Menantang Subordinasi Lewat Asap Kretek: Catatan Reportase Pementasan “Rara Ayu” karya Teater Proses

PURWOKERTO, temenan.bilfest.id — Gemuruh antusiasme penonton memadati Studio Teater Proses di Universitas Wijayakusuma (Unwiku) Purwokerto pada Sabtu, 25 Juli 2026. Teater Proses, sebagai salah satu kelompok teater mahasiswa yang aktif menggalang denyut kebudayaan lokal, kembali menggelar agenda panggung tahunan mereka yang paling ditunggu, yakni Pentas Produksi Ke-XIX. Pada kesempatan kali ini, naskah drama berjudul Rara Ayu karya Qoriyana Fistianingsih diangkat ke atas pentas di bawah arahan sutradara Mega dan asisten sutradara Risti. Pementasan yang disajikan dalam dua sesi pertunjukan ini menghadirkan perpaduan antara eksplorasi keaktoran yang total, kritik sosial terhadap dominasi patriarki, serta dekonstruksi narasi perempuan marjinal yang tidak sekadar tampil sebagai korban pasrah, melainkan entitas yang berdaya.

Gelar pertunjukan ini diproduksi oleh lini kepengurusan Teater Proses yang dipimpin oleh Tama selaku Pimpinan Produksi, Septi sebagai Sekretaris, dan Megan di posisi Bendahara. Kelancaran jalannya panggung tak lepas dari komando Desi sebagai Stage Manager, didampingi Bahrin pada tata cahaya, Haris pada penataan properti, serta Farida, Tia, dan Firiyal yang mengolah rias dan busana. Alunan latar musik ditata oleh Risti, sementara jajaran publikasi dan penyokong acara dikawal oleh Hakim, Yona, Farida, Rehan, Desi, dan Megan. Di atas panggung, deretan aktor yang meliputi Lio, Sefilla, Meida, Rifqi, Haris, Sidiq, Galih, Hakim, Septi, Desi, Rehan, dan Azka sukses menyedot perhatian ratusan penonton dari pelbagai kalangan, mulai dari pelajar teater tingkat SMA/SMK hingga kelompok mahasiswa senior dan alumni.

Bagi Teater Proses, Pentas Produksi bukanlah sekadar pergelaran rutin harian, melainkan sebuah hajatan besar tahunan di ruang lingkar teater kampus. Biasanya diselenggarakan pada rentang pertengahan tahun antara bulan Juni, Juli, hingga Agustus, Pentas Produksi menjadi ajang unjuk kekuatan estetik sekaligus program kerja puncak yang menandai gong penutup sebelum estafet kepengurusan berganti pada bulan September. Perjalanan menuju panggung Rara Ayu sendiri membentang dalam waktu yang panjang. Gagasan pentas telah berembuk sejak akhir tahun sebelumnya, diawali dengan mekanisme sayembara penulisan skrip internal dan kurasi ketat hingga terpilih naskah milik Qoriyana Fistianingsih. Setelah pengisian posisi sutradara dan penata teknis rampung, para pemain dan kru menggembleng diri dalam fase latihan intensif selama dua bulan terakhir untuk mematangkan seluruh detail pertunjukan.

Tingginya minat masyarakat teater lokal tecermin dari padatnya Studio Teater Proses hingga panitia harus membagi pementasan menjadi dua sesi. Sesi pertama pada pukul 15.00 WIB didominasi oleh riuh penonton usia muda dari jejaring teater sekolah jenjang SMA dan SMK yang hadir membawa spirit solidaritas tinggi. Sebanyak kurang lebih 150 penonton memadati sesi pembuka tersebut dengan antusiasme yang membuncah. Sementara itu, sesi kedua pada pukul 19.00 WIB menghadirkan atmosfer yang lebih tenang dan kontemplatif dengan kehadiran alumni serta mahasiswa senior. Meskipun sempat diwarnai sedikit penundaan waktu akibat penyesuaian dari sesi pertama serta keterbatasan pencahayaan di area luar kampus Unwiku, kesabaran penonton terbayar tuntas ketika penataan cahaya mulai menghidupkan panggung tepat pukul 20.15 WIB.

Secara sekilas, ide cerita Rara Ayu nampak mengadopsi formula melodrama sosial yang umum, yakni kisah seorang gadis desa yang bernasib nestapa akibat kecerobohan bapaknya hingga terjerat utang dan bermuara pada komodifikasi tubuh di ruang lokalisasi. Namun, naskah ini menyajikan kejutan cerita yang membalikkan ekspektasi. Kisah bermula dari Rara Ayu, seorang perempuan muda penenun kain yang kehidupannya berguncang tatkala sang bapak menghilang setelah terjerat utang besar kepada seorang Juragan tanah. Antek-antek sang Juragan datang menagih dan membawa kenyataan pahit bahwa Rara telah digadaikan oleh bapaknya sebagai jaminan utang yang secara kalkulasi mustahil dilunasi hanya dari hasil menenun.

Rara kemudian dibawa ke ruang marjinal atau kawasan lokalisasi. Namun alih-alih pasrah menjadi korban transaksi seksual, Rara justru menemukan cara perlawanan baru. Setelah diajari seni melinting dan mengisap tembakau oleh sesama wanita di lingkungan tersebut, Rara memutar modalnya untuk menjual rokok hasil lintingan dan hisapannya sendiri. Para lelaki hidung belang tidak membeli tubuhnya, melainkan membeli sensasi dari rokok yang telah tersentuh bibir Rara dengan aturan tegas bahwa rokok harus dihisap di tempat dan harganya semakin mahal seiring makin pendeknya puntung rokok. Lewat skema cerdik ini, Rara meraih kemandirian finansial dan sanggup melunasi seluruh beban utang bapaknya.

Keberhasilan Rara melunasi utang justru memantik krisis ego sang Juragan yang merasa harga dirinya tercoreng karena gagal menaklukkan Rara Ayu. Juragan tersebut berhasrat membawa Rara bukan sebagai tawanan yang kusam dan teraniaya, melainkan sebagai seorang Nyonya rumah yang bermartabat. Di sisi lain, resistensi Rara terhadap laki-laki mulai melunak saat ia bertemu dengan seorang pemuda pedagang kain yang hadir dengan rasa hormat tulus dan memanusiakan dirinya, hingga benih-benih cinta sejati tumbuh di antara keduanya.

Sialnya, hubungan asmara tersebut tercium oleh sang Juragan. Pemuda pedagang kain itu diculik, diikat, dan disembunyikan di dalam kamar tempat Juragan membuat perhitungan akhir dengan Rara. Demi menyelamatkan nyawa pria yang dicintainya, Rara terpaksa menurunkan egonya dan menyerahkan kehormatan tubuhnya untuk pertama kali. Pementasan menyajikan adegan intim tersebut secara berani namun tetap terkontrol melalui permainan pencahayaan kedap-kedip dan simbolisme kostum tanpa terjebak pada visualisasi vulgar. Setelah adegan usai, penutup kain dibuka dan memperlihatkan sang kekasih yang menyaksikan kejadian itu dalam keadaan terikat, sebelum akhirnya Juragan membunuh pemuda tersebut di depan mata Rara dan menyisakan duka yang mendalam.

Secara teknis pertunjukan, pementasan Rara Ayu menonjolkan efisiensi tata panggung yang minimalis, sehingga fokus perhatian penonton tertuju penuh pada intensitas akting para pemerannya. Panggung yang relatif kosong berhasil dihidupkan oleh emosi dan dinamika peran para aktor. Selain itu, pementasan ini menerapkan koreografi kekerasan yang aman, di mana adegan perkelahian dan aksi fisik dieksekusi menggunakan ketepatan waktu reaksi dan efek bunyi tanpa kontak kasar yang membahayakan pemain. Naskah ini pun sukses menyampaikan pesan filosofis bahwa seorang perempuan mampu menemukan ruang kedaulatan dan kecerdasannya sendiri di tengah himpitan struktur sosial yang menindas.

Pada akhirnya, Pentas Produksi Ke-XIX Teater Proses lewat pertunjukan Rara Ayu berhasil membuktikan konsistensi kelompok ini dalam menyajikan karya drama kampus yang bernas dan kaya akan wacana kebudayaan. Kolaborasi yang solid antara pengurus, tim artistik, dan jajaran pemain memberikan kado penutup yang manis sebelum bergulirnya masa demisioner kepengurusan. Asap kretek dari hisapan Rara Ayu di panggung Studio Teater Proses Unwiku tidak sekadar meninggalkan aroma tembakau, tetapi juga mewariskan jejak perlawanan estetik yang membekas di ingatan publik teater Purwokerto.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Redaksi Temenan

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu seni. Kalau ada yang tersinggung, anggap aja efek samping membaca kebenaran dengan bumbu cabe rawit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *