Kepedulian Sosial dalam Cerita Pendek “Wangon Jatilawang” Karya Ahmad Tohari

Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan manusia lain dan saling bergantung. Untuk itu, diperlukan adanya kepedulian sosial. 

Kemendiknas[1] menyebutkan bahwa peduli sosial adalah sikap dan tindakan yang selalu ingin membantu orang lain yang membutuhkan. Kepedulian sosial memiliki arti tindakan, tidak sebatas pemikiran dan perasaan.

Kepedulian sosial dapat diwujudkan ke dalam beragam bentuk, seperti memberi bantuan berupa sandang, pangan dan kesehatan, memberikan perhatian dan kasih sayang, atau membiayai Pendidikan.[2] Kepedulian ini bisa dilakukan baik secara individu maupun bersama-sama dalam kegiatan yang berkelanjutan, tanpa membedakan situasi suka atau duka.

Kepedulian sosial digambarkan dalam cerita pendek berjudul “Wangon Jatilawang” karya Ahmad Tohari. Cerita pendek ini mengisahkan tokoh “aku” yang mencoba untuk berbuat baik kepada semua orang termasuk kepada “Sulam”, laki-laki berkebutuhan khusus yang sering dipandang sebelah mata oleh para tetangga. 

Dalam cerita pendek “Wangon Jatilawang” kepedulian sosial digambarkan melalui sikap tokoh “aku” saat menerima “Sulam” sebagai tamunya. Tokoh “aku” bahkan menawarkan uang dan makanan untuk “Sulam”, di saat orang lain menatap “Sulam” dengan sebelah mata. 

“Sulam” merupakan seorang laki-laki yang digambarkan kerdil, berpakaian tidak pantas, dan memiliki keterbelakangan mental. “Sulam” selalu berjalan dari pasar Wangon menuju pasar Jatilawang, di tengah perjalanan, “Sulam” sering mengunjungi rumah tokoh “aku” jika hujan atau lapar. 

Bentuk kepedulian sosial yang tokoh “aku” lakukan adalah pemberian perhatian dan kasih sayang karena tokoh “aku” tetap menerima “Sulam” sebagai tamunya, bahkan sahabatnya, saat orang-orang menolak kehadiran “Sulam”. Hal ini dibuktikan melalui kutipan berikut;

Suatu hari, lepas magrib, Sulam datang. Kebetulan, aku sedang menyelenggarakan kenduri. Gerimis yang sejak lama turun, membuat Sulam basah kuyup. Aku merasa tak bisa berbuat lain kecuali menyilakan Sulam masuk, meski aku melihat tamuku jadi agak masam wajahnya. Setelah kutukar pakaiannya, Sulam kuajak menikmati kenduri. Dia kubawa ke tempat persis di sampingku. Orang-orang yang semula duduk di dekatku menjauh, menjauh. Dan kenduriku malam itu berakhir tanpa keakraban. Para tamu pulang hanya dengan ucapan basa basi. Wajah mereka jelas berbicara bahwa mereka merasa tersinggung karena Sulam kuajak duduk di antara mereka. Semuanya lebih jelas ketika aku beberapa minggu kemudian menyelenggarakan kenduri lagi. Ternyata hanya beberapa orang yang datang memenuhi undanganku.

Melalui kutipan tersebut, penulis menunjukkan kepedulian sosial dengan sikap tokoh “aku” yang mengajak “Sulam” masuk dan menikmati kenduri, meskipun tahu bahwa tamu lainnya mungkin tidak menyukai kehadiran “Sulam”. Penulis juga ingin menunjukkan konflik sosial yang terjadi akibat tindakan kepedulian tersebut, tamu-tamu merasa tersinggung dan menjauh, yang menunjukkan adanya norma sosial yang dilanggar.

Bentuk kepedulian sosial yang ingin disampaikan penulis juga ditunjukkan dalam kutipan berikut.

Dan aku mulai menyesal, mengapa tidak memenuhi permintaan Sulam akan baju dan celana yang layak. Mengapa aku khawatir tentang kebiasaan Sulam yang suka mengotori baju yang kuberikan, atau menukarnya begitu saja dengan sebungkus nasi rames di pasar Wangon. Maka sebenarnya aku tidak cukup mengerti tentang lelaki kerdil yang setiap hari menyusuri jalan raya antara Wangon dan Jatilawang itu. Dengan demikian, aku sungguh tidak layak mengaku sebagai sahabat Sulam.

Jam tujuh pagi hari itu juga penyesalanku menghunjam ke dasar hati. Seorang tukang becak sengaja datang ke rumahku.

“Pak, Sulam mati tergilas truk di batas kota Jatilawang!”

Melalui kutipan di atas penulis mengajak pembaca untuk tidak terlalu banyak memikirkan pertimbangan ketika ingin berbuat baik kepada orang lain. Pembaca diajak untuk merefleksikan tindakan mereka dalam berbuat baik kepada orang lain, dan mungkin merasa terdorong untuk lebih spontan dan tulus dalam menunjukkan kepedulian sosial.  

Kematian “Sulam” dalam cerpen ini menjadi titik balik yang menghujam ke dasar hati penulis melalui tokoh “aku”, menunjukkan bahwa kesempatan untuk berbuat baik tidak selalu ada dan bisa hilang kapan saja.

Cerita pendek “Wangon Jatilawang” karya Ahmad Tohari menampilkan nilai-nilai kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut diaktualisasikan melalui sikap tokoh “aku” terhadap “Sulam”, berupa perhatian dan kasih sayang, juga penyesalan. 

Sikap dan tindakan tokoh “aku” di dalam cerita pendek ini mengajak pembaca untuk menyadari pentingnya memiliki kepedulian sosial dan berbuat baik kepada sesama manusia.

Pesan yang terkandung dalam cerita pendek ini disampaikan secara tersurat. Tanpa perlu ditafsirkan, pembaca dapat menangkap nilai-nilai kepedulian sosial yang ada dalam cerita. 

Beberapa pembaca mungkin merasa bahwa cerpen ini terlalu didaktis atau menggurui dalam menyampaikan pesan moralnya. Namun demikian, hal tersebut tidak mengurangi relevansi pesan yang ingin disampaikan oleh penulis.


[1] Kurniawan, S. (2013). Pendidikan Karakter. Yogyakarta: AR-Ruzz Media.
[2] Wardhani, dkk. (1982). Kepedulian Ekonomi dan Sosial. Jakarta: Bulan Bintang.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Hasna Nur Azizah

Hasna Nur Azizah, lahir di Banyumas pada bulan April. Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta ini tinggal di Randengan, Wangon, Banyumas. Selain membaca dan menulis, Ia aktif sebagai staff UKM Bahasa Asing di UNY. Pernah menulis cerpen remaja "Prambanan in Love" dalam antologi To My First (terbit di Rasi Publisher). Bisa disapa melalui Ig @hsnrzz_.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *