Bukan Cuma Sehari-Dua Hari: Hetero Fest 2026 Kembali Hadir Lebih Panjang dan Makin Rame

PURWOKERTO. Skena kreatif Banyumas Raya bakal kembali bergetar. Buat kamu yang rindu ruang kumpul yang seru, inklusif, dan penuh energi kreatif, Hetero Fest 2026 siap menyapa warga lokal pada Jumat hingga Minggu, 2–4 Oktober 2026 mendatang di Hetero Space Banyumas.

Festival tahunan ini bukan sekadar ajang kumpul-kumpul biasa. Hetero Fest digagas sebagai ruang kolaborasi terbuka tempat bertemunya para seniman, kreator digital, pelaku usaha lokal (UMKM), hingga puluhan komunitas anak muda dalam satu wadah yang menyenangkan.

Lebih Panjang, Durasi 3 Hari Bikin Susunan Acara Makin Longgar

Ada yang beda dan spesial di gelaran tahun ini. Jika pada Hetero Fest 2025 acara hanya berlangsung selama dua hari, tahun ini panitia menambah durasinya menjadi tiga hari penuh.

Perwakilan Tim Media Hetero Fest, Alifia Azizah, mengungkapkan bahwa penambahan durasi ini dilakukan agar atmosfer festival terasa lebih lega dan tidak terburu-buru.

“Tujuan utama Hetero Fest 2026 ini adalah upaya kami untuk menghadirkan ruang kolaborasi kreatif, mempertemukan berbagai komunitas, UMKM, seniman, hingga masyarakat umum secara inklusif. Tahun lalu kita dua hari, tahun ini kita buat tiga hari dengan penambahan beberapa sub-event. Harapannya, jadwal acaranya tidak sepadat tahun lalu dan sedikit lebih longgar,” ujar Alifia.

Tak tanggung-tanggung, sebanyak 20 komunitas dengan latar belakang yang sangat beragam ikut ambil bagian. Banyak di antaranya merupakan komunitas yang sudah sering menghidupkan dan beraktivitas di ruang Hetero Space.

Seni Menyatukan Banyak “Kepala” dan Kurasi UMKM

Mengumpulkan puluhan komunitas dalam satu ruang festival tentu punya tantangan tersendiri. Alifia menceritakan bahwa tantangan terbesar tim penyelenggara terletak pada proses menyatukan ide-ide dan kepala dari tiap-tiap komunitas.

“Tantangannya bagaimana kami menyatukan ide dari teman-teman komunitas dan mengatur jadwalnya supaya mereka bisa mengaktifkan kegiatannya masing-masing dalam tiga hari berturut-turut. Selain itu, tantangan lainnya ada di pemilihan UMKM. Walaupun kami sangat terbuka, tempat di Hetero Space kan ada batasnya, jadi kami harus menyeleksi UMKM yang mendaftar,” jelasnya.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa di luar gelaran Hetero Fest, pintu Hetero Space selalu terbuka lebar untuk merangkul komunitas dan UMKM lokal kapan saja.

Layar Kelas dan Sinema Lokal: Panggung “Premiere”Empat Film Kebanggaan Banyumas

Salah satu bukti nyata dari makin matangnya kualitas sub-event di Hetero Fest 2026 datang dari panggung pertunjukan film. Komunitas Layar Kelas mengambil peran penting dengan mengisi slot acara selama dua hari penuh, yaitu pada Sabtu malam (3 Oktober) dan Minggu malam (4 Oktober) di area Lapangan.

Asset Hetero Fest 2025

Inisiator Layar Kelas yang juga merupakan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), King Wiguna, mengungkapkan rasa antusiasnya terhadap perbedaan signifikan gelaran tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya.

“Pada pagelaran Hetero Fest 2026 ini menjadi Hetero Fest yang cukup berbeda dari tahun lalu karena Layar Kelas pada tahun ini akan mengisi dua hari di Hetero Fest,” tutur King Wiguna.

King menjelaskan bahwa perbedaan utama tidak hanya terletak pada durasi tampil, melainkan juga pada skala dan variasi film yang dibawa ke hadapan publik. Jika biasanya sesi penayangan hanya didominasi film pendek, kali ini Layar Kelas membawa gebrakan baru dengan menghadirkan film panjang.

“Untuk dari segi acaranya sih masih pemutaran dan diskusi, cuma menjadi spesial karena Layar Kelas tidak hanya membawa film pendek saja nanti untuk diputar, tapi juga ada film panjang. Dari JUDEG, sutradara Misya, Latief dan dari Rekam Film,” terang King.

Film berjudul “JUDEG” menjadi salah satu sorotan utama dalam Hetero Fest 2026. Film ini memiliki nilai sentimental dan historis yang sangat kuat bagi skena perfilman lokal Banyumas Raya.

“Film JUDEG ini menjadi spesial karena akan diputar perdana di pemutaran umum setelah sebelumnya premiere di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) tahun 2025. Film ini juga spesial karena digawangi oleh orang lokal ya, Banyumas dan Purbalingga. 100% diproduksi dan diperankan, dimainkan oleh orang-orang Banyumas dan Purbalingga. Tentu ini akan sangat menarik ya untuk kemudian nanti diputarkan di Hetero Fest,” tambah King dengan nada bangga.

Spesialnya lagi, sutradara film tersebut, Mbak Misya, hadir secara langsung di lokasi untuk terlibat dalam sesi diskusi hangat bersama para penonton usai pemutaran film di hari Sabtu malam.

Ternyata, kejutan dari Layar Kelas tidak berhenti sampai di situ. Pada hari kedua penayangan (Minggu, 4 Oktober), Layar Kelas menyajikan tiga film karya generasi muda dari jenjang pendidikan yang berbeda. Film “Receh”, karya pelajar SMA Negeri 2 Purwokerto. “Bisu”, karya komunitas Ampumedia dari Universitas Amikom Purwokerto. Sedangkan “Urub”, karya tugas akhir mahasiswa Ilmu Komunikasi Unsoed.

King menekankan bahwa keempat film yang disajikan oleh Layar Kelas di Hetero Fest 2026 memiliki satu benang merah yang sangat istimewa: seluruhnya tayang perdana secara umum (public premiere).

“Tiga film ini juga spesial karena sama-sama baru pernah diputar perdana secara umum. Jadi praktis empat film yang dibawa Layar Kelas nanti semuanya tayang perdana secara umum. Di hari kedua juga akan diadakan diskusi oleh masing-masing sutradara dari ketiga film tersebut. Yang akan mendiskusikan garis besarnya adalah bagaimana film dari pelajar mulai dari SMA maupun mahasiswa tingkatan awal, hingga kemudian film itu digunakan sebagai karya tugas akhir di mahasiswa Ilmu Komunikasi Unsoed. Tentu ini punya benang merah yang cukup menarik untuk kemudian nanti dibahas bersama di sesi diskusi,” papar King secara rinci.

Melalui partisipasi aktif ini, King menyuarakan harapan besarnya bagi ekosistem sinema lokal di Banyumas.

“Harapannya sih di tahun ini tentu Layar Kelas akan semakin banyak menghadirkan film. Tentu saja harapannya juga mendatangkan makin banyak penonton karena bagian dari nilai Layar Kelas juga tujuannya untuk mengapresiasi. Tentu nilai apresiasi itu akan tercapai ketika film yang kami bawa akan didatangi oleh banyak orang dan ditonton oleh banyak orang. Selain itu juga harapannya Layar Kelas semakin dikenal sebagai komunitas yang melakukan kerja-kerja apresiatif, kerja-kerja literasi, dan kerja-kerja terkait eksibisi film lokal Banyumas,” pungkasnya.

Lebih dari Sekadar Gedung: Hetero Space dalam Pandangan Komunitas

Nadya Apriliana, founder dari platform edukasi publik Speak With Nad, membagikan pandangannya tentang makna keberadaan Hetero Space dan perhelatan Hetero Fest.

Asset Hetero Fest 2025

Bagi Nadya, Hetero Space tidak bisa dirumuskan secara sempit hanya sebagai sebuah wadah fisik atau gedung perkantoran berskala co-working space.

“Menurut aku, Hetero Space itu lebih dari sekadar tempat, tapi merupakan rumah bagi komunitas dan masyarakat yang ingin berkembang dan berekspresi,” tutur Nadya lembut.

Ia mengamati bagaimana tempat ini telah mengubah pola berinteraksi dan berkarya anak-anak muda Purwokerto dalam beberapa tahun terakhir.

“Kalau kita lihat, Hetero Space ini kan adalah sebuah working space yang menyediakan tempat yang nyaman, tempat yang enak untuk masyarakat menggali potensi diri mereka. Baik mereka yang mungkin bekerja di mana saja, WFA (Work From Anywhere), atau mereka yang mungkin pengin temu komunitas. Di situ tuh semuanya bisa,” puji Nadya.

Menghadapi momentum Hetero Fest 2026, di mana Speak With Nad turut mengisi agenda Workshop Public Speaking di hari Minggu pukul 09.00–11.00 WIB, Nadya menggantungkan harapan besar bagi masyarakat luas.

“Nah harapan aku, dengan adanya Hetero Fest ini, bisa merangkul lebih banyak masyarakat yang ingin berkembang tapi masih bingung nih harus ke mana atau mulai dari mana. Mereka bisa join di Hetero Fest, ketemu sama banyak komunitas, ketemu sama banyak UMKM, ketemu sama banyak orang-orang hebat di dalamnya, dan bikin masyarakat lebih percaya diri lagi untuk berekspresi dan berkreasi. Semangat buat Hetero Fest 2026, semoga memberikan lebih banyak manfaat dan juga memberikan lebih banyak ruang untuk masyarakat Purwokerto dan Banyumas sekitarnya,” ucap Nadya penuh optimisme.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Tim Redaksi

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu ujian kesabaran pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *