Ketuk dan Gethuk Sanggar Kalamangsa di Bisik Serayu Festival 2026

Properti bambu serta gethuk yang dibawa para penari menambah keunikan pementasan, karena di akhir pementasan, gethuk itu dibagikan kepada penonton.

BANYUMAS. Sabtu, 28 Agustus 2026 panggung Rianto Dance Studio yang  berlokasi di pipir Sungai Serayu, menjadi saksi pementasan dari Sanggar Kalamangsa. Mereka membawakan karya tari berjudul Tari Gethuk. Tarian ini merupakan karya tradisi kreasi yang kaya makna. Komposisi geraknya menggambarkan kebersamaan serta keharmonisan masyarakat lokal Banyumas.

Penampilan mereka berada pada urutan ketiga dalam susunan acara. Seluruh penonton tampak sangat menikmati setiap babak gerakan tarian. Properti bambu serta gethuk yang dibawa para penari menambah keunikan pementasan, karena di akhir pementasan, gethuk itu dibagikan kepada penonton.

Gethuk yang dibagikan adalah gethuk goreng khas Sokaraja, Banyumas. Makanan olahan ketela pohon itu tidak hanya makanan yang menjadi buah tangan. Ia menjelma menjadi sebuah pendukung sebuah pentas tarian. Menjadikannya semakin kuat, sebagai kekayaan intelektual masyarakat Banyumas.

Sedangkan bambu adalah tanaman yang tumbuh dari bumi Banyumas. Sebuah kekayaan alam anugerah Tuhan yang tidak hanya untuk industri, namun untuk seni. Medium bambu sebagai sarana penyampaian perawatan ekologi dalam panggung tari.

Gerakan saling mengetuk bambu menciptakan irama unik yang harmonis. Nuansa budaya lokal terasa begitu hidup di atas panggung utama. Kehadiran Sanggar Kalamangsa sukses memberikan warna tersendiri bagi festival. Pertunjukan ini menjadi bukti keindahan pesona seni lokal yang berhasil menyatukan seluruh elemen pengunjung festival.

Di balik kesuksesan pementasan tersebut, hadir sosok penari bernama Vio. Usai tampil, Vio berbagi cerita mengenai proses panjang mereka. Vio merupakan salah satu anggota aktif dari Sanggar Kalamangsa. Saat ini ia masih berstatus sebagai pelajar kelas delapan SMP. Delapan rekan penari lainnya juga masih duduk di bangku SMP. Usia muda tidak membatasi semangat mereka dalam menari. Wajah lega dan bahagia tampak jelas dari seluruh anggota kelompok. Mereka merasa bangga dapat tampil maksimal di panggung festival.

Vio menceritakan bahwa tarian ini merupakan materi latihan di sanggar. Durasi asli tarian ini sebenarnya mencapai sembilan menit lebih. Namun tim sanggar harus memadatkannya khusus untuk panggung festival.

Durasi tarian dipangkas menjadi sekitar empat menit saja di panggung. Proses pemadatan durasi memerlukan penyesuaian koreografi yang cukup cermat. Pemangkasan durasi dilakukan tanpa mengurangi keindahan dan esensi tarian.

Setiap pesan budaya dalam tarian tetap tersampaikan dengan sempurna. Keterampilan para penari membuat transisi gerakan tetap terlihat alami. Penyesuaian ini menjadi bukti profesionalisme para penari muda tersebut. Hasilnya tarian tetap tampil padat, energik, dan sangat memikat.

Persiapan pementasan ini membutuhkan waktu latihan selama satu bulan. Proses latihan intensif dilakukan untuk mematangkan seluruh koreografi tarian. Menjaga konsistensi latihan tentu menjadi tantangan tersendiri bagi mereka. Seluruh penari harus pintar membagi waktu antara sekolah dan sanggar. Menyelaraskan jadwal latihan dengan tugas sekolah memerlukan kompromi besar.

Menjelang hari pementasan, jadwal latihan sanggar digeser ke malam hari. Latihan malam dilakukan agar tidak mengganggu jam belajar sekolah mereka. Namun mereka tetap harus menyelesaikan tugas-tugas sekolah tepat waktu. Dedikasi tinggi membuat mereka mampu melewati setiap hambatan latihan. Semangat membara mengalahkan rasa lelah selama proses persiapan panjang. Kedisiplinan tinggi menjadi kunci utama keberhasilan penampilan mereka.

Panggung Bisik Serayu Festival 2026 memberikan pengalaman yang sangat berkesan. Vio mengaku ingin lebih aktif lagi mengikuti kegiatan seni. Rekan-rekannya pun merasakan antusiasme yang sama usai pementasan tersebut. Pengalaman ini makin menguatkan kecintaan mereka pada dunia tari.

Bisik Serayu Festival 2026 menjadi saksi regenerasi. Penampilan spektakuler Sanggar Kalamangsa akan selalu dikenang para penonton. Tradisi lokal akan terus lestari melintasi zaman yang terus berganti. Kebudayaan lokal Banyumas akan selalu bersinar terang sepanjang masa. (nun)

Ini adalah reportase yang tim jurnalis bilfest.id kerjakan melalui riset dan wawancara langsung kepada narasumber di lapangan. Isi yang dipublikasikan sudah melalui persetujuan narasumber dan penyeleggara Bisik Serayu Festival 2026.Tidak diperkenankan melakukan parafrase, pengambilan sebagian atau seluruhnya pada reportase ini. Mari kita jadikan kerja reportase untuk mendukung ekosistem event seni budaya di Banyumas.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Tim Redaksi

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu ujian kesabaran pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *