Dalam beberapa tahun terakhir, layanan paylater telah menjadi pilihan populer di kalangan pengguna e-commerce. Meskipun terlihat praktis dan membantu, penggunaan layanan ini menyimpan risiko yang sering tidak disadari oleh masyarakat. Terutama bagi individu yang kurang disiplin dalam mengatur keuangan. Di era digital saat ini, kemudahan berbelanja menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda. Hanya dengan beberapa klik di aplikasi e-commerce, seseorang dapat memperoleh barang yang diinginkan tanpa pembayaran langsung.
Fitur paylater hadir sebagai solusi instan yang terlihat sangat membantu, terutama bagi mereka yang tidak memiliki cukup dana saat itu. Namun, kemudahan inilah yang sering kali menimbulkan kelalaian dan kurangnya pertimbangan terhadap konsekuensi kurang jangka panjang. Tanpa perencanaan keuangan yang matang dan sikap disiplin, paylater justru menjadi awal dari masalah finansial yang lebih serius. Dan berikut adalah alasan mengapa layanan ini tidak lagi direkomendasikan, khususnya bagi pengguna yang kurang disiplin:
Pertama, Bunga dan Biaya Tambahan yang Tinggi
Layanan paylater umumnya dikenai bunga, biaya layanan, atau denda keterlambatan yang signifikan. Jika pembayaran terlambat, jumlah bunga akan meningkat secara signifikan. Biaya tambahan ini sering kali terlihat kecil pada awalnya, sehingga banyak pengguna menganggapnya sepele. Namun secara keseluruhan, total pembayaran jauh melebihi harga barang. Hal ini diperburuk jika pengguna memiliki beberapa tagihan paylater secara bersamaan, yang membuat pengeluaran bulanan semakin berat. Denda yang terus bertambah akan membuat tagihan terasa menumpuk dan sulit dikendalikan, sehingga pengguna bisa terjebak dalam siklus hutang yang berulang.
Kedua, Mendorong Perilaku Konsumtif
Dengan adanya paylater (beli sekarang, bayar nanti), banyak orang membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan atau melebihi kemampuan finansial mereka, yang pada akhirnya saat waktu penagihan kesulitan untuk membayarnya. Paylater juga secara tidak langsung memicu perilaku impulsif, terutama bagi individu yang sulit menahan diri. Promo, diskon besar, dan flash sale sering kali menjebak, karena batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi semakin kabur. Barang yang sebenarnya tidak terlalu penting pun akhirnya dibeli hanya karena pembayaran dapat ditunda. Jika kebiasaan ini berlanjut, pengguna akan terbiasa hidup di luar kemampuan finansialnya, yang pada akhirnya menimbulkan masalah saat waktu pembayaran tiba.
Ketiga, Risiko Penurunan Skor Kredit
Perlu kita ketahui, penggunaan paylater terhubung dengan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) yang dikelola oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sistem ini mencatat data pinjaman bank, pinjaman fintech resmi, kartu kredit, dan juga paylater. Jika pembayaran terlambat, hal ini akan merusak skor kredit yang memengaruhi riwayat pinjaman. Faktor-faktor seperti keterlambatan pembayaran, jumlah hutang, atau tagihan yang belum diselesaikan akan dicatat dan berpengaruh saat mengajukan pinjaman bank atau fintech resmi. Skor kredit yang baik memudahkan akses pinjaman dengan bunga rendah dan limit lebih besar, sedangkan skor buruk dapat menyebabkan penolakan pengajuan kredit rumah, kendaraan, atau modal usaha.
Dampak jangka panjang ini sering kali tidak disadari, karena riwayat pembayaran paylater dicatat secara permanen dalam SLIK OJK. Memperbaiki skor kredit yang rusak bukanlah hal yang mudah, dan persetujuan pinjaman seringkali baru terasa setelah kerusakan terjadi. Meskipun demikian, paylater tidak selalu buruk dan tidak sepenuhnya harus dihindari. Bagi pengguna yang disiplin, teliti, dan memiliki perencanaan keuangan yang baik, layanan ini bisa dapat berfungsi sebagai alat bantu pembayaran yang bermanfaat.
Masalah utama muncul ketika layanan ini digunakan tanpa kendali dan kesadaran akan kemampuan finansial pribadi. Oleh karena itu, paylater bukanlah fitur yang cocok untuk semua orang, terutama bagi mereka yang cenderung menunda pembayaran dan sulit mengelola keuangan secara konsisten.
Fenomena ini ditemui di lingkungan sekitar secara langsung yang mana terdapat individu yang memanfaatkan layanan paylater guna memenuhi gaya hidup dengan membeli barang-barang non-esensial seperti gadget terbaru, kopi kekinian, pakaian branded dan juga jasa kecantikan. Dan itu semua dilakukan hanya untuk memenuhi ekspektasi seseorang terhadap dirinya, dan juga untuk mengikuti standar konsumsi yang sedang populer tanpa memikirkan bahwa kondisi keuangan tidak stabil. Itu terjadi karena pengguna hanya seorang mahasiswa yang meminta uang saku kepada kedua orang tuanya.
Pada awalnya pengguna paylater tidak berisiko karena hanya untuk percobaan. Namun, lambat laun pengguna merasa ketagihan karena dengan barang-barang tersebut, banyak teman sebayanya yang melontarkan afirmasi positif dan dorongan lingkungan sekitar yang memperkuat keputusan untuk menggunakan paylater. Dan ini membuat pengguna terlena akan pembayaran yang disertai dengan bunga dan juga denda yang terus bertambah. Sehingga penggunaan paylater dianggap wajar dan menjadi kebiasaan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa paylater tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran, tetapi juga mencerminkan pola konsumsi masyarakat yang cenderung impulsif. Kurangnya literasi keuangan membuat sebagian pengguna tidak menyadari bahwa kemudahan tersebut menyimpan konsekuensi serius, seperti tekanan finansial dan potensi masalah kredit di kemudian hari.
Secara keseluruhan, paylater menawarkan kemudahan, namun tidak selalu aman bagi pengguna yang kurang disiplin. Risiko besar seperti bunga tinggi, kecenderungan berperilaku konsumtif, dan penurunan skor kredit merupakan dampak nyata yang tidak boleh disepelekan.
Penggunaan paylater harus disikapi dengan bijak dan penuh pertimbangan matang, karena kemudahan yang ditawarkan seharusnya tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan tanggung jawab finansial.
Literasi keuangan menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam ilusi kemudahan yang berujung pada masalah. Dengan mengenali kemampuan diri, setiap individu dapat membuat keputusan finansial yang lebih bijak, sehingga paylater tidak menjadi beban, melainkan alat yang bermanfaat jika digunakan dengan hati-hati. Jadi sebelum memutuskan menggunakan paylater, mempertimbangkan lagi keyakinannya.





