari berbagai media bergantian mewawancarai peserta maupun penyelenggara, sedangkan aparat kepolisian berjaga di sekitar lokasi tanpa mengganggu jalannya aksi.
Meski demikian, tidak semua ruang yang dihadirkan memperoleh perhatian yang sama. Lapak baca lebih banyak didatangi oleh peserta aksi dibanding warga yang melintas. Pasar gratis yang menyediakan pakaian layak pakai juga belum banyak dimanfaatkan selama pengamatan berlangsung. Hingga aksi berakhir, suasana tetap berjalan damai tanpa bentrokan. Namun, respons masyarakat terhadap setiap ruang yang dihadirkan tampak berbeda-beda.
Perbedaan respons yang muncul selama aksi berlangsung menunjukkan bahwa upaya mendekatkan mahasiswa dengan masyarakat tidak dapat diukur hanya dari banyaknya orang yang berhenti atau ikut terlibat. Ada ruang yang langsung mendapat perhatian, ada pula yang belum banyak dimanfaatkan. Perbedaan tersebut menjadi bagian yang wajar ketika sebuah cara baru diperkenalkan kepada publik.
Dari pengamatan di lapangan, Mimbar Bebas memperlihatkan adanya upaya menghadirkan bentuk demonstrasi yang berbeda dari aksi-aksi sebelumnya. Fokusnya tidak hanya pada penyampaian tuntutan, tetapi juga pada bagaimana tuntutan tersebut dapat hadir lebih dekat dengan masyarakat melalui konsep yang telah disiapkan penyelenggara.
Satu kali pelaksanaan tentu belum cukup untuk menilai sejauh mana pendekatan ini mampu memperkecil jarak antara mahasiswa dan masyarakat. Namun, pengamatan selama aksi berlangsung menunjukkan bahwa upaya menghadirkan bentuk demonstrasi yang berbeda dapat menjadi salah satu cara untuk membuka ruang interaksi yang lebih dekat antara gerakan mahasiswa dan masyarakat.
Klakson yang bersahut-sahutan sore itu akhirnya berhenti. Menjelang maghrib, jalan kembali dipenuhi kendaraan, sementara Mimbar Bebas perlahan berakhir. Purwokerto kembali pada kesibukannya seperti biasa. Namun, pertanyaan yang muncul selama aksi itu tetap tertinggal: apakah cara yang berbeda dalam menyampaikan aspirasi mampu mendekatkan mahasiswa dengan masyarakat? Jawabannya tentu belum dapat diperoleh hanya dari satu kali aksi.




