Usir Penat Arus Balik, Alunan Angklung Warga Lokal Hangatkan Suasana di Simpang Ajibarang

BANYUMAS – Di tengah kepungan kemacetan dan rintik gerimis yang membasahi aspal jalur utama Ajibarang, sebuah pemandangan berbeda tampak di sekitar Simpang 3 Pom Bensin Ajibarang, Minggu malam (23/03/2026). Di tengah deru mesin bus dan klakson kendaraan pribadi yang mengular menuju arah Jakarta, terdengar harmoni musik tradisional angklung yang saling bersahutan, memberikan sedikit ruang napas bagi para pemudik yang terjebak dalam kepadatan arus balik.

Kelompok pengamen dadakan ini bukanlah pemusik jalanan profesional. Mereka adalah warga sekitar yang merasa terpanggil untuk menghibur para pelintas. Salah satunya adalah Didi, seorang warga lokal yang sehari-harinya memiliki pekerjaan lain namun memilih turun ke jalan saat momen-momen tertentu seperti musim mudik dan balik lebaran.

“Kami sebenarnya punya pekerjaan masing-masing, ada yang tani, ada yang serabutan. Kami tidak rutin ngamen setiap hari. Hanya saja, melihat kemacetan yang luar biasa seperti sekarang, kami berinisiatif turun ke jalan untuk memanfaatkan momen sekaligus menghibur bapak-ibu pemudik agar tidak terlalu stres di jalan,” ujar Didi di sela-sela dentuman kendang dan gemerincing kecrek.

Aksi Didi dan kawan-kawannya ini terbukti efektif menjadi ‘obat lelah’ bagi para pengendara. Dengan bermodalkan angklung, kendang, drum modifikasi, dan kecrek, mereka membawakan lagu-lagu populer yang memancing senyum para pengemudi. Tak jarang, pemudik dari dalam mobil maupun pengendara roda dua memberikan apresiasi berupa uang saweran seikhlasnya sebagai bentuk terima kasih atas hiburan gratis di tengah kemacetan.

Suasana haru dan hangat tercipta saat beberapa pemudik tampak ikut berjoget kecil dari balik kemudi atau sekadar melambaikan tangan mengikuti irama musik. Meski cuaca sedang gerimis dan jalanan licin, semangat kelompok angklung ini tidak surut. Bagi mereka, selain mendapatkan penghasilan tambahan, ada kepuasan tersendiri ketika melihat wajah-wajah lelah pemudik bisa kembali ceria.

Kehadiran pengamen angklung tradisional ini seolah menjadi oase di jalur “neraka” Ajibarang yang malam ini didominasi oleh kendaraan besar dan bus antarkota. Di saat Tim Urai Polres Banyumas sibuk mengatur buka-tutup jalur, Didi dan rekan-rekannya mengambil peran dari sisi kemanusiaan—memastikan bahwa perjalanan panjang menuju ibu kota tidak hanya berisi tentang kelelahan, tetapi juga tentang keramahan warga lokal yang menyapa lewat nada.

Bagi para pemudik, khususnya pengendara roda dua, dihimbau untuk tetap waspada dan menjaga jarak aman saat menikmati hiburan ini. Tetaplah berada di lajur kiri agar tidak mengganggu arus lalu lintas yang sedang diatur oleh petugas di lapangan.

Share sekarang, pahala belakangan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *