
BEDANA, Banjarnegara — Dentum tepuk tangan baru saja mereda di GOR Desa Bedana. Spanduk bertuliskan Launching Program Literasi “Laksana Aksara Bedana” masih tergantung rapi, sementara para peserta—dari perangkat desa hingga warga—perlahan bubar. Di sudut ruang, empat jurnalis remaja tak ikut hanyut dalam keramaian. Mereka justru baru memulai tugasnya.
Dengan kamera handphone yang terus menyala dan buku catatan yang penuh coretan, tim jurnalis muda Desa Bedana—Septiara Dwi Erisa (kameramen), Zhafira Haya Ramadhani (pewawancara), Naizza Abellya Rosyafa (notulen), dan Andari Riskita (fotografer)—menghampiri Arief Rahman, S.T., M.Si., Ka. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan yang hadir sebagai tamu kehormatan di acara ini.

Arief menyambut mereka dengan senyum lelah namun hangat. Program yang baru diluncurkan itu, katanya, hanyalah pintu masuk untuk membangkitkan kembali tradisi membaca di desa. “Membaca adalah tongkat awal kehidupan. Buku itu jendela dunia,” ujarnya. Ia mengingatkan bahwa teknologi bukan alasan untuk meninggalkan budaya baca. Justru, memahami isi bacaan—baik fisik maupun digital—adalah modal penting bagi masa depan masyarakat.
Di tengah suasana GOR yang mulai lengang, Arief menjelaskan bentuk kegiatan literasi yang ideal bagi remaja Bedana. Bacaan, katanya, harus dekat dengan lingkungan mereka. “Literasi bisa dari buku yang ada di sekitar. Kalau butuh tambahan, bisa pakai digital seperti Google, asal sesuai karakter dan kebutuhan mereka,” tutur Arief.
Namun agar program “Laksana Aksara Bedana” tidak hanya berhenti sebagai seremoni, ia menekankan pentingnya kolaborasi dan konsistensi. Perpustakaan Desa (Perpusdes) dalam konteks Desa Bedana terdapat Rumah Pintar perlu menjadi pusat gerak, dan komunitas seperti tim jurnalis remaja harus menjadi motor penghidupnya.
“Perpusdes itu wadah. Yang membuat hidup adalah penggeraknya,” tambahnya.
Wawancara penting ini, selepas acara itu justru memperlihatkan inti dari semangat literasi yang ingin dibangun di Bedana: keberanian untuk bertanya, mencatat, dan memahami. Di GOR yang baru saja menjadi saksi peluncuran program besar, empat remaja desa menunjukkan bahwa literasi bukan hanya ruang baca—melainkan ruang tumbuh.
Dengan program “Laksana Aksara Bedana” sebagai langkah awal dan jurnalis muda sebagai penyulut energi, masa depan literasi desa itu seperti mulai menemukan nadinya.
Program ini didukung oleh Dompet Dhuafa Jawa Tengah dan sebagai mentor literasi Alfuwisdom Publishing (Alvin Qodri Lazuardy), serta Pemerintah Desa Bedana sebagai wadah pelaksanaan pemberdayaan Masyarakat di Bidang Literasi .




