SS (30), tak pernah menyangka subuh itu sekitar pukul lima pagi, suara teriakan Ibu R memecah hening. Suaranya serak, penuh kepanikan, dan saya tahu ada sesuatu yang salah.
Ketika masuk ke rumahnya, RAA (18), tergantung di salah satu ruangan rumah. Selendang hijau bercorak menjerat lehernya, terikat pada kayu eternit setinggi hampir tiga meter.
Dengan tangan bergetar bersama ayahnya, Pak N, menurunkan jenazahnya. Ibu Rmenangis histeris sambil memanggil nama anaknya.
RAA adalah anak yang baik dan aktif bersekolah di SMA N 3 Purwokerto kelas 12. Sering terlihat latihan atau ikut kegiatan pecinta alam di sekolahnya. Teman-temannya bilang dia ceria, punya banyak sahabat, bukan tipe anak yang suka mencari masalah.
Tapi malam sebelumnya, Senin (11/8/2025), dia hanya masuk kamar seperti biasa. Tak ada yang curiga, tak ada tanda-tanda.
Setelah menurunkan jenazah kabar ini segera disampaikan ke Ketua RW, lalu ke Polsek Kedungbanteng. Yang masih menjadi pertanyaan bagaimana mungkin anak seceria itu memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri? Kadang, kita pikir kita mengenal seseorang. Tapi ternyata, ada luka yang tak pernah mereka ceritakan, bahkan pada orang yang paling dekat sekalipun.





