Malam Inaugurasi BIL Fest 2026: Ajang Perayaan Puncak Festival Literasi dan Komitmen Kedepan

PURWOKERTO – Gelaran festival literasi terpanjang di Banyumas ditutup melalui Malam Inaugurasi dan Closing Ceremony BIL Fest 2026. Acara penutupan berlangsung meriah di Hetero Space Purwokerto, Sabtu, (20/06/2026).

Rangkaian kegiatan festival literasi ini diakhiri dengan pembacaan nominasi penghargaan, penyampaian pidato kebudayaan, serta pertunjukan musik di akhir. Acara ini juga dihadiri oleh puluhan pengunjung dari berbagai latar belakang, termasuk seniman lokal, hingga para nomine BIL Awards 2026.

Pembawa acara Zul Fadli membuka malam penutupan dengan memantik semangat puluhan audiens untuk memberikan tepuk tangan meriah. Setelah memimpin doa bersama, Zul mengarahkan seluruh hadirin untuk berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan tiga stanza.

Setelahnya disusul Rahmi Wijaya selaku Founder BIL Fest yang mengungkapkan rasa harunya setelah gelaran BIL Fest 2026. Rahmi juga menceritakan beratnya perjuangan dalam mempertahankan konsistensi festival tersebut. Ia menuturkan setelah gelaran BIL Fest tahun sebelumnya, Rahmi dan rekan-rekannya dituntut untuk menyelenggarakan kegiatan lanjutan misalnya inkubasi penulis.

“Selama 10 hari ada kebahagiaan yang tercipta dari segala aktivitas yang hadir dalam gelaran BIL Fest,” ujar Rahmi.

Rahmi berharap kolaborasi literasi seperti ini dapat terus subur demi meningkatkan kualitas karya kepenulisan masyarakat Banyumas. Cita-cita gerakan ini adalah memfasilitasi lahirnya generasi penulis baru Banyumas yang produktif di masa depan.

“Festival literasi mungkin selesai hari ini, tapi BIL Fest akan terus berjalan,” ujar Rahmi untuk memotivasi para peserta. Sebagai representasi warga dunia, gerakan literasi ini akan terus membawa mimpi besar membawa karya lokal agar lebih dikenal lagi.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pengumuman nominasi Anugerah BIL Awards 2026 yang dipandu langsung oleh Nur Fadilah Rizqi selaku moderator. Kiki sapaan akrabnya, mengundang tiga juri inkubasi penulis, yakni Cak Mahmud, Bu Amita, dan Mas Amar untuk naik ke panggung utama.

Tim juri menggunakan enam indikator utama yang objektif serta proporsional dalam menentukan karya terbaik dari para penulis inkubasi Banyumas. Indikator pertama menilai kesegaran premis atau ide cerita, sedangkan indikator kedua mengukur kualitas kerapihan naskah hasil penyuntingan mandiri.

Indikator ketiga difokuskan pada originalitas karakter khas penulis, sementara indikator keempat menakar kedalaman eksplorasi riset pendukung cerita. Adapun indikator kelima menguji estetika pengelolaan gaya bahasa artistik, sedangkan indikator keenam menilai koherensi logis antar elemen alur dan gagasan utama naskah.

Daftar nominasi diisi oleh Isyarotul Imamah dengan karya Sasmitaloka serta Laras Sanggita Prameswari yang menulis naskah berjudul Kaze Banyu. Terdapat pula nama Zahara NF dengan karya Maryam, Etika Filosofia membawa Rahasia Buni, serta Dwi Scativana Isnaeni mengusung Oyot Toya Wingit.

Penulis lain yang masuk nominasi adalah Icha Nurul Mustafiana dengan naskah Akuarium untuk Kepala Masing-Masing, serta Aflakha lewat Yang Tersisa Dari Desa. Daftar tersebut juga memuat nama Muhammad Latief Azhar dengan naskah Merpati & Ular: Mencari Ratu Adil.

Setyo Wahyu Nugroho dengan judul Wah!, Ikrom Rifa’i mengusung Telunjuk dan Pelatuk, serta Ade Robbani Setiawan menaruh karya Bayangmu di Batas Waktu turut terdaftar. Dua nama terakhir yang melengkapi nominasi tersebut adalah Wiwit Putra Bangsa lewat Orang-orang dalam Kotak serta Khanan Saputra lewat Musim Pindah.

Zul Fadli mewakili seluruh panitia mengucapkan selamat kepada para nominasi sepuluh besar terbaik yang berhasil terpilih tahun ini. Sesi sakral berikutnya diisi oleh Founder BIL Fest Neo Amroni yang menyampaikan pidato kebudayaan mengenai visi jangka panjangnya.

Neo memaparkan sejarah perkembangan festival, di mana pada tahun 2025 gerakan ini mengusung tema berjejaring komunitas bernama “Temenan”. Pada tahun kedua atau tahun 2026 ini, festival mengambil tajuk “Niatan Selamet” untuk mulai membangun pondasi kokoh dari jaringan yang telah terbentuk.

Menurut Neo, kebudayaan sebuah bangsa jauh lebih sering melemah akibat kurangnya perawatan dari dalam daripada akibat serangan luar. “Maka langkah berikutnya adalah niatan BIL Fest 2027 niatan open,” tutur Neo Amroni.

Kata “Open” mengandung makna ganda yang sangat mendalam, yaitu berarti bersikap terbuka sekaligus tindakan nyata merawat. Neo menegaskan bahwa sikap terbuka tanpa adanya perawatan akan memicu kegaduhan sosial, sedangkan perawatan tanpa keterbukaan justru melahirkan keterasingan tradisi.

Melalui konsep ini, mereka berkomitmen membangun ruang perjumpaan inklusif yang mempertemukan tradisi masa lalu dengan perkembangan teknologi modern. Pidato kebudayaan kedua dibawakan oleh Wening Dewani yang mengajak publik merefleksikan nilai kemanusiaan universal secara egaliter tanpa memandang perbedaan kelompok.

Wening menekankan pentingnya melakukan dekonstruksi kebudayaan guna membongkar asumsi mapan serta melihat realitas sosial marginal secara kritis tanpa kepalsuan. “Mendekonstruksi kebudayaan berarti harus berani melihat celah dan kontradiksi di dalam ruang kebudayaan itu sendiri,” tegas Wening.

Baginya, ukuran kemajuan peradaban sejati dinilai dari tingkat kepedulian manusia terhadap martabat sesama individu yang rentan. Ia menambahkan bahwa jalan menuju keselamatan sejati harus dimulai dengan kesediaan membersamai kelompok disabilitas serta kaum pinggiran.

Seluruh rangkaian penutupan Malam Inaugurasi BIL Fest 2026 diakhiri dengan sesi dokumentasi foto bersama antara seluruh panitia dan penonton. Kemudian setelahnya panggung resmi ditutup dengan penampilan live music yang dibawakan oleh grup musik lokal Nada Sumbang.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Redaktur Novandi Ali Akbar

Jurnalis Official Banyumas International Literacy Festival 2026. Instagram @novandiali_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *