Menurut saya, sebagai mahasiswa di salah satu kampus ternama di Purwokerto, hidup di semester pertama itu rasanya kayak naik angkot tanpa tahu rutenya. Kita naik dengan modal nekat, berharap sampai tujuan, tapi selama perjalanan cuma bisa mikir, “Saya ini lagi dibawa ke mana, ya?”
Makanya waktu liburan tiba, rasanya kayak nemu air es di tengah padang gurun. Setelah berbulan-bulan otak diperas, mata dipaksa melek sampai malam, dan Google Classroom berubah jadi aplikasi yang paling sering saya buka selain Instagram dan sosmed lainnya, akhirnya saya bisa duduk santai, minum es teh, dan ngomong ke diri sendiri, “Hebat ya… saya masih hidup.”
Rasanya aneh banget: bangga karena sudah bertahan, capek yang nggak usah ditanya, bingung hampir setiap hari, dan rasa pengen menyerah yang kadang muncul tanpa permisi. Ada mata kuliah yang bikin saya merasa paham dunia, tapi ada juga yang bikin saya duduk diam sambil bertanya-tanya, “Ini dosen ngomong bahasa manusia atau ini saya yang kurang tidur?”
Karena itu, ketika liburan tiba, rasanya seperti menemukan mata air di tengah padang pasir. Setelah berminggu-minggu menghadapi deadline yang datang seperti hujan deras, malam-malam begadang yang terasa tak ada ujungnya, serta tab Google Classroom yang otomatis lebih sering dibuka dibanding aplikasi hiburan mana pun, akhirnya saya bisa duduk tenang. Saya bisa menarik napas panjang dan berkata pada diri sendiri, “Wah… ternyata saya masih waras juga ya sampai sekarang.” Ada rasa lega, capek, sekaligus bangga yang bercampur jadi satu.
Drama Perkuliahan yang Nggak Pernah Disebutkan Kating
Kating bilang kuliah itu santai. Mungkin yang santai mereka, bukan saya. Yang saya alami adalah rutinitas dan hal-hal yang penuh plot twist dan drama kecil yang kalau diceritain bisa jadi satu buku novel.
Teman sekelas adalah pusat drama terbesar. Ada yang rajinnya bikin saya curiga dia punya lebih dari satu otak. Semua materi dicatat, semua tugas disiapkan, semua pertanyaan dosen dijawab. Ada juga teman yang kalau kelas pagi, entah kenapa selalu sulit ditemui. Namanya tercatat di absen, tapi kursinya sering kosong.
Dan tentu saja, ada spesies paling terkenal: teman kelompok yang menghilang tanpa jejak. Saya pernah satu kelompok dengan orang yang gercep banget kalau ngetik “siap!” di chat, tapi setelah itu hilang sampai hari presentasi. Ujung-ujungnya saya yang ngerjain banyak bagian, tapi tetap harus nulis nama semua anggota demi menjaga persatuan bangsa.
Dari situ saya sadar: drama ini bukan drama pribadi saya saja. Ini drama nasional mahasiswa baru.
Menemukan Diri di Tengah Kekacauan Jadwal Kuliah
Tapi lucunya, justru dari semua kekacauan itu saya mulai mengenal diri saya lebih dalam. Saya baru sadar bahwa ternyata saya bukan pejuang begadang yang kuat tanpa tidur. Saya bukan tipe yang bisa ngerjain tugas mepet deadline sambil santai. Saya butuh ruang tenang, butuh jadwal yang jelas, dan butuh waktu untuk mencerna materi pelan-pelan.
Liburan semester pertama jadi momen refleksi yang jujur. Setelah melewati kelas jam 7 pagi yang sering bikin saya lari-lari, presentasi mendadak yang bikin jantung loncat-loncat, dan tugas yang datang kayak gelombang tsunami, saya mulai ngerti batasan saya.
Saya juga belajar bahwa tidak apa-apa kalau saya nggak secepat orang lain. Tidak apa-apa kalau saya belum menemukan ritme yang sempurna. Yang penting, saya tetap jalan meski lambat yang penting tetap bergerak.
Liburan yang Jadi Pengingat Bahwa Hidup Nggak Perlu Terburu-Buru
Di masa liburan, saya sempat mikir, “Pernah nggak sih kalian merasa semua orang sudah punya arah hidup, sementara kalian masih berdiri di depan pintu yang bahkan belum kebuka?”
Semester pertama bikin saya merasa kayak itu. Semua orang terlihat punya tujuan, sementara saya masih mencoba memahami diri saya sendiri. Tapi liburan ini datang sebagai jeda yang lembut. Kayak ada suara yang bilang, “Tarik napas dulu. Hidup nggak harus cepat-cepat.”
Di situlah saya belajar bahwa lelah itu wajar. Bingung itu manusiawi. Dan mencari jati diri itu bukan proses instan kayak mie instan. Butuh waktu, butuh pengalaman, dan kadang butuh tersesat juga.
Saya mulai sadar bahwa perjalanan saya mungkin memang dimulai dari hal-hal kecil: teman yang ngeselin tapi bikin saya belajar sabar, kelas yang bikin ngantuk tapi melatih disiplin, jadwal kuliah yang acak tapi akhirnya nunjukin apa yang benar-benar penting buat saya.
Memulai Lagi dengan Kepala yang Lebih Enteng
Akhirnya, liburan semester pertama bukan hanya waktu istirahat, tetapi momen untuk merapikan isi kepala. Saya kembali ke kampus dengan langkah yang sedikit lebih mantap, pikiran yang lebih jernih, dan hati yang lebih siap menghadapi apapun yang menunggu.
Saya mungkin belum sepenuhnya menemukan ritme, belum sepenuhnya paham semua hal. Tapi saya tahu bahwa saya sedang bergerak ke arah yang benar.
Untuk mahasiswa baru lain yang merasa semester pertamanya berantakan, percayalah, kalian tidak sendirian. Terkadang, justru dari kekacauan itulah kita mulai menemukan arah hidup. Dari rasa lelah, kita belajar arti perjuangan. Dan dari semua ketidakteraturan itu, pelan-pelan kita menemukan jati diri.





