PURWOKERTO – Gelaran Banyumas International Literacy Festival atau BIL Fest 2026 hari ketujuh ditutup dengan penampilan stand up komedi dari komunitas Stand Up Indo Purwokerto. Kolaborasi tersebut berlangsung meriah pada sesi keempat atau sesi terakhir dari seluruh rangkaian festival literasi hari tersebut, Rabu, (17/06/2026).
Acara kolaborasi antara BIL Fest dengan komunitas komedi lokal tersebut dipandu langsung oleh Iqbal selaku salah satu anggota Stand Up Indo Purwokerto. Iqbal bertindak sebagai pembawa acara yang menyapa para audiens dengan gelak tawa yang atraktif ke para pengunjung.
Sesi stand up komedi tersebut dihadiri oleh puluhan pengunjung dari berbagai latar belakang sosial yang memadati area utama festival. Penonton yang hadir datang dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga pekerja.
Dalam kesempatan kali ini, terdapat sedikitnya 12 komika perwakilan dari berbagai komunitas komedi tunggal di sekitar wilayah Banyumas. Perwakilan tersebut mulai dari komunitas Stand Up Indo Purwokerto, Stand Up Indo Purbalingga, hingga komunitas Stand Up Indo Cilacap.
Sesi panggung komedi tunggal dibuka secara resmi oleh komika pertama bernama Budi yang bertindak selaku opener. Dalam penampilannya, Budi menceritakan latar belakang personalnya yang bekerja sebagai seorang guru honorer di salah satu institusi pendidikan.
Ia menerangkan di hadapan audiens bahwa dirinya pernah mendapatkan gaji hanya sebesar 300 ribu rupiah dalam waktu sebulan. Penampilan jujur dari Budi sebagai pembuka panggung tersebut berhasil mendapatkan apresiasi berupa tepuk tangan meriah dari para audiens.
Setelah penampilan pembuka, panggung berlanjut dengan suguhan komedi dari komika lainnya yang bernama Dimdim di atas panggung festival. Dimdim menjadi salah satu penampil yang juga mendapatkan banyak apresiasi dari penonton berkat kelucuan materi komedi yang dilontarkannya.
Sesi komedi tunggal tersebut akhirnya ditutup oleh penampilan pamungkas dari Iqbal yang sebelumnya bertugas menjadi pembawa acara. Iqbal menutup rangkaian pertunjukan komedi dengan memberikan pernyataan penutup sekaligus mempromosikan komunitas Stand Up Indo Purwokerto.
Iqbal juga menjelaskan mengenai berbagai macam bentuk kegiatan rutin yang dijalankan oleh komunitas Stand Up Indo Purwokerto selama ini. Salah satu program rutin komunitas yang ia kenalkan secara langsung kepada para pengunjung festival adalah kegiatan latihan bersama atau open mic.
Salah satu perwakilan anggota dari komunitas Stand Up Indo Purwokerto, Koko, turut memaparkan pandangannya mengenai kehadiran perwakilan luar daerah. Menurut Koko, kehadiran komika dari berbagai kota tetangga merupakan wujud nyata nilai solidaritas yang kuat antar-komunitas komedi.
“Sebenarnya kita solidaritas aja sih, karena kebetulan dari beberapa kota itu kan jaraknya saling berdekatan,” ujar Koko.
Faktor kedekatan geografis antar-kabupaten tersebut memudahkan para pecinta komedi untuk saling memberikan dukungan panggung secara bergantian. Koko menjelaskan bahwa kesamaan visi membuat masing-masing komunitas stand up di wilayah tersebut selalu saling mengunjungi satu sama lain.
Terkait kesiapan panggung, Koko menegaskan bahwa seluruh komika yang tampil telah melalui proses persiapan matang sebelum menghibur masyarakat Banyumas. Para penampil sengaja menyiapkan materi-materi komedi segar agar dapat memberikan penampilan yang maksimal di panggung festival literasi.
“Persiapan khusus pasti, mereka menulis beberapa materi baru untuk yang dibawakan, tetapi juga ada yang membawakan materi lama,” katanya.
Meskipun ada beberapa komika yang membawakan materi lama, Koko menyebutkan sebagian besar penampil tetap memprioritaskan penggunaan materi komedi baru. Langkah tersebut diambil demi menjaga orisinalitas dan kesegaran humor di hadapan puluhan pasang mata pengunjung festival.

Koko menilai jalannya pertunjukan penutupan tersebut berlangsung dengan sangat seru karena antusiasme penonton yang dinilai sangat tinggi serta kooperatif. Para penonton sejak awal dinilai telah memiliki kesiapan mental yang baik untuk menikmati hiburan komedi tunggal di lokasi.
“Seru banget, soalnya penontonnya asik,” tutur Koko menceritakan suasana interaksi yang terbangun antara komika dengan para penonton di panggung.
Koko menambahkan bahwa para penonton yang datang langsung diarahkan dengan tertib oleh panitia untuk menyaksikan penampilan komedi secara bersama-sama. Kondisi tersebut membuat suasana pertunjukan menjadi sangat kondusif karena konsentrasi massa berpusat penuh di depan panggung utama.
“Kemudian penonton juga nggak mencar-mencar di setiap sudut,” ujarnya.
Para pengunjung dapat membagi waktu dengan sangat baik antara menikmati hiburan panggung komedi dengan berburu buku di area bazar. Koko melihat bahwa ketika waktu pertunjukan komedi dimulai mereka menonton, dan setelah selesai mereka dapat mencari buku minat mereka.
“Kedepannya sih semoga tetap seru kayak gini, bisa lebih ramai, bukunya semakin variatif, dan makin seru lah,” kata Koko memungkasi harapannya.
Antusiasme tinggi juga dirasakan oleh salah satu pengunjung yang hadir menyaksikan sesi open mic tersebut, yaitu seorang pemuda bernama Latif. Ia membagikan cerita mengenai latar belakang kesibukan hariannya yang saat ini dihabiskan untuk bekerja dan juga menempuh pendidikan.
“Saya sekarang kesibukannya bekerja, sembari berkuliah di Universitas Terbuka,” terang Latif.
Mengenai motivasi kedatangannya, ia mengaku tertarik karena menyadari bahwa penyelenggaraan festival literasi seperti ini merupakan momen langka. Kehadirannya di festival tersebut juga berawal dari ajakan salah satu temannya yang menginformasikan adanya panggung stand up komedi.
“Motivasinya paling ya, kan jarang-jarang acara kayak gini,” ujar Latif.
Latif juga menambahkan bahwa dirinya memang merupakan seorang penggemar seni komedi tunggal sehingga langsung menyambut baik ajakan dari temannya tersebut. Ia sengaja meluangkan waktu khusus untuk datang ke festival literasi saat sesi kolaborasi dengan Stand Up Indo Purwokerto dimulai.
“Juga tadi diajak sama teman, katanya ada stand up, kebetulan saya lumayan suka stand up, akhirnya datang aja ke BIL Fest,” ucapnya.
Sebagai penonton, Latif memberikan penilaian yang sangat positif terhadap konsep kolaborasi yang diusung oleh BIL Fest. Ia memandang kolaborasi antara kedua pihak berjalan dengan sangat padu dan memperkaya warna acara festival.
“Untuk kolaborasi ini sangat kompak, keduanya antara BIL Fest dengan Komunitas Stand Up Indo Purwokerto saling mendukung dan bersinergi satu sama lain,” puji Latif.
Latif menutup perbincangan dengan menyampaikan harapan besar terkait keberlanjutan pelaksanaan festival literasi terintegrasi ini di masa-masa yang akan datang. Ia menilai kegiatan Banyumas International Literacy Festival perlu lebih diintensifkan karena sangat bermanfaat.



