Dua Dekade FFP, Hanung Bramantyo Sebut Festival Ini Tempat Belajar Sineas Muda yang Paling Konsisten

PURBALINGGA, temenan.bilfest.id – Keberadaan Festival Film Purbalingga (FFP) yang kini genap berusia 20 tahun mendapat apresiasi tinggi dari sutradara kenamaan tanah air, Hanung Bramantyo. Ia menilai FFP sebagai salah satu wadah pembelajaran perfilman paling konsisten di Indonesia yang berhasil melahirkan talenta-talenta baru sekaligus mendekatkan seni film kepada publik.

Pernyataan tersebut disampaikan Hanung saat mengisi sesi dialog bertajuk “Membaca Karya-Karya Hanung Bramantyo” di Bioskop Misbar, Taman Kota Usman Janatin, Purbalingga, Rabu (29/7/2026). Diskusi ini menjadi bagian dari rangkaian Program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.

Menurut Hanung, keunikan FFP terletak pada sifatnya yang merakyat dan tidak eksklusif karena selalu berakar pada realitas kehidupan masyarakat.

“Festival Film Purbalingga adalah salah satu festival yang tetap konsisten menghadirkan kondisi masyarakat yang nyata. Bagaimana film hadir untuk masyarakat, dan masyarakat juga menjadi bagian dari film-film, itu terlihat sekali pada FFP. Jadi bukan yang eksklusif, tapi dia festival yang sangat merakyat,” tutur Hanung.

Sutradara senior ini menyoroti pentingnya FFP sebagai sarana belajar bagi generasi muda. Lewat festival ini, para sineas muda dapat berinteraksi langsung dengan para praktisi senior untuk mendalami proses kreatif, teknik produksi, hingga strategi distribusi dan pemasaran film. Keterbatasan fasilitas, tegasnya, jangan sampai menghambat semangat berkarya, melainkan justru menjadi pemicu untuk membangun jaringan dan memperluas wawasan.

Apresiasi senada turut disampaikan oleh Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif. Kehadiran FFP selama dua dekade, menurutnya, menjadi bukti nyata besarnya perhatian masyarakat setempat terhadap seni sinematografi serta penguat ekosistem industri kreatif di daerah.

“Saya sangat berterimakasih dan juga apresiasi untuk FFP ini karena sudah berjalan 2 dekade. Ini merupakan satu hal yang luar biasa karena bukti bahwa banyak sekali potensi dan juga perhatian dari warga Purbalingga terhadap perfilman di Kabupaten Purbalingga,” ungkap Fahmi.

Antusiasme tinggi juga dirasakan para peserta dialog dan masyarakat yang memadati Bioskop Misbar sejak siang hingga malam hari. Virgia Monicka, sutradara muda dari SMK Negeri 1 Purbalingga yang menggarap film “Judol”, mengaku mendapatkan banyak insight berharga mengenai proses kreatif penyutradaraan.

Rangkaian acara MTN Ikon Inspirasi sendiri berlangsung semarak. Agenda dimulai siang hari dengan pemutaran film “Satria Dewa: Gatotkaca”, dilanjutkan sesi diskusi bersama Hanung Bramantyo, dan ditutup pemutaran film “Gowok: Kamasutra Jawa” pada malam harinya.

Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi antara Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya dan Festival Film Purbalingga. Program ini berada di bawah naungan prioritas Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dalam rangka mengembangkan dan mempromosikan potensi seni budaya bangsa secara berkelanjutan.

Festival Film Purbalingga 2026 diselenggarakan oleh CLC Purbalingga bersama Sangkanparan Cilacap dan Art Film Banjarnegara yang terhimpun dalam Jaringan Kerja Film Banyumas Raya (JKFB). Pelaksanaannya turut didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan melalui MTN Seni Budaya, Bioskop Misbar Purbalingga, serta Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Tim Redaksi

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu ujian kesabaran pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *