Diskusi Budaya di Banyumas Ngibing Menari 24 Jam, Hadirkan Profesor Rene T.A. Lysloff

Banyumas – Sabtu sore, 2 April 2026, suasana di Pendopo Adipati Mrapat, Kecamatan Banyumas, terasa begitu hidup. Langit Kota Lama menaungi riuhnya acara dengan cuaca yang bersahabat; tidak begitu terik, sementara angin bertiup lembut menyapu pelataran. Di tengah suasana syahdu itu, panggung diguncang oleh pentas kolosal dari LKP Sanggar Sekar Periang. Puluhan penari dari berbagai kelompok usia bergantian memamerkan kelincahan tubuh, menciptakan harmoni gerak yang memukau mata para pengunjung.

Keriuhan tari-tarian tersebut menjadi pembuka yang manis sebelum memasuki sesi diskusi budaya yang dipandu oleh Ciptono Hadi, seorang peneliti budaya asal Solo. Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Dalam sambutannya, Bambang Cahyo selaku Asisten Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur menekankan bahwa penguatan ekosistem budaya di Banyumas bukan sekadar upaya pelestarian sejarah, melainkan strategi krusial untuk meningkatkan daya tarik pariwisata berbasis kearifan lokal yang mampu menggerakkan roda ekonomi kreatif masyarakat secara berkelanjutan.

Semangat pelestarian ini pun diamini oleh anggota DPR RI, Hj. Siti Mukarromah, S.Ag., M.A.P. Dalam pidatonya, ia memberikan pesan mendalam mengenai nilai persatuan. “Di tengah perbedaan yang ada, kita disatukan oleh budaya. Inilah identitas yang merekatkan tali persaudaraan kita sebagai bangsa,” tuturnya dengan tegas.

Sebagai pemantik diskusi, tokoh budaya Drs. Bambang Widodo, M.M.Par. mengupas tuntas kekayaan lokal yang dimiliki bumi pertiwi ini. Ia menyoroti betapa uniknya Banyumas yang memiliki karakter budaya khas, mulai dari cara bertegur sapa lewat salamnya yang blakasuta hingga estetika kesenian tari yang tiada duanya di daerah lain.

Jejak Visual dari Masa Lalu

Puncak diskusi semakin menarik saat antropolog Prof. Rene T.A. Lysloff (akrab disapa Prof. Rene) memutar video dokumentasinya. Peneliti asal Amerika Serikat yang telah lama jatuh cinta pada kesenian Jawa ini memutar dokumentasi video langka mengenai kesenian Lengger di masa lampau.

Prof. Rene berbagi kisah emosional mengenai dedikasinya mendokumentasikan geliat seni di pelosok desa. Ia menceritakan pengalamannya merekam pementasan di era lampau, saat teknologi belum secanggih sekarang.

“Saya mendokumentasikan kesenian ini sejak panggung-panggung di desa masih menggunakan lampu neon sederhana sebagai penerangan,” kenang Prof. Rene.

Melalui cuplikan video tersebut, peserta diskusi diajak melintasi ruang waktu, melihat bagaimana tari Lengger bertransformasi namun tetap menjaga ruhnya. Diskusi ini menjadi pengingat penting bahwa di balik gemerlap modernitas, jejak digital masa lalu adalah harta karun yang menjaga akar budaya Banyumas tetap kokoh.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Redaksi Temenan

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu seni. Kalau ada yang tersinggung, anggap aja efek samping membaca kebenaran dengan bumbu cabe rawit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *