Banyumas Ngibing Menari 24 Jam Dibuka, Riyanto: Semoga Tahun Depan Masuk Kalender Event Nasional

BANYUMAS – Udara pagi di Pendopo Banyumas Kota Lama terasa berbeda pada Sabtu, 2 Mei 2026. Tepat pukul 06.00 WIB, keheningan pecah oleh gema dentuman gong dan pemukulan kentongan yang menandai dimulainya perhelatan akbar: Banyumas Ngibing Menari 24 Jam.

Acara dibuka secara khidmat oleh Siti Mukaromah S.Ag, M.AP, Anggota DPR RI Dapil Jateng VIII, melalui penabuhan gong. Semangat pelestarian semakin terasa saat Made Dharma Sutesa, Dirjen Perlindungan Tradisi Kementerian Kebudayaan, bersama Riyanto dari Dinporabudpar Kabupaten Banyumas dan Camat setempat serta beberapa tokoh budaya Banyumas, melakukan pemukulan kentongan secara serempak.

Dedikasi Tanpa Henti

Sebagai simbol restu bagi para seniman yang akan menguji ketahanan fisik dan jiwanya, pengalungan bunga dilakukan kepada dua penari utama yang akan menari nonstop selama 24 jam. Sri Cicik Handayani M.Sn menerima kalung bunga dari Siti Mukaromah, sementara Baltazar Oka Reskir S.Pd dikalungkan bunga oleh Made Dharma Sutesa.

Perhelatan ini bukan sekadar panggung tari biasa. Selama dua hari, 2-3 Mei 2026, denyut budaya Banyumas tersebar di tiga lokasi strategis: Pendopo Banyumas Kota Lama, Tamansari, dan Mruyung.

Pembukaan juga ditandai dengan penampilan 2 Barongsai dari Nagamas dan 77 penari muda dari SMKI Banyumas yang menarikan Tarian Lengger Eling-eling Ciwit-ciwitan.

Visi Riyanto: Menuju Panggung Nasional

Ditemui di sela-sela pembukaan, Riyanto mengungkapkan rasa syukurnya atas penyelenggaraan tahun kedua ini. Baginya, edisi 2026 tampil lebih berwarna dengan kolaborasi lintas disiplin.

“Tahun ini lumayan berbeda karena kita menghadirkan teman-teman pelukis dari Banyumas dan Purbalingga yang tergabung dalam satu komunitas untuk melukis bersama,” ujar Riyanto selaku Event Director.

Ia juga menjelaskan bahwa ajang ini telah menjadi magnet global dengan kehadiran hampir 1.000 penari, 150 pertunjukan, dan 85 komunitas yang datang dari berbagai penjuru dunia, mulai dari Jepang, Kazakhstan, Belanda, Jerman, hingga Amerika Serikat. Dengan tema “Beragam Jiwa yang Menyatu di Dalam Bumi”, acara ini berupaya menjahit berbagai peristiwa budaya menjadi satu kesatuan di tanah Banyumas.

Harapan besar pun disematkan. Riyanto berharap Banyumas Ngibing dapat menjadi ikon wisata Kota Lama, bersanding dengan kemegahan Masjid Nur Sulaiman dan Museum Wayang.

“Harapan saya, tahun depan kita bisa masuk ke Kalender Event Nasional (KEN). Ini adalah apresiasi terbesar bagi leluhur budaya kita—Lengger, Ebeg, dan lain sebagainya,” pungkasnya dengan optimisme tinggi.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Redaksi Temenan

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu seni. Kalau ada yang tersinggung, anggap aja efek samping membaca kebenaran dengan bumbu cabe rawit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *