Mahar Sang Legenda: Mengupas Tuntas Biaya Honda CB Klasik di Sibolga

Mahar Sang Legenda: Mengupas Tuntas Biaya Honda CB Klasik di SibolgaHonda CB Klasik

Mahar Sang Legenda: Mengupas Tuntas Biaya Honda CB Klasik di Sibolga

Woi, Sob! Gimana kabarnya? Dompet aman? Angan-angan buat punya motor klasik di garasi masih membara? Atau jangan-jangan udah padam gara-gara tiap buka Facebook Marketplace atau OLX, lihat harga Honda CB langsung bikin istighfar tiga kali sambil elus dada?

Kalau jawabanmu “iya” untuk pertanyaan terakhir, selamat datang di klub! Kita semua ada di perahu yang sama. Perahu yang lagi oleng diterjang ombak ekspektasi dan realita harga motor tua yang, jujur saja, kadang lebih nggak masuk akal daripada alur cerita sinetron azab.

Coba deh bayangin skenario ini. Kamu lagi santai scrolling-scrolling manja di media sosial, tiba-tiba lewat sesosok penampakan yang bikin jantung berdebar lebih kencang daripada pas pertama kali tatapan sama gebetan. Sebuah Honda CB 100 Gelatik, warnanya masih orisinil, catnya agak memudar manja dimakan usia, emblemnya masih nempel gagah, knalpotnya masih mengeluarkan suara “blarrr” yang merdu, bukan suara “cempreng” kayak kaleng Khong Guan dilempar. Di kolom caption tertulis kalimat sakti: “Kondisi siap touring, surat lengkap akur, nego tipis bensin.”

Wah, jiwa lelakimu langsung bergejolak. Hormon endorfin, testosteron, dan hormon “ini-gue-banget” serentak memuncak. Kamu udah ngebayangin diri sendiri pakai kemeja flanel, kacamata Ray-Ban, dan sepatu boots, melaju gagah di sore hari, jadi pusat perhatian seisi kota. Senyum para gadis seolah jadi bonus demografi tiap kali kamu lewat.

Dengan tangan sedikit gemetar karena antusias, kamu klik tombol “Chat Penjual”. Setelah basa-basi singkat “P, CB nya masih ada, Bang?”, kamu langsung ke pertanyaan inti: “Buka harga berapa, Bang?”.

Lalu notifikasi balasan muncul. Kamu buka dengan penuh harap. Dan… JRENG JRENG!

“25 juta, Bang. Nego tipis di tempat.”

Seketika itu juga, bayanganmu naik CB pakai kemeja flanel langsung berubah jadi bayangan cicilan panci yang belum lunas. Angan-angan melaju gagah di sore hari berganti jadi kenyataan pahit harus makan mi instan sampai akhir bulan. “Nego tipis bensin” yang dia maksud ternyata bensin buat pesawat jet, bukan buat Astrea Grand.

Inilah masalah universal para pencinta motor klasik, terutama Honda CB. Motor ini bukan lagi sekadar kendaraan. Ia telah berevolusi menjadi sebuah simbol, sebuah mahakarya berjalan, dan yang paling penting, sebuah instrumen investasi yang harganya ditentukan oleh faktor-faktor yang kadang lebih mistis daripada pesugihan. Tingkat orisinalitas (yang kadang cuma stikernya doang), sejarah motor (konon pernah dipakai mandor kebun sawit paling disegani), sampai ke mood si penjual pas kamu telepon—semua itu jadi variabel penentu harga.

Misteri Harga di Kota Ikan: Kenapa Harus Sibolga?

Nah, di tengah kegilaan harga di kota-kota besar, muncullah sebuah mitos, sebuah legenda urban yang beredar dari mulut ke mulut di tongkrongan para bikers. Mitos itu berbunyi: “Kalau mau cari CB bahan yang bagus dan murah, carilah ke daerah. Coba main-main ke Sibolga.”

Sibolga. Kota di pesisir barat Sumatera Utara yang terkenal dengan julukan Kota Ikan. Tempat di mana aroma laut dan bau ikan asin berpadu dengan deru mesin kapal nelayan. Logikanya sederhana: di daerah yang lebih “santai”, di mana motor lebih sering dipakai buat ke pasar atau ke ladang daripada buat sunmori (Sunday Morning Ride), harganya pasti lebih manusiawi, kan? Pasti masih banyak “harta karun” terpendam di garasi-garasi rumah panggung milik para nelayan atau petani, kan?

Eits, jangan senang dulu, Kawan. Justru di sinilah artikel ini menemukan relevansinya. Anggapan bahwa harga di daerah pasti lebih murah adalah jebakan Batman paling klise di dunia per-CB-an. Kenapa? Karena informasi sudah tanpa batas. Abang-abang di Sibolga pun sekarang sudah pintar main Facebook dan tahu kalau CB butut di garasinya itu, yang dulu mungkin cuma dipakai buat angkut jeriken, sekarang disebut sebagai “Mahar Sang Legenda” oleh anak-anak kota.

Maka, kita dihadapkan pada sebuah dilema baru. Apakah benar harga CB di Sibolga itu lebih murah? Atau jangan-jangan, mitos itu sengaja disebarkan oleh para calo licik yang siap menyambutmu dengan senyum ramah sambil menenteng kalkulator di tangan kanan dan kunci T di tangan kiri?

Membeli Honda CB klasik itu seperti meminang seorang gadis. Ada “uang panai” alias harga beli. Ada biaya “resepsi” alias restorasi. Dan ada “uang belanja bulanan” alias perawatan rutin yang kadang permintaannya lebih banyak dari pacar sendiri. Tangki minta yang ori, karburator minta Keihin PE 28 Sudco, kelistrikan minta di-upgrade biar nggak ngambek pas diajak jalan malam. Total-total, biayanya bisa setara DP rumah KPR.

Artikel ini tidak akan memberimu janji surga. Kami tidak akan bilang kamu bisa dapat CB kinclong seharga HP kentang. Tidak. Sebaliknya, kami akan jadi temanmu yang paling jujur dan sedikit sarkastik. Kami akan membongkar tuntas seluk-beluk perburuan Honda CB di Sibolga dan sekitarnya. Kita akan kupas habis:

  • Berapa harga pasaran riil untuk CB “bahan” (yang lebih mirip tumpukan besi tua) sampai yang “siap gas”?
  • Di mana “sarang-sarang” tersembunyi tempat para legenda ini bersemayam? Apakah di pasar loak, di kampung nelayan, atau di postingan grup Facebook “Jual Beli Sibolga Tapteng”?
  • Bagaimana cara membedakan antara penjual jujur yang memang merawat motornya dengan “makelar proyek” yang cuma poles sana-sini biar kelihatan bagus saat difoto?
  • Dan yang terpenting, berapa total “mahar” yang harus kamu siapkan dari awal sampai akhir, termasuk biaya restorasi, balik nama, dan tentu saja… biaya untuk menenangkan hati pasangan yang melihatmu lebih sering mengelus tangki motor daripada tangannya?

Jadi, siapkan kopimu, longgarkan sedikit ikat pinggangmu, dan kosongkan pikiranmu dari harga-harga gila yang kamu lihat di internet. Kita akan menyelam lebih dalam dari para penyelam mutiara di Teluk Tapian Nauli untuk mengungkap kebenaran di balik Mahar Sang Legenda. Siap? Mari kita mulai petualangan ini!

Bongkar Rahasia Harga: Faktor Penentu Mahar si Legenda

Sebelum kita ngomongin angka, kita harus paham dulu kenapa harga CB itu ‘gelap’ alias bervariasi banget. Beli CB itu beda sama beli motor baru dari dealer yang harganya pasti. Beli motor klasik itu kayak adopsi karya seni. Ada cerita, ada sejarah, dan pastinya, ada kondisi. Ini dia faktor-faktor krusial yang bikin harga CB bisa beda jauh.

  • Kondisi Mesin: Jantung si CB Wajib Sehat!

    Ini faktor nomor satu. Mesin adalah nyawa dari sebuah motor. Kamu mungkin bisa mentolerir cat yang sedikit kusam, tapi mesin yang bermasalah itu mimpi buruk. Mesin yang ‘sehat walafiat’ itu ciri-cirinya suaranya halus (untuk ukuran CB, ya!), langsamnya stabil, kering (nggak ada oli rembes), dan pastinya tarikannya masih responsif. Mesin yang sudah ‘batuk-batuk’, ngebul putih, atau suaranya kasar banget, sudah pasti harganya bakal anjlok. Itu pertanda kamu harus siapin dana ekstra buat ‘jajan’ turun mesin. Beda jutaan rupiah itu wajar banget antara mesin sehat dan mesin ‘masuk angin’.

  • Orisinalitas Part: The ‘Ori’ is King!

    Bagi para puritan dan kolektor, keaslian adalah segalanya. Semakin banyak komponen orisinal bawaan pabrik yang menempel di motor, semakin tinggi nilainya. Coba perhatikan detailnya: tangki (apakah masih asli atau sudah gantian?), spakbor depan-belakang, lampu depan-belakang (terutama yang merk Stanley), speedometer, sampai emblem di tangki. Part-part ‘ori’ ini sekarang jadi barang langka dan harganya bisa bikin melongo. Contoh nyata? Teman saya dapat CB K2 dengan harga miring, tapi ternyata tangkinya sudah gantian punya GL. Niat mau restorasi, eh nyari tangki ori CB K2 doang harganya udah kayak mau beli motor bebek bekas. Boncos, kan?

  • Surat-Menyurat: Kunci Ketenangan di Jalan Raya

    Jangan pernah sepelekan urusan legalitas! Motor dengan surat lengkap (STNK + BPKB) dan nomor rangka serta nomor mesin yang ‘akur’ (sesuai dengan di surat) adalah harga mati. Motor seperti ini harganya paling stabil dan paling dicari. Ada juga istilah ‘STNK only’ atau ‘kawinan’, di mana STNK ada tapi BPKB tidak, atau nomornya tidak sesuai. Harganya pasti lebih murah, tapi risikonya juga ada. Yang paling parah adalah ‘bodong’ alias tanpa surat sama sekali. Harganya bisa murah banget, tapi siap-siap aja jantung dag-dig-dug setiap ketemu razia. Mending nabung dikit lagi deh buat yang aman sentosa, biar bisa nongkrong dengan tenang.

  • Tipe & Tahun Produksi: Nggak Semua CB Itu Sama, Bro!

    Honda CB itu punya banyak varian. Ada CB 100 (yang paling umum, dari K0 sampai K5), CB 125, CB Gelatik (yang ikonik dengan tangki rampingnya), sampai CB 200 Twin yang langka. Masing-masing punya basis penggemar dan tentunya, harga yang berbeda. CB Gelatik atau CB 100 K1/K2 yang masih orisinal, misalnya, harganya bisa jauh lebih tinggi daripada CB 100 K5 tahun lebih muda, sekalipun kondisinya sama-sama bagus. Jadi, kenali dulu tipe CB incaranmu!

  • Konsep Modifikasi: Seni atau ‘Korban’ Tren?

    Di dunia CB, modifikasi itu hal biasa. Ada aliran restorasi (mengembalikan ke kondisi asli pabrik), Japstyle, Cafe Racer, Bratstyle, hingga Chopper. Modifikasi yang digarap serius, dengan konsep matang, pengerjaan rapi, dan part-part berkualitas, justru bisa menaikkan harga motor. Tapi sebaliknya, modifikasi yang ‘nanggung’, asal potong rangka, dan kelihatan berantakan, malah bisa menurunkan nilainya karena calon pembeli berikutnya harus kerja ekstra untuk merapikannya. Jadi, kalau kamu lihat CB modif, nilailah kualitas modifikasinya, bukan cuma tampilannya yang sekilas keren.

Peta Harga CB di Sibolga: Dari yang ‘Bahan’ Sampai yang ‘Sultan’

Oke, sekarang kita masuk ke bagian yang paling ditunggu-tunggu: kisaran harga! Ingat ya, ini adalah estimasi kasar di wilayah Sibolga dan sekitarnya. Harga riil di lapangan bisa sedikit berbeda, tapi ini bisa jadi patokan awal buat kamu.

1. Kategori “Bahan” atau “Bangun dari Nol” (Kisaran: Rp 3 Juta – Rp 7 Juta)

Di rentang harga ini, kamu biasanya mendapatkan motor dalam kondisi ‘apa adanya’. Seringkali hanya berupa rangka, mesin (yang kondisinya untung-untungan), dan beberapa part body yang menempel. Surat-surat mungkin hanya STNK saja atau bahkan bodong. Kategori ini cocok buat kamu yang tangannya ‘gatel’, punya banyak waktu, kesabaran, dan tentunya dana cadangan untuk proses restorasi total. Anggap saja ini tiket masuk ke dunia per-CB-an.

2. Kategori “Siap Nongkrong” (Kisaran: Rp 8 Juta – Rp 15 Juta)

Ini adalah kategori paling ‘aman’ dan paling banyak dicari. Di harga ini, kamu sudah bisa dapat CB yang hidup, jalan, dan siap diajak ngopi ganteng. Surat-surat biasanya sudah lengkap dan akur. Tampilannya sudah rapi, catnya lumayan, meskipun mungkin ada beberapa part yang tidak orisinal atau modifikasi ringan. Istilahnya, motor ini ‘tinggal pakai’ sambil pelan-pelan dirapikan atau di-upgrade sesuai selera. PR kecil-kecil pasti ada, tapi nggak akan bikin kantong jebol seketika.

3. Kategori “Restorasi Rapi & Ganteng Maksimal” (Kisaran: Rp 16 Juta – Rp 25 Juta)

Masuk ke level ini, kita bicara soal motor yang sudah ‘jadi’. Biasanya ini adalah hasil restorasi yang detail, cat mulus kinclong, part-partnya banyak yang ori atau part custom berkualitas tinggi. Mesinnya dijamin sehat dan kering, kelistrikan normal, semua berfungsi. Motor di kategori ini siap jadi pusat perhatian di jalan dan nggak bikin malu kalau diajak ikut kontes kelas pemula. Cocok buat kamu yang nggak mau pusing, punya budget lebih, dan pengen langsung merasakan nikmatnya punya CB istimewa.

4. Kategori “Spek Sultan” (Kisaran: Rp 25 Juta ke Atas)

Ini adalah level kolektor. Harganya seringkali ‘gelap’ alias suka-suka yang punya. Motor di kategori ini biasanya adalah tipe langka (seperti CB Gelatik K1 atau CB Twin orisinal), restorasi dengan part ‘New Old Stock’ (NOS) yang super langka, atau motor yang sudah sering menang kontes bergengsi. Ini bukan lagi sekadar alat transportasi, tapi sudah menjadi sebuah investasi dan karya seni. Kalau budgetmu tak terbatas, silakan berburu di level ini!

Tips Jitu Nego Biar Gak Kena ‘Goreng’

Sudah dapat gambaran harga? Eits, jangan langsung transfer. Seni membeli motor bekas adalah negosiasi. Ini dia beberapa triknya:

  • Lakukan Riset: Sebelum ketemu penjual, cek harga pasaran di grup-grup Facebook (misal: Jual Beli CB Sumut) atau marketplace. Biar kamu punya perbandingan.
  • Ajak ‘Pawang’ CB: Kalau kamu masih awam, ajak teman atau mekanik yang lebih paham seluk-beluk CB. Dua pasang mata (apalagi yang ahli) lebih baik daripada satu.
  • Cek Fisik dengan Teliti: Jangan terbuai omongan manis penjual. Cek semuanya! Dari nomor rangka, kondisi mesin, kelistrikan, sampai detail-detail kecil. Temukan ‘minus’ motornya.
  • Jadikan ‘Minus’ sebagai Senjata: Saat nego, sampaikan kekurangan yang kamu temukan secara sopan. Misalnya, “Bang, ini motornya bagus, tapi kayaknya seal klepnya perlu diganti nih, masih ada sedikit ngebul. Boleh kurang lagi harganya buat biaya perbaikan?”
  • Jangan Baper: Tetap tenang dan jangan terbawa emosi ingin cepat-cepat punya. Kalau harga nggak masuk akal, tinggalkan. Masih banyak CB lain di luar sana.

Bukan Cuma Beli: Siapin Juga Budget ‘Jajan’ Rutinnya

Satu hal terakhir yang wajib kamu ingat: membeli CB hanyalah awal dari petualangan. Memelihara motor tua itu butuh cinta dan… dana. Sisihkan budget untuk ‘jajan’ rutinnya, seperti ganti oli, servis karburator, ganti busi, atau bahkan untuk upgrade penampilan biar makin kece.

Punya motor tua itu kayak punya peliharaan, teman-teman. Harus dirawat, dielus-elus, dan kadang diajak ‘jajan’ biar tetap sehat dan tampil prima. Tapi percayalah, semua usaha itu akan terbayar lunas dengan suara gemuruh mesinnya yang khas, pandangan kagum orang di jalan, dan rasa bangga yang tak ternilai harganya.

Jadi, sudah siap berburu legenda di jalanan Sibolga? Apapun pilihanmu, entah itu CB ‘bahan’ atau yang sudah ‘spek sultan’, yang terpenting adalah nikmati prosesnya. Selamat berburu, tetap hati-hati di jalan, dan rasakan nikmatnya setiap getaran mesin klasikmu!

Pesan Terakhir: Mahar Sebenarnya Bukan Soal Angka, Tapi Soal Cerita

Oke, teman-teman. Kita sudah sampai di penghujung perjalanan kita mengupas tuntas seluk-beluk per-CB-an di Kota Ikan, Sibolga. Dari mulai pusing lihat harga di marketplace yang kayak roller coaster, membedah faktor-faktor penentu harga dari kondisi mesin sampai keaslian emblem, hingga memetakan kategori CB dari yang “bahan” seharga HP kentang sampai “spek sultan” yang bisa ditukar sama kebun sawit. Kita semua sekarang setidaknya punya bekal yang lebih dari cukup. Kamu bukan lagi seorang pemula yang polos, yang gampang di-roasting sama penjual licik. Kamu sekarang adalah calon peminang yang cerdas, yang tahu apa yang dicari dan berapa harga yang pantas.

Mari kita rangkum intinya sekali lagi biar nempel di kepala. Pertama, harga CB itu relatif. Jangan pernah menelan mentah-mentah angka yang tertera. Harga itu ditentukan oleh kesehatan mesin, tingkat orisinalitas, kelengkapan surat, tipe langka, dan kualitas modifikasi. Kedua, kenali dirimu dan dompetmu. Apakah kamu seorang “builder” yang tangannya gatel pengen bangun dari nol (Kategori Bahan: 3-7 Juta), seorang yang realistis dan pengen langsung nongkrong (Kategori Siap Pakai: 8-15 Juta), atau seorang perfeksionis yang maunya langsung sempurna (Kategori Restorasi & Sultan: 16 Juta ke atas)? Nggak ada yang salah, semua tergantung selera dan kesiapan. Ketiga, negosiasi adalah seni. Ajak ‘pawang’, cek setiap detail, dan jadikan setiap ‘minus’ sebagai amunisi untuk menawar dengan sopan.

Namun, di atas semua itu, ada satu kebenaran yang lebih dalam dari Teluk Tapian Nauli itu sendiri. Membeli Honda CB klasik itu bukan sekadar transaksi. Ini bukan seperti kamu beli smartphone terbaru, yang tahun depan sudah ketinggalan zaman. Meminang sebuah CB adalah sebuah komitmen. Sebuah janji suci antara kamu dan seonggok besi tua yang punya jiwa. Ini adalah awal dari sebuah babak baru dalam hidupmu, babak yang akan dipenuhi dengan oli, bensin, kunci pas, dan tentunya, cerita yang tak ternilai harganya.

Langkahmu Selanjutnya: Dari Pembaca Menjadi Pemburu Legenda

Jadi, apa yang harus kamu lakukan setelah menutup halaman artikel ini? Jangan langsung membabi buta buka OLX dan nge-chat semua penjual. Itu langkah yang gegabah. Santuy, Kawan. Tarik napas dalam-dalam. Inilah call-to-action yang sebenarnya, peta jalanmu untuk beberapa hari ke depan:

  1. Buat “Checklist Peminangan” Pribadimu. Ambil secarik kertas, atau buka aplikasi notes di HP-mu. Tulis dengan jujur.
    • Budget Maksimal Gue (realistis, ya!): Rp ____________ (Tulis angkanya, jangan cuma angan-angan). Ini termasuk harga motor plus dana darurat untuk ‘jajan’ pertama.
    • Tipe CB Impian Gue: Apakah CB 100 K2 yang simpel? CB Gelatik yang ikonik? Atau CB Twin biar kelihatan sangar? Riset fotonya, biar kamu punya gambaran jelas.
    • Level Kesiapan yang Gue Mau: Tim “Bangun dari Nol” (siap kotor-kotoran), Tim “Tinggal Gas” (ogah pusing), atau Tim “Sultan” (duit bukan masalah)?
  2. Aktifkan Mode ‘Stalker’ di Komunitas. Gabunglah dengan grup-grup Facebook seperti “Jual Beli CB Sibolga Tapteng”, “CB Sumut”, atau komunitas motor klasik lokal lainnya. Jangan langsung posting “Cari CB budget sekian”. Jangan! Cukup jadi pengamat dulu. Lihat bagaimana mereka berinteraksi, perhatikan siapa saja penjual yang punya reputasi baik, dan pelajari harga pasaran riil dari postingan-postingan yang ada. Ilmu di sana lebih berharga dari apapun.
  3. Tentukan ‘Pawang’ atau ‘Partner in Crime’ Kamu. Kita semua butuh teman. Entah itu teman yang memang jago mesin, atau sekadar teman yang bisa jadi rem saat kamu mulai ‘baper’ dan mau langsung transfer tanpa pikir panjang. Ajak dia ngopi, ceritakan rencanamu, dan minta bantuannya saat kamu nanti survei motor. Dua kepala selalu lebih baik dari satu.

Lakukan tiga langkah itu dulu. Ini adalah fondasi. Tanpa fondasi ini, kamu hanya akan jadi turis di dunia per-CB-an yang siap tersesat dan ‘boncos’. Dengan fondasi ini, kamu adalah seorang pemburu yang siap menaklukkan medannya.

Mahar yang Sebenarnya Adalah Pengalamanmu

Pada akhirnya, “Mahar Sang Legenda” yang kita bicarakan dari awal bukanlah soal berapa juta rupiah yang keluar dari rekeningmu. Itu hanya tiket masuk. Mahar yang sebenarnya, yang akan kamu bayar seumur hidup, adalah sesuatu yang jauh lebih berharga:

Mahar itu adalah kesabaranmu saat menunggu spare part langka yang dipesan dari kota lain. Mahar itu adalah malam-malam yang kamu habiskan di garasi, ditemani secangkir kopi dan lagu-lagu rock lawas, sambil mengelap setiap jengkal krom di motormu. Mahar itu adalah rasa frustrasi saat motormu mogok di tengah jalan—dan percayalah, itu PASTI akan terjadi—lalu tiba-tiba ada sesama pengendara CB lain yang berhenti dan tanpa ditanya langsung membantumu. Di situlah kamu sadar, kamu bukan cuma beli motor, kamu membeli sebuah keluarga.

Mahar itu adalah senyum bangga saat orang-orang di lampu merah menoleh dan mengacungkan jempol. Itu adalah kebahagiaan sederhana saat kamu berhasil menyetel karburator sendiri dan mendengar mesinnya kembali langsam dengan merdu. Itu adalah setiap kilometer yang kamu tempuh, setiap pemandangan indah di pesisir Sibolga yang kamu nikmati dari atas jok kulit tuamu, dan setiap cerita yang lahir dari perjalanan itu.

Jadi, jangan takut dengan harganya. Jangan gentar dengan ‘PR’-nya. Setiap motor punya ceritanya masing-masing, dan legenda CB-mu sedang menunggumu di luar sana untuk menulis babak barunya. Dia tidak mencari pemilik yang sempurna, dia hanya mencari kawan seperjalanan yang mau merawatnya dengan hati.

Selamat berburu, Kawan. Semoga kamu menemukan legendamu sendiri. Sampai jumpa di jalan, dan jangan lupa sapa dengan klakson khasmu saat kita berpapasan. Gas tipis-tipis, nikmati perjalanannya!


Nah, sekarang giliranmu. Setelah baca semua ini, kamu lebih condong ke tim mana nih: Tim “Sakit-sakit dahulu, ganteng kemudian” alias bangun dari bahan, atau Tim “Gue mau langsung touring besok pagi” alias cari yang sudah jadi? Coba share jawabanmu di kolom komentar, yuk kita diskusi!

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Redaksi Temenan

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu seni. Kalau ada yang tersinggung, anggap aja efek samping membaca kebenaran dengan bumbu cabe rawit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *