Bisik Serayu Festival kembali membuktikan daya magisnya malam itu. Nusantara selalu punya cara untuk merawat jiwanya sendiri.
BANYUMAS. Seorang penari berjalan mendekat ‘Manggala’ yang menjadi panggung utama malam itu (29/08). Dengan gemerincing gelang dan aroma dupa memecah hening malam. Diikuti oleh enam orang penari perempuan dengan pakaian khas Kalimantan. Sanggar Sanggita Kencana Budaya berhasil membius para penonton. Mata para penari menyorotkan ketegasan sekaligus keanggunan. Pesan penyembuhan seolah mengalir ke seluruh penjuru arena. Malam semakin larut, namun energi justru semakin memuncak. Penonton terpaku menatap setiap detail gerakan penari.
Datang jauh dari Jakarta Selatan untuk mencicipi sebuah panggung megah di Kabupaten Banyumas. Membawakan Tari Balian Dadas Bawo yang berakar dari tanah Kalimantan Tengah. Tarian yang menceritakan tentang ritual penyembuhan yang sakral. Seorang dukun perempuan dari suku Manyaan biasa memimpinnya. Kini, magis ritual itu dibawa ke atas panggung utama yang berada di pipir Sungai Serayu.

Tujuannya murni untuk memperkenalkan kekayaan tradisi Nusantara. Di bawah arahan Vita Valeska, enam penari ini tampil memukau. Keringat dan dedikasi mereka terbayar lunas malam ini. Lizana Syarlie Aini menjadi salah satu penampil utama. Ia mewakili rekan-rekannya menyampaikan pesan yang mendalam. Harapannya tertuju pada kelangsungan ajang bergengsi ini. “Semoga festival ini semakin sukses dan meriah,” ungkapnya. Ruang berekspresi seperti ini dinilai sangatlah penting.
Bisik Serayu Festival kembali membuktikan daya magisnya malam itu. Nusantara selalu punya cara untuk merawat jiwanya sendiri. Penonton dibawa terbang ke Sumatera oleh Bakul Budaya. Tari kreasi Manortor kemudian dibawakan oleh Bakul Budaya yang berasal dari Jakarta. Tujuh orang penari tampil penuh energi di atas panggung. Tarian dari tanah Sumatera ini sangat memeriahkan suasana.

Di akhir pertunjukan, mereka mengajak penonton ikut menari di atas panggung di tepi Sungai Serayu. Semua orang larut dalam kegembiraan ritme komunal tersebut. Batas antara penampil dan penonton seketika lebur seutuhnya. Malam di Festival Bisik Serayu 2026 semakin bergemuruh. Keberagaman budaya Indonesia benar-benar dirayakan malam ini. Senyum tulus kebahagiaan terpancar dari wajah para penari Manortor. Langkah kaki mereka serentak rapat mengikuti hentakan musik ceria. Kain ulos melambai indah seiring dengan setiap putaran badan. Udara dingin pinggir sungai tak lagi terasa menusuk kulit. Kehangatan sejati tercipta dari interaksi seniman dan warga lokal. Ini membuktikan bahwa seni mampu menyatukan banyak keragaman identitas.
Lanjut ke tanah Jawa dan Bali, oleh kakak beradik Gregorius Jonathan Hardianto & Francis El Nathan Hardianto. Sang kakak yang berusia empat belas tahun dan adiknya yang baru sepuluh tahun. Keduanya melangkah percaya diri ke atas panggung. Mereka membawakan tarian gabungan Jawa dan Bali. Dengan judul ‘Sound of Nusantara – Jawa Bali. Penampilan ini memukau penonton Bisik Serayu 2026. Mereka sudah empat kali unjuk gigi di Banyumas. Bagai line up tetap Bisik Serayu, malam ini menjadi kali ke 3 mereka tampil.
Alunan musik Jawa halus mengawali pertunjukan. Disusul oleh alunan musik Bali dengan ketukan yang lebih cepat. Persiapan mereka terbilang cukup singkat dan padat. Latihan hanya dilakukan selama satu minggu saja. Mereka membaginya ke dalam dua sesi latihan. Ruang tamu di rumah menjadi arena utama. Mereka memutar musik dan menyinkronkan setiap gerakan. Menyatukan ritme dengan gerak tubuh tidaklah mudah. Penyesuaian potongan nada sering kali harus dilakukan.

Dinamika kakak beradik ini sungguh sangat unik. Perbedaan pendapat tentu sering terjadi saat latihan. Jonatan seringkali menginginkan detail gerakan tertentu. Namun, El mengeksekusinya dengan gaya yang berbeda. Mereka tetap berdiskusi untuk mencari jalan tengah. Kompromi menjadi kunci kolaborasi tarian malam ini. Kakak beradik ini sukses menyingkirkan ego masing-masing.
Tarian ini bukan sekadar pamer kelenturan tubuh. Ada pesan inklusif yang ingin mereka sampaikan. Keberagaman budaya divisualisasikan lewat perpaduan memukau ini. Tradisi bisa dikreasikan tanpa harus kehilangan esensi. Gerak Jawa yang halus bertemu dinamika Bali. Semuanya melebur menjadi sebuah harmoni yang indah.
Bagi mereka, Banyumas selalu meninggalkan kesan mendalam. Mereka bisa bertemu banyak seniman di sini. Mas Rianto adalah salah satu tokoh panutan. Festival ini juga dihadiri banyak pengunjung mancanegara. Kehadiran teman dari Jepang menambah kebahagiaan mereka.
Acara ini sungguh menjadi ruang silaturahmi lintas negara. Para penampil tidak hanya dari Indonesia. Datang dari Singapura, Jepang hingga Perancis.

Dua kakak beradik ini menyimpan harapan besar untuk masa depan. Ia ingin festival tahun depan lebih terkoordinasi. Harapan ini tentu diamini oleh sang adik. Mereka berdua sangat ingin kembali ke Banyumas. Sebuah kata amin kompak menutup obrolan kami. Semangat muda mereka menjaga napas kesenian tradisi.(REG)
Ini adalah reportase yang tim jurnalis bilfest.id kerjakan melalui riset dan wawancara langsung kepada narasumber di lapangan. Isi yang dipublikasikan sudah melalui persetujuan narasumber dan penyeleggara Bisik Serayu Festival 2026.Tidak diperkenankan melakukan parafrase, pengambilan sebagian atau seluruhnya pada reportase ini. Mari kita jadikan kerja reportase untuk mendukung ekosistem event seni budaya di Banyumas.


