Melek Aksara Digital di Era Gen Z & Gen Alpha: Kalau Gratis, Berarti Kamulah Produknya

Katanya kita sudah hidup di era digital. Tapi jangan salah, melek aksara digital itu bukan sekadar bisa bikin akun TikTok, tahu filter Instagram paling estetik, atau jago cari “cara cepat kaya” di YouTube. Literasi digital itu soal pakai otak sebelum jempol bergerak. Nah, di sinilah budaya Gen Z dan Gen Alpha jadi menarik—kadang bikin salut, kadang bikin tepok jidat.

Gen Z: Jago Main Medsos, Belum Tentu Jago Bedain Fakta dan Hoaks

Generasi Z itu luar biasa. Bisa bikin tren viral dalam 24 jam, bisa ngatur feed Instagram kayak visual artist, bahkan bisa bikin thread panjang di Twitter (eh, X) lebih cepat daripada dosen ngasih tugas.

Masalahnya, banyak yang terlalu percaya Google, terlalu malas baca sampai habis, dan gampang kepancing judul clickbait. Ironisnya, mereka bisa bikin meme nyindir pemerintah, tapi kadang masih percaya kalau “bawang merah bisa sembuhin semua penyakit.”

Gen Alpha: Lahir dengan Tablet di Tangan, Tapi Jangan Sampai Jadi Generasi Auto-Scroll

Gen Alpha lebih gila lagi. Dari bayi udah bisa swipe screen, umur 7 tahun udah ngerti cara bikin channel YouTube, dan umur 10 tahun mungkin udah lebih paham algoritma TikTok daripada kita.

Tapi hati-hati, jangan sampai mereka cuma jadi generasi auto-scroll: nonton konten, ketawa, skip… lalu lupa. Kalau nggak dikasih bekal melek aksara digital, mereka bisa jadi “pintar gadget tapi kosong isi kepala.” Kasarnya, bisa bikin video viral tapi nggak ngerti kenapa penting baca berita sampai habis.

Literasi Digital Itu Bukan Sekadar Bisa Online

Kita sering salah kaprah. Melek digital bukan soal tahu cara bikin akun atau ikut tren, tapi tahu mana yang benar, mana yang sampah, dan kapan harus stop scroll biar nggak keblinger.

Gen Z dan Gen Alpha perlu belajar bahwa:

  • Tidak semua yang trending itu penting.
  • Tidak semua yang punya banyak follower itu pintar.
  • Tidak semua yang viral itu harus ditiru.

Kalau mereka gagal paham, ya siap-siap saja kita akan punya generasi yang pintar bikin konten, tapi gampang dikibulin iklan obat kuat atau teori konspirasi random di WhatsApp.

Kapitalisme Digital: Kita Semua Jadi Produk

Nah, di sinilah pentingnya melek aksara digital. Karena pada dasarnya, di dunia digital ini, kalau sesuatu gratis, berarti kamulah produknya. Gen Z dan Gen Alpha sering jadi target empuk industri:

  • Data mereka dijual ke pengiklan.
  • Atensi mereka dijadikan komoditas.
  • Hobi mereka diubah jadi tren konsumtif.

Tanpa literasi digital, generasi ini bisa dengan gampang terjebak dalam lingkaran: nonton → iklan → beli → nonton lagi. Sadar atau nggak, mereka sudah jadi pekerja sukarela bagi kapitalisme digital.

Antara Scroll, Klik, dan Mikir

Gen Z dan Gen Alpha memang lahir di tengah banjir digital. Tapi banjir ini bisa jadi sumber daya, bisa juga jadi tsunami yang menenggelamkan logika. Melek aksara digital adalah pelampungnya: bikin kita tetap waras di dunia maya yang kadang lebih penuh drama daripada sinetron.

Karena pada akhirnya, melek digital bukan soal bisa scroll dan klik, tapi soal bisa mikir sebelum percaya, bijak sebelum share, dan sadar bahwa algoritma bukan Tuhan. Perbanyak baca bilfest.id.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Redaksi Temenan

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu seni. Kalau ada yang tersinggung, anggap aja efek samping membaca kebenaran dengan bumbu cabe rawit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *