Menghadapi Decline Literasi Komunitas, David Efendi: Butuh Kesegaran Ide dan Ruang Titik Temu Berjemaah

BANYUMAS, temenan.bilfest.id – Gerakan literasi berbasis komunitas di Indonesia tengah menghadapi tantangan berat berupa penurunan eksistensi (decline) dan kelesuan aktivitas. Di tengah fenomena universal ini, wadah pertemuan komunal dinilai menjadi kunci krusial untuk memetakan kembali kekuatan yang tersisa serta menyuntikkan kesegaran ide-ide baru yang adaptif.

Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Serikat Taman Pustaka Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, David Efendi, dalam wawancara khusus bersama Ketua MPI PCM Ajibarang, Neo Amroni. Wawancara berlangsung di sela-sela kemeriahan Festival Literasi Muhammadiyah yang digelar di Auditorium Ukhuwah Islamiyah Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Sabtu (19/7/2026).

Fenomena Kelesuan dan Tantangan Ekonomi Pemuda

David mengungkapkan bahwa penurunan grafik keaktifan gerakan literasi komunitas di Indonesia dipengaruhi secara kuat oleh faktor stabilitas ekonomi para penggeraknya, terutama generasi muda.

“Sebagai lembaga Muhammadiyah yang diminta untuk memperkuat gerakan literasi berbasis komunitas, ya memang kita harus sering punya titik temu ya. Artinya apa? Ini kan fenomena jamaknya di Indonesia ini kan gerakan literasi berbasis komunitas ini mengalami decline, mengalami apa ya… kelemasan,” ujar David membuka keterangannya.

Ia menguraikan bahwa komunitas yang mampu bertahan (resilient) umumnya ditopang oleh ekosistem keluarga atau kelompok yang secara finansial sudah mapan. Sebaliknya, bagi para pegiat muda, himpitan ekonomi sering kali memaksa mereka menomorduakan aktivitas literasi.

“Ada beberapa yang berusaha resilient, berusaha menguatkan otot-otot komunitasnya, yang kebetulan punya kelompok-kelompok yang secara ekonomi mapan mungkin bisa ditopang itu. Ada keluarga-keluarga yang punya kegiatan literasi, punya penghasilan, mungkin mereka akan bertahan. Tapi untuk anak-anak muda yang tidak punya pekerjaan tetap dan biaya hidup semakin tinggi, saya sudah membaca fenomena ini, mereka akan hijrah bekerja ke tempat lain dan aktivitas literasinya tidak diurus,” jelasnya secara detail.

Berdasarkan data yang dimiliki Serikat Taman Pustaka, saat ini tercatat ada kurang lebih 400 komunitas literasi yang terdata di bawah jaringan mereka. Namun, kondisinya saat ini sangat fluktuatif.

“Sisa-sisa yang masih aktif, masih aktif banget ada beberapa. Kadang berkegiatan, kadang lama enggak berkegiatan, tapi masih ada. Ada yang sama sekali sudah enggak ada orangnya,” tambah David.

Festival Literasi Sebagai Ruang Refleksi dan Inovasi

Kehadiran agenda seperti Festival Literasi Muhammadiyah, menurut David, berfungsi vital sebagai ruang temu untuk menyadarkan kembali potensi laten yang tersebar di berbagai daerah. Acara ini menjadi pembuktian bahwa gerak kreatif di tingkat lokal masih berdenyut.

“Jadi, ini adalah ruang titik temu untuk kembali, ‘Oh, kita ternyata masih ada toh.’ gitu. ‘Oh, ternyata di entitas Muhammadiyah di daerah ini masih ada toh yang kreatif.’ Ada BIL Fest, ini juga bisa menjadi kekuatan baru, yang baru sama sekali ini. Sesuatu yang baru menurut saya,” puji David terhadap inisiatif perhelatan literasi tersebut.

Ia menegaskan pentingnya mendobrak pola-pola konvensional gerakan literasi yang selama ini cenderung monoton dan rentan mengalami stagnasi atau involusi.

“Yang lain kan agak konvensional tuh, ngumpulin buku, memanfaatkan buku, membuat rak, mengajak tetangga belajar, membimbing atau guru les dan sebagainya. Itu sudah… sudah lama kayak gitu. Kita juga butuh kesegaran, maka kita ingin berkumpul. Ini juga menemukan ide-ide baru biar rasa involusi atau ‘Kok kayak kita kayak begini-begini aja ya 5 tahun terakhir itu?’ kayak sedikit banyak, ‘Oh, harusnya bisa begini ya,'” tuturnya.

Dua Corak Baru Gerakan Literasi Kontemporer

Lebih lanjut, David memetakan lahirnya dua model pendekatan baru yang menyegarkan gerakan literasi saat ini, yakni digitalisasi pengetahuan dan integrasi pemberdayaan ekonomi sosiopreneur.

“Oh, kalau di saat orang enggak banyak bekerja di isu pendampingan membaca, literasi, ternyata ada yang bergerak di media online, menyajikan pengetahuan versi online. Ada yang bergerak ke membangun ekonomi, kayak yang kita hadirkan hari ini dari Purbalingga itu kan taman baca yang membangun ekonomi lewat sampah, lewat daur ulang. Mereka memberi nilai ekonomi pada sampah yang diambil dari warga dan sebagainya,”.

Menurutnya, diversifikasi ruang belajar ini harus terus diciptakan agar para pegiat tidak terjebak dalam rasa frustrasi yang soliter.

“Ada banyak sih pilihan-pilihan yang seharusnya tersedia. Tetapi kalau tidak ada ruang bersama yang kita sadari sebagai ruang belajar yang disediakan dan kita menyediakan itu, kayak orang ngerasa ngeluh sendiri atau mati sendiri.”

“Mati Baik-Baik” demi Kecendekiawanan Bangsa

Dengan nada kelakar filosofis, David menyebut bahwa mendedikasikan hidup, bahkan hingga menemui titik akhir dalam mengurus literasi dan buku merupakan sebuah kehormatan moral yang tinggi.

“Ya mungkin mati sebagai pekerja literasi itu saya kira masuk kategori mati baik-baik ya menurut saya ya, dibanding jualan narkoba kan? Jadi, mati sebagai pegiat literasi adalah salah satu kiat mati baik-baik. Mungkin dalam cerita buku Rumah Kertas itu ya kadang ketimpa tangga, kejatuhan buku, cerita-cerita patah tulang, urusan-urusan buku. Saya kira itu ya kan mati baik-baik, ngurus festival literasi. Saya kira itu peristiwa-peristiwa yang bisa diabadikan sebagai kekuatan komunitas, kekuatan… ya ke… kecendekiawanan,” paparnya.

Di akhir wawancara, David menekankan bahwa gerakan literasi melalui writers festival atau festival sejenis bukanlah gerakan politik makro yang meledak-ledak, melainkan rajutan simpul intelektual yang menyelamatkan bangsa secara kolektif dari keterpurukan. “Ee tentu saja bukan versi yang revolusioner kayak abad-abatan Malaka, tetapi menyediakan ruang belajar seperti festival literasi atau writers festival, itu adalah ruang-ruang yang masih sangat potensi menjadi kekuatan yang menghubungkan antaride. Setidaknya menghubungkan bahwa kita adalah sebuah bangsa yang sedang bermasalah yang kita musti bertahan bersama. Kita di dalam porak-porandanya negara, bersama-sama lebih baik. Berjemaah pasti lebih bagus, lebih selamat. Nah, selamat. Dan selamat dan slamet. Gitu dulu. Oke,” pungkas David Efendi menutup sesi wawancara.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Redaksi Temenan

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu seni. Kalau ada yang tersinggung, anggap aja efek samping membaca kebenaran dengan bumbu cabe rawit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *