Suara Literasi di Lereng Slamet: Saat Anak-Anak Cibun Mengeja Sejarah dan Mimpi

Banyumas. Udara pagi itu, Sabtu, 9 Mei 2026, terasa begitu sejuk. Seperti senyum warga Kampung Cibun, Desa Sunyalangu, Karanglewas, Banyumas, yang menyambut kedatangan Nisa Roiyasa dan tim dari BIL Fest. Hawa sejuk ini adalah kawan karib bagi warga yang sehari-hari tinggal di Lereng Gunung Slamet bagian selatan. Di sebuah sudut tersembunyi yang hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki atau nyali di atas motor melewati jembatan gantung yang berayun di atas Sungai Logawa, sebuah keriuhan kecil mulai pecah.

Pagi itu, Rumah Cibun bukan sekadar bangunan kayu yang bersahaja. Ia bertransformasi menjadi oase bagi imajinasi puluhan anak-anak kampung Cibun. Dengan langkah riang, didampingi beberapa orang tua, mereka berkumpul untuk sebuah agenda sederhana namun sarat makna: mendongeng dan belajar bersama tim Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest).

Jembatan Gantung dan Akar Literasi

Akses menuju Kampung Cibun memang memberikan sensasi petualangan tersendiri. Sungai Logawa yang mengalir deras di bawah jembatan gantung menjadi pemisah sekaligus penjaga ketenangan kampung ini. Namun, isolasi geografis bukan berarti isolasi pemikiran. Sejak 2019, jauh sebelum bangunan fisik Rumah Cibun resmi berdiri pada 2020, benih-benih edukasi telah ditanam di sini.

Nisa Roiyasa bersama suami, sang inisiator sekaligus tuan rumah, adalah sosok di balik denyut nadi kegiatan ini. Baginya, Rumah Cibun adalah ruang tunggu masa depan. “Awalnya kami hanya main saja ke sini, saya sama suami.” Berawal dari pencariannya tentang pembaca Babad Pasir Luhur. Sebuah Babad yang menceritakan awal mula sebuah daerah yang kita kenal dengan Kabupaten Banyumas.

Kehadiran tim BIL Fest pagi itu seolah memberikan asupan energi baru. Rahmi, Founder BIL Fest, duduk bersila bersama anak-anak bersama tim yang lain seperti Neo, Fikri Kuncen, Kiki, dan Arum. Dengan nada yang penuh semangat, ia membakar motivasi para peserta kecil itu. Rahmi tak hanya datang untuk hari ini; ia membawa kabar gembira tentang perhelatan besar Festival Literasi yang akan digelar pada Juni 2026 mendatang. Pesannya jelas: literasi adalah kunci untuk melihat dunia, dan anak-anak Cibun adalah bagian dari dunia itu.

Rahma dan Keberanian dalam Kata

Suasana semakin hangat ketika Kiki, Co-Founder BIL Fest, melanjutkan untuk mendongeng bersama anak-anak. Kiki tidak ingin hanya menjadi penceramah; ia ingin anak-anak menjadi aktor utama. Ia menantang siapa pun yang berani untuk menceritakan kembali buku yang pernah mereka baca.

Seorang anak perempuan bernama Rahma kemudian berdiri. Dengan sedikit malu namun penuh tekad, ia melangkah ke depan. Di tangannya, ia membawa pesan dari sebuah buku berjudul Berani Katakan. Dengan suara yang awalnya pelan namun lama-kelamaan menguat, Rahma menceritakan pentingnya kejujuran dan keberanian mengungkapkan kebenaran. Tepuk tangan pecah saat Rahma menutup ceritanya, membuktikan bahwa literasi telah memberikan kepercayaan diri yang luar biasa pada anak desa tersebut.

Momen ini dimanfaatkan Kiki untuk menyambungkan narasi keberanian itu dengan sejarah. Ia menceritakan sosok RA Kartini, pejuang emansipasi yang melalui surat-suratnya mampu mengguncang pemikiran kolonial. Kiki menekankan bahwa Kartini berjuang melalui tulisan, sebuah pesan yang sangat relevan bagi anak-anak yang tengah memegang buku di lereng gunung itu.

Menjaga Babad, Menjaga Identitas

Namun, puncak dari pertemuan pagi itu adalah ketika narasi lokal mengambil alih. Nisa Roiyasa mengajak perwakilan anak-anak untuk membacakan Babad Pasir Luhur. Ini bukan sekadar teks sejarah; bagi warga Cibun, ini adalah identitas.

Ada pemandangan yang menggetarkan hati saat anak-anak itu melantunkan bait-bait Babad. Masyarakat Cibun memiliki tradisi unik yang diwariskan secara turun-temurun: mereka mengajarkan anak-anaknya untuk membaca Babad Pasir Luhur secara utuh, bukan hanya satu atau dua pupuh (bait) saja.

“Kami ingin mereka tahu akarnya. Membaca secara utuh berarti memahami proses, sejarah, dan nilai-nilai luhur leluhur kami secara lengkap,” jelas Nisa. Ketekunan ini bukan tanpa hasil. Kelompok anak-anak dari Rumah Cibun ini sebelumnya pernah tampil memukau di acara Festival Bahasa Ibu yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa kearifan lokal jika dirawat dengan literasi yang tepat, mampu bersaing di panggung yang lebih luas.

Harapan dari Kaki Gunung

Kegiatan yang dimulai sejak pukul 09.00 WIB itu berakhir saat matahari mulai meninggi, meski hawa sejuk kaki Gunung Slamet tetap bertahan. Bagi puluhan anak yang hadir, hari itu bukan sekadar ritual membaca buku. Itu adalah hari di mana mereka diingatkan bahwa suara mereka berharga, sejarah mereka mulia, dan masa depan mereka luas membentang.

Rumah Cibun telah membuktikan bahwa keterbatasan akses fisik, seperti jembatan gantung yang sempit, tidak boleh membatasi luasnya cakrawala berpikir. Dengan kolaborasi bersama gerakan seperti BIL Fest, kampung kecil di pinggiran Sungai Logawa ini sedang menulis babak barunya sendiri.

Saat tim BIL Fest berpamitan dan kembali melewati jembatan gantung yang bergoyang, sayup-sayup masih terdengar tawa anak-anak dari kejauhan yang melambaikan tangan. Di bawah bayang-bayang Gunung Slamet, literasi bukan lagi sekadar kata benda dalam kamus, melainkan denyut kehidupan yang nyata, yang terus tumbuh dan membesar seiring langkah anak-anak Cibun menyongsong festival di bulan Juni nanti.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Redaksi Temenan

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu seni. Kalau ada yang tersinggung, anggap aja efek samping membaca kebenaran dengan bumbu cabe rawit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *