Karya Bertema MBG Sukses Sabet Gelar Film Terbaik di Festival Film Purbalingga 2026

PURBALINGGADilansir dari Suara Merdeka Banyumas, sinema pendek bertajuk “Ompreng” karya sutradara Farah Livia Linda yang digarap oleh Gunung Slamet Film SMAN 1 Bobotsari, Purbalingga, berhasil mendulang prestasi dengan menyabet trofi Fiksi Terbaik dalam gelaran Festival Film Purbalingga (FFP) 2026.

Penyerahan piala tersebut dilangsungkan pada momen Malam Penganugerahan 2 Dekade FFP 2026 yang bertempat di Bioskop Misbar, Kompleks Taman Kota Usman Janatin, Purbalingga, pada Sabtu (1/8/2026).

Sang sutradara, Farah Livia Linda, mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas rekor apresiasi yang diraih karyanya. Ia menilai, pencapaian ini menjadi pendorong semangat baginya untuk terus belajar sekaligus melahirkan karya-karya yang jauh lebih berkualitas di masa mendatang.

“Perasaan saya sangat gembira, terharu, dan bercampur aduk. Sebab sejak awal saya tidak mematok harapan tinggi, namun tak disangka justru karya ini yang terpilih menjadi pemenang oleh dewan juri,” tutur siswi yang duduk di kelas 11 C SMAN 1 Bobotsari tersebut.

Farah menceritakan bahwa gagasan untuk mengangkat topik seputar program Makan Bergizi Gratis (MBG) datang dari gurunya, di mana seluruh proses penggarapan film tersebut berhasil dituntaskan dalam kurun waktu dua minggu.

Di sisi lain, tim juri kategori film fiksi menilai bahwa deretan karya peserta pada kompetisi tahun ini memperlihatkan peningkatan yang amat positif, baik dari segi pengarahan sutradara, tata sinematografi, hingga kedalaman jalurnya cerita.

Wasis Wardhana, salah satu juri kategori Film Fiksi Pendek, menyampaikan apresiasinya terhadap aspek produktivitas, keberanian, serta kreativitas para peserta dalam berkarya.

“Selanjutnya dari segi penentuan isu, kami para juri sepakat memilih karya ini lantaran keberaniannya mengangkat persoalan relevan serta berupaya merefleksikan realitas kehidupan pelajar masa kini, khususnya dalam dua hal: dinamika keterlibatan mereka dengan media sosial serta hubungan relasi kuasa di lingkungan sekolah,” jelas Wasis.

Kategori Dokumenter

Sementara itu pada kelompok film dokumenter, juri memutuskan tidak menetapkan karya yang keluar sebagai pemenang utama atau film terbaik.

Kendati demikian, dewan juri mengganjar Penghargaan Khusus kepada film bertajuk “Tebasan” garapan Ukasyah Amar Alfarizy produksi SMK HKTI 1 Purwareja Klampok, Banjarnegara.

“Sektor dokumenter di sini memiliki keterkaitan erat dengan isu-isu teraktual, ditambah bagaimana para pembuatnya merangkai alur cerita serta menghadirkan bukti relevan dari narasumber. Setelah dipertimbangkan, juri sepakat tidak ada gelar terbaik, melainkan pilihan khusus juri yang jatuh pada ‘Tebasan’,” papar Rida Purnama Sari, salah satu anggota dewan juri dokumenter.

Pengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di Purwokerto ini turut mengapresiasi keberanian para siswa dalam memotret beragam dinamika sosial, kebudayaan, serta kondisi lingkungan sekitar lewat medium dokumenter.

Bukan hanya piala utama, Festival Film Purbalingga juga menyerahkan piala Film Favorit Penonton serta Penghargaan Lintang Kemukus, sebagai bentuk apresiasi bagi perorangan maupun wadah komunitas yang konsisten menyumbang kontribusi bagi kemajuan seni budaya dan perfilman di kawasan Banyumas Raya.

Untuk kategori Film Fiksi Favorit Penonton berhasil dimenangkan oleh film “Judol” karya Virgia Monicka produksi Broadcasting Smega SMK Negeri 1 Purbalingga.

Adapun gelar Film Dokumenter Favorit Penonton disabet oleh “Air Mata” besutan sutradara Devina Restianti produksi PB Creative Works SMK Panca Bhakti Banjarnegara.

Mengenai Penghargaan Lintang Kemukus, selain ditujukan bagi praktisi seni tradisi maupun modern yang berdedikasi tinggi, penghargaan tahun ini dianugerahkan kepada Almarhum Sujono (sosok perupa asal Purbalingga yang merancang lambang Kabupaten Purbalingga) serta Afrizal Fadil Azizi (seorang empu keris asal Banyumas).

Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Irini Dewi Wanti, menilai bahwa FFP merupakan gambaran nyata dari ekosistem sinema daerah yang sukses menjalankan wadah pembinaan secara berkesinambungan.

“Saya mencermati perjalanan FFP yang telah menginjak usia dua dekade ini sebagai bentuk konsistensi nyata dalam menghidupkan ekosistem perfilman nasional. Sebab selain melahirkan banyak karya kreator dari kawasan Banyumas Raya, FFP juga memperlihatkan proses regenerasi sineas yang berjalan lewat kemunculan talenta-talenta muda dari bangku sekolah,” jelas Irini.

Sebagai informasi, FFP 2026 diorganisasi oleh CLC Purbalingga berkolaborasi dengan Sangkanparan Cilacap serta Art Film Banjarnegara yang semuanya berhimpun dalam Jaringan Kerja Film Banyumas Raya (JKFB).

Penyelenggaraan FFP 2026 turut disokong oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya Bidang Film, Bioskop Misbar Purbalingga, serta Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Redaksi Temenan

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu seni. Kalau ada yang tersinggung, anggap aja efek samping membaca kebenaran dengan bumbu cabe rawit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *